Berstatus DPO, BAP Oknum Notaris Fujiyanto dan Liem Soen Liong dibacakan JPU di Persidangan Perkara Akta Palsu 

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Medan Sumut – Oknum Notaris Fujiyanto Ngariawan dan Liem Soen Liong alias Edi, untuk sekian kalinya, mangkir dalam persidangan perkara  dugaan akta palsu atas nama terdakwa David Putra Negoro alias Lim Kwek Liong di ruang Cakra 6 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (16/11/2021)

Mangkirnya Fujiyanto dan Liem Soen Liong alias Edi, dikarenakan keduanya berstatus tersangka dan telah ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh Polrestabes Medan dalam perkara yang sama.

Kendati demikian, dengan pertimbangan saksi selalu mangkir, majelis hakim yang diketuai Dominggus Silaban mempersilahkan JPU Chandra Naibaho untuk membacakan keterangan Fujiyanto yang tertuang dalam BAP.

Berdasarkan BAP, Fujianto mengaku, akta nomor 8 tentang perjanjian kesepakatan tersebut dikonsep oleh terdakwa David Putra Negoro alias Lim Kwek Liong.

“Fujianto mengaku, akta nomor 8 tentang perjanjian kesepakatan tersebut dikonsep oleh terdakwa David Putra Negoro alias Lim Kwek Liong. Walaupun terjadi adanya perbedaan dalam salinan, Fujianto Ngariawan mengaku tidak mengetahui hal tersebut,” sebut JPU.

Selain itu, papar JPU, Fujianto juga menyebutkan, persoalan kejanggalan penomoran dan tanggal akta, dikarenakan kondisi rentang waktu menunggu surat kuasa dari tiga ahli waris saat itu belum hadir.

Selain keterangan saksi notaris Fujianto Ngariawan, keterangan saksi Ahli Kenotariatan, Dr Hendri Sinaga juga dibacakan JPU, sesuai kesepakatan majelis hakim dan kedua pihak berperkara.

Keterangan saksi ahli yang dibacakan JPU menjelaskan, sejumlah pelanggaran yang telah dilakukan notaris Fujianto dalam pembuatan akta kesepakatan perjanjian dalam perkara itu.

“Akta dibuat kantor notaris, l dibuat di rumah para pihak adalah pelanggaran, menurut Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN) dan Kode Etik,” sebut saksi ahli DR Hendri Sinaga yang dikutip JPU.

Selain itu saksi ahli juga menjelaskan beberapa poin pelanggaran dalam pembuatan akta yang dilakukan Fujianto Ngariawan. Beberapa diantaranya, enandatangan akta yang dilakukan secara tidak bersamaan merupakan pelanggaran.

“Kemudian, Notaris tidak memberikan salinan kepada ahli waris merupakan pelanggaran, Kepastian tanggal akta yang tidak jelas merupakan pelanggaran,” jelas JPU.

Sementara itu, pengacara korban, Longser Sihombing berharap agar perkara ini berjalan dengan seadil-adilnya. Dia mengatakan notaris Fujiyanto dan Liem Soen Liong yang merupakan DPO meminta agar pihak kepolisian segera menangkap kedua tersangka.

“Kita meminta kepada pihak kepolisian Polrestabes Medan agar segera menangkap DPO Fujiyanto dan Liem Soen Liong, tegasnya.

 

Pewarta : ZH

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *