Lantik Panglima Baranusa Pajajaran, Anton Charliyan beri Lima Pesan Rahasia

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Cirebon Jabar – Mantan Kapolda Jabar, Irjen Pol (Purn) Dr. Drs. Anton Charliyan MPKN yang sekarang lebih dikenal dengan sapaan Abah Anton selaku Majelis Dewan Pembina Baranusa (Barisan Raja Nusantara) Pajajaran Jawa Barat melaksanakan pelantikan para Panglima Baranusa Kabupaten dan kota se-Jawa Barat di Keraton Kanoman Cirebon. Sabtu (27/11/21).

Dalam prosesi pelantikan ini, Abah Anton memberikan Lima amanat khusus yang diambil dari naskah Lontar Amanat Galunggung dan Prasasti Kawali Astana Gede Ciamis.

Amanat tersebut disampaikan Abah Anton agar para Panglima Baranusa Kabupaten dan kota se-Jawa Barat dalam melaksanakan kepemimpinanya wajib mempedomani dan melaksanakan hal-hal sebagai berikut :

1. Perhatikan dengan sungguh-sungguh amanat Galunggung yang berbunyi,”Jaga ieu kabuyutan ulah tepi ka dikuasai ku asing, lamun Rajaputra teu bisa ngajaga ieu Kabuyutan, Rajaputra leuwih hina ti Batan Lasun/Bangke Nu aya di Jariyan.”

Yang artinya dalam Bahasa Indonesia, Jaga ini Kabuyutan, tempat suci , suatu wilayah kawasan tertentu, Tanah Air, jangan sampai dikuasai Orang Asing, jika kita putra putri sebagai pewarisnya tidak bisa menjaga dan mempertahankanya, lebih hina derajatnya dari seekor bangkai yang ada di tempat sampah.

Dari sini tersirat, bahwa dari Naskah sunda lah pertama kali lahir salah satu Konsepsi Nasionalisme dan Cinta Tanah air, sehingga dengan demikian berbicara tentang Nasionalisme dan Cinta Tanah air, manusia Sunda harus Berada di barisan yang paling depan, apabila ada manusia Sunda yang punya Iedologi lain dan ingin keluar dari Bingkai NKRI, Pancasila, UUD 45, dan Bhineka Tunggal ika, itu artinya penghianat dan bukan sebagai Manusia Sunda lagi.

2. Harus hormat kepada Orang Tua dan orang yang dituakan terutama kepada para pemimpin dan teramat khusus kepada para leluhur dan para pendahulu-pendahulu kita yang sudah mampu membangun peradaban Sunda Nusantara ini sangat luhur, karena ciri-ciri budaya yang pradabanya tinggi adalah sebuah budaya yang mampu menghormati para leluhurnya sebagaimana yang tersirat dalam amanat Galunggung berikut ini ; Hana nguni Hana Mangke tan hana nguni tan hana mangke, Hana Tunggak Hana catang tan Hana tunggak hana catang, mo aya ayeuna hanteu mo baheula, Hanteu mo ayeuna mo aya baheula.

Yang artinya, Tidak akan ada hari ini tanpa ada dahulu, makanya para anak cucu harus ingat kepada para pendahulu-pendahulu, leluhur-leluhur kita, karena tidak akan ada cabang tanpa Pohon, tidak akan ada ranting tanpa cabangnya, untuk itu kita wajib hormat dan taat kepada kedua orang tua, yang lebih tua dan yang dituakan serta para pimpinan kita di tingkat manapun, sebaga perwujudan hormat kepada leluhur.

3. Jaga kasampurnaan Agama tapi kade kudu tetep ngajenan, ngamumule ulah mopoheukeun tradisi adat budaya leluhur, kudu sarimbag silih ajenan.

Yang artinya, Jaga kesempurnaan agama, tapi tetap harus menghormati melestarikan budaya adat tradisi ajaran leluhur, harus seimbang saling mengisi saling hormati saling hargai, satu sama lain. Tidak boleh saling bertentangan, jadi dalam menjalankan syariat Agama, agama apapun harus selaras, bergandeng tangan dengan budaya tidak boleh saling bertentangan satu sama dengan yang lain.

4. Bangun kekuatan dengan kedamaian, bangun kekuatan dengan kerendahan hati, sebagaimana yang tersurat dalam Prasasti Kawali ;

Pakeun heubeul jaya di Buana, pake gawe Kreta bener, pake gawe Kreta rahayu, ulah botoh bisi kokoro, ulah batengah bisi kateker.

Yang artinya, jika ingin Jaya di Dunia, bangunlah kekuatan dengan kedamaian, bangunlah kekuatan dengan kerendahan hati, jangan serakah akan celaka, jangan sombong akan tersingkir.

Syarat mutlak agar suatu bangsa, satu Negara Kuat, harus mampu menciptakan dulu suasana damai, kalau sudah suasaba sudah damai aman dan tentram, baru Negara tersebut bisa melaksanakan program-program pembangunanya, karena tidak mugkin pembangunan dilaksanakan dalam suasana Rusuh, sehingga dengan demikian manusia Sunda adalah manusia-manusia yang cinta damai, Damai di Hati, Damai di Bumi, Damai Sa Nagari, hirup rukun sauyunan, penuh cinta kasih, untuk menciptakan masyarakat yang rahmatan lil Alamin, penuh rahman dan rahim silih asih, silih asah dan silih asuh.

Kemudian membangun kekuatan dengan kerendahan hati, dalam arti seseorang bisa kuat, bisa hebat bukan karena keunggulan phisiknya atau kekuatan materinya, tapi justru bisa menjadi kuat dan hebat itu karena akhlakul Karimahnya, karena perilakunya yang rendah hati, ramah, santun, respek , tahu diri, tahu etika dan tahu tata titi, tawadhu, tidak arogan dalam bersikap maupun bicara, itu lah ciri wanci manusia Sunda sehingga bisa diterima dimana-mana karena kesantunan, karena keramahanya, karena kerendahan hatinya, sehingga salah satu pantangan terbesar manusia sunda adalah, Besar Kepala dan bersikap sombong, (ulah Batengah, bisi Kateker), makanya kenapa Orang-orang Sunda senantiasa pakai “Iket Kepala”, itu sebagai “Pengingat”, untuk terus mengikat Kepalanya, agar Kepalanya tidak menjadi besar, karena yang gampang suka membesar itu Kepala, karena banyak manusia suka menjadi lupa diri kalau sudah kena penyakit “Besar Kepala”, makanya apabila ada Manusia Sunda yang suka petantang, petenteng, adigung adiguna, kepalanya jadi besar, itu bukan orang Sunda. Sekali lagi itu bukan orang Sunda, atau mungkin yangbersangkutan belum faham bagaimana seharusnya menjadi Ki Sunda anu Nyunda, Nyai Sunda anu Mibanda, bahkan lebih ditegaskan dalam ajaran Islam, tidak akan masuk Surga seseorang, bila masih nempunyai rasa, Iri dan Sombong dalam hatinya, walau hanya sebesar biji Zarah.

5. Selanjutnya jadilah Petapa yang Utama ; Ngan kudu inget yen tapa anu pang utamana mah lain tapa puasa di jero Guha, tapi nu panglobana tatapakanana, makana Prasasti-prasasti di tatar Sunda lambangna Dampal Suku.

Yang artinya, Jadilah sebagai Petapa yang utama, namun perlu diingat bahwa tapa yang utama itu adalah, bukanlah tapa berpuasa mengurung diri di dalam Guha, tapi seorang manusia yang paling banyak meninggalkan tatapakan atau Karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat, Nusa bangsa Agama maupun Budaya, makanya Prasasti-prasasti Sunda sering ditandai dengan lambang “Telapak Kaki”, Perlambang yang paling banyak Tatapakanya yang paling banyak amalnya, Karyanya, bukan yang banyak Pok nya (Bicaranya, omongannya) tapi yang paling banyak Pek jeung Prakna (Banyak Bekerja dan Karya Nyatanya), jadi ayeuna mah tapa nu utama teh kudu Prak Pek Pok (jadi sekarang Petapa yang utama itu adalah yang paling banyak Karyanya baru kemudian boleh bicara).

Galunggung Ngadeg tumenggung Soekapoera Ngadaun Ngora, Lamun Sunda hayang Nanjung kudu boga pulung ti Galunggung, Cag geura Bral.

Untaian kata diatas tadi merupakan pemeo kuno yang sangat dipercaya oleh masyarakat Sunda, sebagai suatu UGA, Tanda-tanda, Kila-kila, Isyarat yang harus dipedomani dan dihormati bersama yang lahir dari Galunggung, sebagai salah satu Pusat Spiritual Nusantara.

Yang artinya, Galunggung Ngadeg Tumenggung, setiap Raja, Ratu , Rama, Resi Para Pemimpin Sunda, bila mau ngadeg jadi Tumenggung, harus dapat restu dari Galunggung.

Soekapura Ngadaun ngora, Setelah dapat restu dari Galunggung, baik lahir maupun barhin, barulah gerbang akan terbuka (Pura) sebagai dasar, bekal, Semangat Baru untuk menuju kesuksesan, keberhasilan dan kejayaan (ngadaun ngora).

Sukapura mangku galuh rajana malati kembar, artinya hanya dengan keberhasilan yang akan mampu mengangkat Bangsa dan Negara (mangku Nagara Galuh) dan hal tersebut baru bisa tercapai apabila Rajana, punya bekal kekuatan lahir maupun bathin yang matang, mumpuni, adil dan bijaksana (Rajana Malati Kembar), sehingga bangsa dan negara namanya pasti akan harum mewangi ke seluruh pelosok negeri bagaikan wanginya Bunga Melati, itulah salah satu filosofi Siliwangi.

Uga dari Galunggung : Hayu urang silih bagi pangarti, silih simbeuhan kabisa, silih angkat darajat, silih ajenan diri, silih asih, silih asah, silih asuh, urang silih wangikeun Nami.

Dalam pesan terakhirnya Abah Anton yang juga pernah menjadi Kapolwil priangan pada Tahun 2008, menegaskan, mudah-mudahan dengan bekal 5 Amanat Khusus ini bisa menjadi rahasia utama Kunci Keberhasilan para Panglima dimasing-masing wilayah Kabupaten dan Kota se-Jawa Barat, Selamat berjuang, selamat bertugas, Semoga berhasil.

Dalam pelantikan ini hadir, Kangjeng Gusti Patih pangeran Moh Kodirun dari Kanoman, Uyut Sani Wijaya dari Kasepuhan Pajajaran Pusat, Pangeran Anom Adipati Rd Lucky Somawilaga dari Sumedang Larang, Pangeran Mas’ud dari Palembang, Ki Gondrong, Prof Asep dari Sukabumi, Panglima Tinggi Baranusa Pajajaran Rd. Ully Sigar Rusady, dan Artis ternama Rd. Paramitha Rusady sebagai Panglima Panah Walet Baranusa.

Selain acara Pelantikan, dalam kesempatan ini dikukuhkan juga Pasukan Pemanah Khusus Baranusa untuk Srikandi wanita yang bernama Pasukan Walet, dengan iconya Rd. Paramitha Rusadi.

Acara berlangsung lancar Khidmat dan Meriah dan dengan tetap mematuhi Prokes Covid 19.

 

DR

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.