Budaya dan Agama di Tatar Sunda Nusantara Harus selaras, tidak boleh Bertentangan

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Pandeglang – Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, di Pesantren Al Bantani Pandeglang Banten, sekaligus Padepokan Pusat Jalak Banten Nasional (PJBN) dibawah pimpinan Kasepuhan KH Tb. Sangdiyah MA. 27 November 2021

Dalam Acara Maulid tersebut Irjen pol (Purn) Dr H Anton Charliyan MPKN. Selaku Dewan Pembina PJBN Pusat. Memberikan Sambutan, khusus mengupas Kaitan Agama dengan Budaya, yang intinya sebagai berikut,

“Maulid Nabi merupakan moment untuk mengingatkan kita sebagai umat muslim akan keluhuran ahlak prilaku Nabi besar Muhammad SAW sebagai manusia Pilihan Allah SWT, yang merupakan panutan seluruh umat di alam raya ini. Karena membawa ajaran Agama Islam sebagai Agama Penyempurna dari agama agama sebelumnya,

Mulai dari Nabi Adam AS, sampai dengan Nabi Isa As. “Ajaran Islam membawa pesan untuk meluruskan kembali ketauhidan tentang Tuhan yang satu, Allah yang maha Esa dengan membangun Ahlaqul Karimah yang Rahmatan lil Alamin. Beliaulah satu-sataunya manusia, mulai dari bangun sampai tidur lagi, setiap gerak geriknya ditiru dan dijadikan contoh, jangankan tata cara beribadah, Berprilaku, Adab sopan santunya, bahkan mulai dari tata cara makan, minum mandi, jalan sampai posisi duduk dan tidurpun di tiru, sebagai suatu hal yang terbaik bagi umat manusia, yang lebih dikenal sebagai Sunah Rosul,

Mencermati ajaran Islam sebagai agama Tauhid, disandingkan dengan Budaya dan ajaran kasundaan ternyata sangat selaras. Karena Ageman Sunda khususnya yg ada pada Masyarakat adat Baduy Banten merupakan ajaran yang sama-sama menyembah Tuhan yang maha Esa yang dikenal sebagai Hyang Tunggal, sebagai Tuhan yang Satu, yang tidak berwujud, tidak berwarna, tidak berbau, tidak bersaudara dan tidak ada yang menyerupai.

Sebagai ajaran warisan Nabi Adam. “Hal ini sama persis dengan isi surat Al Ikhlas, yang menegaskan tentang ke Esa an Allah yang tidak mempunyai keturunan dan tidak menyerupai siapapun juga.

Masyarakat adat leluhur sunda mengakui dan mempunyai Nabi dalam menjalankan agamanya yakni Adam, bahkan nama agamanya pun mereka sebut sebagai Agama Adam atau lebih dikenal sebagai Agama Sunda Wiwitan, atau Slam Sunda, Nama yang hampir sama dengan Islam.

Jika suatu suku menganut sebuah ajaran atau ageman yang mengimami seorang Nabi Apalagi Nabi Adam sebagai salah satu Rosul Allah, bukankan itu agama Samawi ???, Namun keberadaan masyarakat adat belum apa-apa sering disalah artikan sebagai masyarakat yang Animisme, penyembah berhala dan roh leluhur,

Padahal Nenek moyang masyarakat sunda dari dahulu tidak pernah ada yang menyembah berhala apalagi yg menyembah Batu, sementara banyak ditemukan batu-batu Satangtung (batu berdiri setinggi manusia) di Kabuyutan (tempat yang dianggap suci), bukan untuk disembah melainkan berfungsi sebagai tanda, ciri bahwa disitu sebagai tempat Ibadah, atau untuk menentukan waktu melihat bayanganya dari cahaya Matahari.

Sebagaimana disampaikan oleh salah satu Puun Baduy, “Kami mah henteu pernah nyembah batu, kami juga sama dengan orang islam sembahyang tiap hari, isuk jeung peuting (pagi dan malam) tapi tidak berwudhu dan tidak 5X sehari seperti Islam, anu ku kami disembah Hyang tunggal, makana ibadah kami disebut Sembahyang nu hartina nyembah Sang Hyang, Tuhan yang maha Tunggal.

