Demi Memutus Mata Rantai Penyebaran Covid-19, PT. JRBM Fokus Pemulihan, Berhenti Beroperasi

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Bolmong – PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) menghentikan semua aktivitasnya, termasuk menghentikan operasi pertambangannya. Hal ini menyusul kasus Covid-19 sejumlah karyawannya.

Informasi diperoleh, penghentian secara resmi telah dikeluarkan perusahaan pertambangan emas tersebut. Surat pemberitahuan pemberhentian operasi penambangan dari JRBM sudah dilaporkan kepada Pemerintah Provinsi/ Kota, Kabupaten dan Dinas Kesehatan Provinsi/ Kota dan Kabupaten.

GM JRBM Irwan Lupoyo dalam rilisnya mengungkap juga, bahwa sebagian besar dari karyawan JRBM yang melakukan isolasi mandiri di Hotel yang ditunjuk juga sudah negative dari virus Covid-19.

“Ini merupakan hal yang baik yang harus juga kita tebar agar para karyawan dan masyarakat pejuang Covid-19 yakin bahwa pasti sembuh dengan istirahat, minum obat sesuai anjuran dokter dan penanganan yang tepat,” kata Lupoyo.

Dalam rilis yang sama, Direktur Utama PT JRBM Edi menjelaskan terkait alasan mengapa JRBM harus menutup sementara kegiatan operasionalnya.

“Ini merupakan pilihan terbaik saat ini untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 semata-mata untuk melindungi karyawan dan segenap keluarga. Karyawan adalah aset yang paling berharga yang harus dilindungi. Meski dengan menghentikan kegiatan operasi harus kehilangan sejumlah potensi pendapatan, namun perusahaan lebih mengutamakan kesehatan dan keselamatan pekerja dan keluarga,” lanjut Edi.

Selama tidak ada aktivitas penambangan, perusahaan akan melakukan beberapa kegiatan pemulihan mulai dari penyemprotan disinfektan di beberapa lokasi seperti mess, kantor dan fasilitas lainnya.

Selain itu perusahaan juga akan tetap fokus merawat dan memperhatikan para pekerja yang saat ini sedang isolasi mandiri.

“Mereka akan secara rutin diperiksa dan dirawat dokter perusahaan, diperhatikan semua kebutuhannya. Kami berharap mereka segera sembuh dan bisa kembali bergabung bersama keluarganya,” tandas Edi.

Edi mengakui bahwa pandemi Covid-19 yang telah berlangsung lebih dari satu setengah tahun ini telah berdampak pada semua aspek kehidupan. Termasuk dalam kegiatan operasi pertambangan.

“Kita berharap agar pendemi ini bisa segera berakhir sehingga aktivitas operasional pertambangan berjalan normal. Pada akhirnya bisa memberi kontribusi bagi bangsa, masyakat dan juga pekerja,” pungkas Edi.

Langkah penghentian sementara operasional JRBM tersebut diapresiasi tokoh masyarakat Bolmong Kamran Muchtar Podomi. Menurutnya, langkah penghentian sementara operasional JRBM merupakan ikhtiar dan tingkat keseriusan tertinggi JRBM dalam memutus mata rantai penyebaran virus Corona.

“Masyarakat dan pemerintah wajib memberi apresiasi kepada JRBM dan mendukung upaya ini. Ini langkah yg mungkin tidak akan dilakukan oleh perusahan perusahan sebesar JRBM, karena sudah sangat terkait dgn biaya. Sebagai tokoh masyarakat dilingkar tambang, saya mengajak seluruh masyarakat untuk membantu dan mensupport langkah langkah JRBM itu,” kata Kamran.

Senada dikatakan Anggota DPRD Bolmong Zulhan Manggabarani, bahwa menghentikan operasional adalah langkah yang sangat serius dari JRBM untuk memutus mata rantai penyebaran virus.

Ia meyakini, dilakukan JRBM untuk kepentingan kemanusiaan. Katanya, sejak awal bulan April 2020 JRBM sudah menerapkan protokol kesehatan untuk seluruh karyawan nya dgn SOP yang sangat ketat. Bukan hanya 3 M tapi juga 3 T (testing, treasing, treatment). Tapi bagaimanapun ini adalah virus tetap saja ada yang terpapar.

“Yang terpenting bagi saya adalah kita harus memberi apresiasi yg setinggi tingginya sudah melakukan perlindungan terhadap karyawan. Yg terpenting juga semua pihak taat dgn prokes. Masyarakat taat dgn 5 M, dan pemerintah terus menerus melakukan testing, treasing dan treatment.” tegas Zulham.

Ia juga mengatakan tidak ada perusahaan maupun unit organisasi apapun yang melakukan hal yang sama dengan JRBM dalam penerapan prokes di lingkungan kerjanya.

Sementara itu, secara nasional trend penambahan kasus baru menunjukkan trend penurunan, namun terlihat ada peningkatan jumlah kasus baru di luar Pulau Jawa termasuk Propinsi Sulawesi Utara (Sulut). Pada, Sabtu (31/7) angka kasus baru di Sulawesi Utara sebanyak 708 kasus positif.

Sebanyak tiga daerah di Sulawesi Utara berada pada zona merah atau risiko tinggi Covid-19. Ketiga daerah tersebut yaitu Kota Manado, Bitung, dan Kabupaten Minahasa Utara. Sementara 10 daerah lainnya berada pada zona oranye dan zona kuning.

Satgas Covid-19 Sulawesi Utara mengimbau agar memperketat pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di wilayah desa/kelurahan, hingga di tingkat lingkungan sesuai dengan level dari assesment kasus Covid-19 suatu wilayah. Dia juga berharap, bagi kontak erat wajib melaksanakan karantina sambil menunggu keluarnya hasil tes PCR, atau segera melakukan pemeriksaan RDT antigen.

“Tetap ketat menaati protokol kesehatan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak lebih dari dua meter, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas, dan menghindari makan bersama,” imbau Mery.

 

Pewarta : Chandra/Tim

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *