Kembali Mengupas Sejarah. Madjlis Persaudaraan Aceh Seranto Lakukan Ziarah ke Makam Tjut Nyak Dien di Sumedang

  • Whatsapp

MITRAPOL.om, JAKARTA – Madjlis Persaudaraan Aceh yang bermarkas di Ciledug Tangerang Banten melakukan Ziarah ke makam Tjut Nyak Dien di Sumedang pada hari, Rabu (20/10/21) bersama rombongan

Kurang lebih 30 Jamaah Majlis Persaudaraan Aceh Seranto mengikuti Ziarah dimana tepatnya Bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, Kami para Jamaah Majlis melakukan Ziarah ke Sumedang di Makam Tjut Nyak Dien Pahlawan Asal Aceh ini banyak meninggalkan sejarah bagi kita dan anak cucu kita

Tarmizi selaku ketua madjlis pengajian mengatakan, Kedatangan kami beserta rombongan untuk berziarah ke makam Tcut Nyak Dien sudah menjadi bagian tradisi dari adat kami di Aceh,

“Mengingat mendalamnya makna kegiatan ini tidak lupa seluruh keluarga besar Persaudaraan Aceh Seranto mengingatkan kepada seluruh generasi penerus agar tetap ingat akan jasa para pahlawan. Jangan pernah lupa bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya,” ujar Tarmizi

Untuk mengenang sejarah ke pahlawan Tcut Nyak Dien, Madjlis Persaudaraan Aceh Seranto, mengambil hikmah atas jasa jasa beliau, di masa perjuangan perebutkan kemerdekaan indonesia dan untuk mengenang jasa para pejuang aceh, kususnya rakyat aceh.

TcutNyak Dien diketahui dimakamkan di kompleks pemakaman Gunung Puyuh, Desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan, terlihat potret makam Tcut Nyak Dien di Sumedang.

Tcut Nyak Dien diketahui dimakamkan di kompleks pemakaman Gunung Puyuh, Desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan, Sumedang

Dipusara makam Tcut Nyak Dien, terukir sajak jihad yang buat merinding. Berikut sajak jihad yang terukir di pusara makam Tcut Nyak Dien:

“Karena djihadmu perdjuangan,
Atjeh beroleh kemenangan,
Dari Belanda kembali ke tangan,
Rakjat sendiri kegirangan.

Itulah sebab sebagai kenangan,
Kami teringat terangan-angan,
Akan budiman pahlawan djundjungan,
Pahlawan wanita berdjiwa kajangan

Itulah sajak yang terukir di Makam Tcut Nyak Dien di Sumedang. Pahlawan asal Tanah Rencong itu sangat dihormati warga Sumedang, daerah tempat Tcut Nyak Dien diasingkan seusai ditangkap tentara Belanda,

Makam Tcut Nyak Dien terletak di kompleks pemakaman anggota keluarga milik Siti Khodijah, yang berjarak beberapa ratus meter arah selatan Kota Sumedang, Jawa Barat. Lokasi makam Cut Nyak Dien tepat bersebelahan dengan kompleks pemakaman keluarga Pangeran Sumedang di Kampung Gunung Puyuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan.

Tcut Nyak Dien sendiri merupakan seorang pahlawan nasional yang berasal dari Provinsi Nagroe Aceh Darussalam. Beliau bisa sampai di Sumedang karena diasingkan oleh penjajah Belanda. Setelah tertangkap pada tahun 1901, beliau dibawa ke Sumedang bersama dengan tahanan politik Aceh lainnya. Kedatangan beliau di Sumedang menarik perhatian bupati Sumedang, Pangeran Aria Soeria Atmadja. Karena beliau memiliki kefahaman agama Islam yang mendalam, beliau dijuluki “Ibu Perbu”. Selama di Sumedang beliau tinggal di sebuah rumah yang berada di belakang Masjid Agung Sumedang. Letaknya berada di daerah Kaum, Kelurahan Regol Wetan.

Pada tanggal 6 November 1908, Tcut Nyak Dhien meninggal dunia karena usianya yang sudah tua dan dimakamkan di kompleks pemakaman Dayeuh Luhur. Awalnya tidak seorangpun yang tahu bahwa beliau adalah Tcut Nyak Dien. Karena memang identitasnya yang dirahasiakan oleh penjajah Belanda. Begitu juga bentuk makamnya yang berbentuk kuburan biasa.

Baru pada tahun 1959 ketika Gubernur Aceh pada waktu itu, Ali Hasan melakukan pencarian berdasarkan data yang ditemukan di Belanda. Akhirnya ditemukan bahwa makam tersebut adalah makam Tcut Nyak Dien.

Dan saat ini bangunan makam Tcut Nyak Dien telah berubah. Setelah dipugar pada tahun 1987 Makam Tcut Nyak Dhien dikelilingi pagar besi yang ditanam bersama beton dengan luas 1.500 m2. Di belakang makam terdapat musholla dan di sebelah kiri makam terdapat banyak batu nissan yang dikatakan sebagai makam keluarga ulama H. Sanusi. Di batu nissan Tcut Nyak Dhien, tertulis riwayat hidupnya, tulisan bahasa Arab, Surah At-Taubah dan Al-Fajr, serta hikayat cerita Aceh.

Pewarta : Ijal/Yape

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *