Bawa SKTM, Fatan akhirnya dirujuk ke RS Karyadi Semarang

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Brebes Jateng – Fatan Almaisan Zein harus menahan sakit selama hampir satu bulan karena uang koin yang bersarang di tenggorokan. Kondisi bocah berusia enam tahun di Kelurahan Pasarbatang, Brebes ini mulai mengundang empati dan simpati dari warga yang peduli.

Kemudian, Fatan dibawa ke RSUD Brebes untuk dilakukan tindakan medis berupa perawatan dan rontgen ulang. Hal itu dilakukan guna mengetahui posisi terakhir uang koin tersebut. Hasilnya uang koin tersebut masih bersarang di tenggorokan Fatan.

Sebelumnya, Fatan sudah tiga kali menjalani rontgen di tiga rumah sakit namun karena terkendala biaya, Fatan tidak dilakukan tindakan medis lebih lanjut.

Kini, bocah tersebut akan dirujuk ke RS Karyadi, Semarang, Kamis (4/11/2021) untuk proses pengambilan uang koin yang menyangkut di tenggorokan bocah semata wayang itu.

Berikut kisah lengkapnya!

Ibu Fatan, Ernawati (27) mengantarkan anaknya ke RSUD Brebes hanya untuk menjalani perawatan dan pemeriksaan di ruang radiologi untuk mengetahui letak uang koin di tenggorokannya.

“Saya sudah bawa Fatan ke RSUD Brebes, RS Bhakti Asih dan RS Gunung Jati. Tapi dokter menyatakan anak saya harus di rujuk ke RS Kariyadi Semarang. Karena RSUD yang sudah saya datangi ini tidak memiliki alat untuk mengambil koin logam di tenggorakan Fatan,” kata Ernawati saat ditemui sejumlah Wartawan di RSUD Brebes, Kamis (4/11/2021).

Erna sebelumnya mengaku bingung untuk merujuk anaknya ke RS Kariyadi Semarang. Lantaran, ia dan keluarganya tak memiliki biaya untuk operasi Fatan. Bahkan, hampir sebulan Fatan tak bisa memakan nasi. Ia hanya bisa menelan bubur tiga sendok sehari. Agar tak dehidrasi, orang tua Fatan pun memberikan air minum dan sesekali susu UHT atau susu cair.

“Badannya semakin hari semakin kurus. Awalnya beratnya 20 kg. Tapi sekarang sudah turun jadi 14 kg. Saya khawatir kondisi anak saya semakin memburuk jika tidak segera mendapatkan tindakan medis. Saya bingung mau bagaimana ini,” ungkapnya.

Anak semata wayang dari Ernawati (27) dan Sandi Novratama (29) ini akhairnya dirujuk ke RS Kariyadi Semarang setelah menerima berbagai bantuan dari sejumlah donatur.

Seorang warga yang peduli dengan kondisi bocah tersebut, Dedy Agustian menjelaskan, dengan membawa Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), Fatan akhirnya bisa menjalani tindakan medis di RS Kariyadi Semarang. Karena, keluarga kurang mampu ini datanya masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosiaal (DTKS), namun yang memiliki BPJS hanya sang ibu.

“Kalau secara logika harusnya, Fatan juga masuk sebagai peserta BPJS PBI. Karena yang dimaksud keluarga miskin ya satu kartu keluarga (KK), tidak sebagian KK atau yang dalam satu KK yang masuk dalam DTKS itu perorangan. Kalau misal ada yang seperti itu, bisa ditanyakan ke Dinas Sosial setempat sebagai pemilik datanya. Karena, kalau BPJS Kesehatan itu kan hanya penerima data saja,” ungkap Dedy saat menunjukan SKTM milik Fatan.

Sementara itu, salah satu dokter di RSUD Brebes, Jundi Azmi mengatakan, dari hasil pemeriksaan medis di RSUD Brebes, uang koin pecahan seribu rupiah masih menyangkut di tenggorokan Fatan. Menurut pemeriksaan dokter, ukuran uang koin tersebut terlalu besar, sehingga menyangkut di tenggorokan. Jika ukurannya lebih kecil, maka uang koin tersebut bisa keluar melalui saluran pencernaan saat bocah itu buang air besar.

“Posisi uang itu masih di tenggorokan. Tapi kalau ukuran koinnya lebih kecil mungkin bisa keluar lewat saluran pencernaan,” katanya.

Lurah Pasarbatang, Kusuma Edi saat mendampingi keluarga miskin ini di RSUD Brebes mengatakan, pihaknya baru mengetahui informasi tersebut tadi malam. Pihaknya pun langsung menangani bocah tersebut untuk dilarikan ke rumah sakit dengan SKTM.

“Keluarga ini karena tidak memiliki BPJS. Sehingga upaya yang kami lakukan ialah membuat Surat Keterangan Tidak Mampu,” katanya.

Kusuma Edi menjelaskan, pembuatan SKTM ini dilakukan lantaran yang bersangkutan sudah masuk dalam Daftar Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Pihaknya pun telah berupaya mengusulkan agar semua anggota keluarga kurang mampu ini bisa memiliki BPJS PBI. Sehingga mereka bisa lebih mudah mengakses layanan kesehatan.

“Kami usulkan yang bersangkutan agar bisa punya BPJS PBI. Karena yang bersangkutan memang sudah masuk di DTKS,” pungkasnya.

 

Pewarta : Mail

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *