Hakim Cecar Saksi Sudono, terkait Pencairan Kredit di BRI Kabanjahe

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Medan – Sidang lanjutan perkara dugaan korupsi BRI KCP Kabanjahe atas nama terdakawa James Tarigan dan Yoan Putra, Supervisor Penunjang Bisnis (SPB) dan Adminsitrasi Kredit (ADK) BRI Cabang Kabanjahe berlangsung “hangat”

Pasalnya, saksi yang dihadirkan jaksa dicecar pertanyaan “menyengat” dari Hakim anggota As’ad Rahim Lubis dalam sidang virtual di ruang Cakra-4 Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Medan, Senin (1/11/2021).

Hakim As’ad Rahim Lubis meminta kepada jaksa agar melakukan pengusutan, adanya dugaan keterlibatan Pimpinan Cabang (Pinca) BRI Kabanjahe.

Pernyataan itu disampaikan As’ad saat memeriksa saksi Sudono, selaku Pimpinan Cabang BRI Kabanjahe yang mengaku tidak mengetahui saat pencairan kredit yang berujung merugikan keuangan negara Rp 8 Miliar lebih.

“Saya minta Jaksa, membuka kembali kasus ini, usut lagi. masa Pinca ini bisa lepas dari tanggungjawab. Uang Rp.10 miliar keluar, dia tidak tau, tidak ada pengawasan “, tegas As,ad Rahim Lubis dengan suara tinggi.

Bahkan As’ad mengecam slogan BRI “Melayani Sepenuh Hati”. Menurutnya itu tidak sesuai fakta di lapangan.

” Saya tau kali, saya mengalami sendiri, gak ada itu melayani sepenuh hati, saya tau pinca ini sering ketemu nasabah di warung kopi, ” tudingnya.

Saksi Sudono yang merupakan Pimpinan Cabang BRI Kabanjahe tampak pucat, tertunduk tak mampu mengangkat kepalanya, mendengar tudingan hakim As’ad.

Dalam sidang ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan 6 orang saksi, termasuk Sudono selaku pimpinan cabang (Pinca) BRI Kabanjahe.

Tak kalah sengitnya, tim penasehat hukum terdakwa, Hartanta Sembiring SH SPn dan Viski Umar Hajir Nasution SH MH, mencecar pertanyaan ke saksi Sudono, namun saksi cenderung tidak begitu tahu banyak soal perkara tersebut.

Bahkan saat ditanya Hartanta Sembiring, terkait alur pencairan uang sampai ke nasabah, saksi terlihat kebingungan. “Bagaimana sebenarnya, terjadi penarikan uang itu sampai ke nasabah,” tanya Hartanta.

Menurut saksi, alur dari pencairan uang dilalui beberapa tahapan, mulai dari checker, maker hingga ke teller.

“Itu mulai checker, terus maker, lalu ke teller untuk dibawa proses penarikan. Harusnya yang menarik adalah nasabah. Namun, dari pernyataan dari beberapa teller itu, Yoan (terdakwa lain),” jelas saksi.

Hartanta merasa heran, dengan alur pencairan uang tersebut. Seharusnya, kata dia, orang yang menerima uang pencairan adalah nasabah.

“Kenapa dikasi, dia kan bukan nasabah?,” tanya Hartanta. Tetapi, menurut saksi, pengambilan uang itu sudah sepengetahuan nasabah.

Anehnya, kata Hartanta, transaksi pencairan uang ke nasabah yang diambil orang bank, bukan sekali saja terjadi, tetapi terus berulang. Ia juga mempertanyakan kenapa dalam dakwaan tidak ada penjelasan soal jam transaksi di Bank BRI.

Mendengar itu, JPU menyampaikan keberatannya kepada hakim dan memberikan bukti-bukti soal transaksi uang tersebut kepada saksi dan menunjukkannya kepada PH terdakwa.

Dari bukti itu, diketahui ada sejumlah transaksi uang yang nilainya bervariasi dari puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Dalam perkara ini, JPU mendakwa James Tarigan, dalam perkara korupsi senilai Rp8,1 miliar terkait pemberian fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) kepada para debitur/nasabah yang diduga fiktif.

Tim JPU dari Kejati Sumut Bambang Winanto dan Oktresia Sihite dalam dakwaan menguraikan, terdakwa James sejak tahun 2014 sampai bulan September 2017 sebagai SPB dan bawahannya langsung Yoan Putra (berkas terpisah) sebagai petugas Administrasi Kredit (AdK) dipercayakan mengurusi fasilitas KMK kepada debitur/nasabah yang memerlukan modal tambahan untuk usaha.

Terkait pencairan kredit di BRI KCP Kabanjahe, yang belakangan macet dan merugikan BRI sebesar Rp. 8.119.788.769. (ZH)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *