Secara Virtual, Pemprov Lampung hadiri Acara Komitmen Percepatan Stunting bersama Wapres

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Bandar Lampung – Pemprov Lampung menghadiri Forum Nasional Stunting dalam rangka komitmen dan aksi bersama untuk percepatan penurunan stunting bersama Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin secara virtual, dari Ruang Video Conference Diskominfotik Provinsi Lampung, Selasa (14/12).

Dari Lampung, mereka yang hadir adalah wakil dari Kadis Kesehatan, Sekretaris  Diskominfotik, Sekretaris Bappeda, dan Kabid pada Dinas PMDes dan Transmigrasi.

Dari Jakarta, hadir wakil dari Mendagri Jenderal Tito Karnavian, Menko PMK Muhadjir Effendy, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa.

Lainnya, Kepala BKKBN Dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K), Deputi Bidang dukungan Kebijakan Pembangunan manusia & Pemerataan Pembangunan Dr. Ir. Suprayoga Hadi, MSP.

Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin menyampaikan, bahwa pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden No.72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting di Indonesia
Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan yakni tinggi badan anak yang lebih pendek.

Penyebab anak mengalami stunting adalah adanya gizi buruk pada ibu hamil yang disebabkan oleh Pengetahuan ibu hamil yang kurang memadai, Infeksi berulang atau kronis, Sanitasi yang buruk, terbatasnya layanan kesehatan.

Wakil Presiden menyampaikan ada 5 pilar utama untuk menangani percepatan penurunan stunting, yaitu:
1. Komitmen Politik dan Kepemimpinan Nasional dan Daerah,
2. Kampanye Nasional dan Komunikasi Perubahan Perilaku,
3. Konvergensi Program Pusat, Daerah dan Masyarakat,
4. Ketahanan Pangan dan Gizi,
5. Monitoring dan Evaluasi.

Peraturan presiden juga memberikan penguatan kerangka intervensi yang harus dilakukan dan kelembagaan yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan percepatan penurunan stunting.

Dari sisi kerangka intervensi, seperti kita ketahui bersama penanganan stunting secara garis besar dilakukan melalui intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif yang difokuskan pada 1000 (seribu) Hari Pertama Kehidupan.

Intervensi gizi spesifik adalah intervensi yang berhubungan dengan peningkatan gizi dan kesehatan, sementara intervensi gizi sensitif adalah intervensi pendukung seperti penyediaan air bersih dan sanitasi.

Menurut berbagai literatur, intervensi gizi sensitif ini memiliki kontribusi lebih besar (yakni 70%) dalam upaya penurunan stunting.
Kepala daerah tingkat provinsi dan kabupaten/kota untuk melakukan upaya konvergensi percepatan penurunan stunting di wilayahnya masing-masing, untuk berupaya dalam percepatan penurunan prevalensi stunting yang ditargetkan mencapai angka 14 persen pada 2024.

Sementara itu, kepada para penyedia layanan di lapangan, Wapres meminta agar dapat memastikan bahwa layanan yang disediakan betul-betul diterima oleh kelompok sasaran dengan kualitas yang baik.

“Jangan sampai intervensi yang dilakukan menjadi salah sasaran, karena jika itu yang terjadi, berapapun alokasi anggaran yang diberikan, target yang telah ditetapkan tidak akan tercapai,” tutup wakil presiden.

Pewarta : MM

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.