Sarua jeung umat Muhammad Nyembah Allah yang maha Esa, makana kami nyebut umat Muhammad sebagai dulur anyar (Saudara muda) karena Ageman kami Slam Sunda, ageman nu pangheulana, agama nu pang awalna ti Adam. Nu Sarua jeung ageman umat Muhammad nyembah Tuhan yang maha esa,

Diagama Islam aya Syahadat di kami ge sarua, geus aya Sahadat ti baheulana oge, nyaeta Syahadat Baduy, (kami juga sama sudah ada sahadat sejak dulu yaitu sahadat Baduy) sumpah ikrar diri, Saha Dzat anjeun, Saha Dzat anu kudu Disembah, (Siapa diri kita, dan Siapa yg harus kita Sembah)

Jika Agama Slam Sunda mengacu pada ajaran Nabi artinya agama Sunda sudah Samawi sejak dulu, sebagai Agama yang berdasarkan wahyu Illahi yang diturunkan kepada para Nabi nya.

Makanya ketika ajaran Islam masuk ke tatar sunda langsung diterima oleh masyarakat-masyarakat adat yang lain karena menganut ke Tauhidan yang sama, Tuhan yang maha Esa, buktinya seluruh masyarakat Adat yang ada di tatar Sunda semua menganut agama islam, “Mulai dari masyarakat Adat Kampung Naga Tasik, Kampung Dukuh Garut, Kampung Kuta Ciamis, Kampung Gelar Cianjur, Baduy Luar dan lain lain.

Kecuali Baduy Dalam, karena sebagai tutunggul ciri wanci pemegang amanah untuk tetap melestarikan agama Adam, yang bertugas untuk menjaga keseimbangan Alam.

Namun dalam memelihara dan menjalankan kesempurnaan Agama tersebut, sudah diamatkan dari para leluhur sebelumnya, sebagaimana ditulis juga dlm Naskah kuno Amanat Galunggung bahwa setiap. Agama apapun juga agamanya harus menghormati, selaras, bergandeng tangan, dengan adat tradisi Budaya leluhur yang ada di tempat tersebut, Ciri sabumi cara sadesa.

Maka dari itu kita sebagai Trah Sunda dalam arti kata Sunda Besar atau lebih di kenal sebagai trah etnik suku bangsa Nusantara harus bangga sebagai suku Sunda Nusantara yang sudah Samawi sejak awal,

Dan Alhamdulillah juga saat ini diberi karunia sebagai umat yang beragama Islam, sehingga seyogyanya orang Sunda/ Nusantara harus menjadi yang paling taat dalam beribadah, dan harus berprilaku lebih baik dari umat-umat Muslim yang ada di Negara lain. “karena sudah dari Awal menganut agama Samawi. Terlebih yang berada di kota Pandeglang ini, karena Budaya awal lahirnya sistem kerajaan di tatar Sunda di mulai dari Pandeglang dengan berdirinya Kerajaan Salaka Nagara dengan raja Pertamanya yang bernama Dewa Warman mantu Aki Tirem pada tahun 130 M. Sebagai Kerajaan modern pertama di Nusantara.

Hadir dalam acara tersebut Ketua DPD RI. H Rd La, Kemenpar, Kapolda, Kh Muhta Syeh Amer Al-Zailani cicit Syeh Abdul Kadir Zailani, Usta Opik Tombo Ati, Ustad Ubey dari Cimahi dan lain lain
Acara berlangsung Khidmat dan Meriah dibuka dengan Rampak Bedug dan Shalawatan.

Dalam Penutup Sambutanya Anton menegaskan, kita harus bangga bisa menjadi umat Muslim dan sekaligus sebagai suku trah Sunda Nusantara, yang sudah punya budaya dan Peradaban yang luhur sejak awal, dan lebih bangga lagi sebagai umat Islam,

“Islam adalah sebagai Agama penutup dan penyempurna yang dibawa Rosulullah, Nabi besar Muhammad SAW, yang Insya’Allah akan membawa Keselamatan dunia dan Akhirat. Amin yra

Red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.