Kuasai Lahan PT KAI, Terbukti Korupsi, Taufik Sitepu Divonis 6 tahun penjara

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Medan – Terbukti melakukan tindak pidana korupsi, secara tanpa hak menguasai dan mengelola lahan milik PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) di jalan Perintis Kemerdekan Simpang jalan Merak Jingga Medan, Taufik Sitepu SH (43) divonis 6 tahun penjara.

Selain itu, majelis hakim diketuai Syafrin Batubara juga menjatuhkan hukuman denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan dan dikenakan membayar uang pengganti (UP) kerugian negara Rp.982.517.417, subsider 2,5 tahun penjara.

Putusan itu disampaikan majelis hakim dalam sidang virtual di ruang Cakra-2 Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Medan, Kamis (11/11/2021),

Menurut majelis hakim, terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi, secara tanpa hak menguasai lahan milik PT KAI seluas 597 M2 yang terletakdi Jl. Perintis Kemerdekaan – Jalan Putri Merak Jingga, Medan.

Terdakwa, kata majelis hakim, terbukti melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara. Selain ada kerugian keuangan negara telah terjadi Opportunity Loss atau potensi hilangnya pendapatan PT. KAI sebesar Rp.982.517.417, ungkap majelis hakim

Putusan majelis jauh lebih ringan dibanding tuntutan Tim JPU Ingan Malem Purba dari Kejati Sumut yang menuntut terdakwa, 11 tahun penjara, denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan, dan diwajibkan membayar uang pengganti (UP) kerugian negara Rp 982. 517.417 subsider 5,5 tahun penjara.

Menanggapi putusan majelis hakim, JPU menyatakan pikir- pikir. Tim Penasehat Hukum (PH) terdakwa, Syukur Siregar dan Ahmad Fitra Jauhari juga menyatakan, pikir-pikir.

Mengutip dakwaan JPU, PT. KAI Divre I Sumut memiliki lahan seluas 597 M2 yang terletak di Jl. Perintis Kemerdekaan – Jalan Putri Merak Jingga, Medan.

Sejak tahun 1996, lahan tersebut disewa oleh M. Arifin Sitepu (orang tua terdakwa) dengan membuka usaha perbengkelan. Perjanjian sewa menyewa dibuat setiap tahunnya, hingga tahun 2003.

Desember 2001, M. Arifin Sitepu meninggal dunia. Lantas, lahan tersebut dikelola terdakwa Taufik Sitepu, selaku ahli waris, dengan melanjutkan usaha bengkel.

Perjanjian sewa menyewa M. Arifin Sitepu berakhir hingga 31 Mei 2003. Terhitung 1 Juli 2003 hingga 30 juni 2004 dengan harga sewa Rp 5,3 juta, lalu sewa menyewa lahan dilanjutkan hingga 30 Juni 2005.

Kemudian terdakwa kembali melakukan pembayaran sewa lahan selama 2 tahun, terhitung tanggal 1 Agustus 2005 s/d tanggal 31 Juli 2007, dengan biaya sewa tanah termasuk PPN 10% sebesar Rp.11 juta.

Kacaunya, terhitung 31 Juli 2007, terdakwa tidak mau memperpanjang sewa menyewa dan tidak mau membayar uang sewa lahan.

Alasannya, terdakwa telah memiliki bukti Surat Perjanjian dihadapan Notaris Nur Eny Ginting Nomor 64 tanggal 21 Pebruari 1998 dan terdakwa tetap menguasai lahan tersebut.

Laporan Akuntan Independen atas audit prosedur yang disepakati, selain ada kerugian keuangan negara telah terjadi Opportunity Loss atau potensi hilangnya pendapatan PT. KAI sebesar Rp.982.517.417. (ZH)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *