Oknum Pelaku Ilegal Loging Aniaya Wartawan, Korban Lapor Polisi

  • Whatsapp
Ilustrasi Kekerasan terhadap Wartawan

MITRAPOL.com, Katapang Kalbar – Kekerasan kepada Profesi wartawan masih kerap terjadi, hal ini membuat sorotan tajam kepada sesama profesi sebagai wartawan, tentunya meminta kepada Aparat Penegak Hukum (APH) Kepolisian setempat untuk mengambil tindakan dan mengusut tuntas atas tindakan yang dilakukan oknum pelaku ilegal loging terkait penganiayaan kepada salah satu wartawan media online.

Seorang wartawan media online Nusantaranews.com Supli (39th) dikabarkan diduga telah dianiaya dan di intimidasi oleh salah satu oknum pelaku illegal loging inisial AM bersama dua rekannya, pada hari, Selasa 14 Desember 2021 di Dusun Nango Desa Petai Patah Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat.

AM tidak terima setelah wartawan Supli bersama temannya melakukan atau mengambil gambar foto dilokasi tempat penumpukan Kayu (TPK) milik pelaku. lebih lanjut AM merasa terusik aktivitas jurnalis sehingga melakukan prilaku tak terpuji.

Akibatnya, sang wartawan dipaksa oleh pelaku untuk menghapus dokumen foto, kunci mobil dirampas dan dua bugem mentah meluncur ditubuh korban. “Ironisnya, meski ada dua anggota TNI di sana, pelaku AM seakan kesurupan dia terus berusaha untuk menghajar korban dengan tidak mengindahkan leraian dan nasehat dari dua prajurit itu.

Berikut Penjelasan Korban saat di hubungi beberapa rekan media via sambungan telepon seluler Supli berkisah kejadiannya kepada Mitrapol.com, kejadian bermula ketika dia bersama temannya Yani, berniat dari Kota Sandai pergi ke Desa Randau Jungkal untuk melakukan peliputan.

Namun di dalam perjalanan, mereka mencoba mampir di TPK miliknya AM, Desa Demit. Supli melihat tumpukan kayu di sana padahal menurutnya dua pekan silam sebelum kejadian pukul memukul, korban pernah mengekpos dan melaporkan secara lisan kepada Polsek sandai.

“Aktivitas illegal itu masih ada. Saya mencoba mengambil dokumentasi kembali sebagai data dan bahan penulisan berita berikutnya,” tutur Supli, Minggu (19/12).

Diceritakan Supli, pada saat pengambilan foto, sempat terjadi pertengkaran mulut antara dia dengan penjaga TPK. Penjaga marah dan melarang melakukan pemotoan meski dia sudah mengenalkan diri dan meminta ijin. Sedangkan pemilik TPK AM waktu itu tidak berada di tempat

Penjaga juga mengutarakan kekesalan dimana menurutnya, media Nusantaranewas telah memberitakan kegiatan mereka (dua pekan silam) sehingga aktivitas mereka diketahui publik. “Kan sudah diberitakan kenapa di foto lagi,” kisah Supli mencontohkan bahasa penjaga TPK.

Menghindari hal yang tidak dinginkan, Supli bersama temannya pergi dan melanjutkan perjalanan.

Untung tak dapat di raih malang tak dapat ditolak. Dalam perjalanan tepatnya di Dusun Nango tiba-tiba dua motor dari arah belakang menghampiri mobil mereka. Tedengar suara memerintahkan agar mobil untuk menepi dan berhenti. Satu diantaranya dikenal korban, dia adalah AM pemilik TPK dan dua orang lainya tidak dikenal. Diperkirakan AM menyusul setelah mendapat kabar dari penjaga TPK.

Pendek kisah, pertengkaran mulutpun terjadi. Ketiga pelaku menarik korban agar keluar dari mobil. Teman Supli (Yani) berhasil mereka keluarkan sedang Supli masih bertahan di dalam mobil.

Hanya saja lanjut Supli, pada waktu pertengkaran ada dua anggota TNI dari Koramil Sandai sedang lewat, mereka berhenti, melerai, mengecek surat tugas dan kartu pers.

AM di depan Anggota Koramil meminta agar foto yang diambil di TPK beberapa waktu lalu agar dihapus. Atas pertimbangan keselamatan, Supli mengikuti kehendak pelaku, dan menghapus data yang ada di ponselnya.

Hanya saja tambah Supli, pelaku tampak belum puas. Ketika Anggota koramil membaca surat tugas, AM masuk ke mobil dan menyerang korban.

“AM masuk ke mobil lewat pintu kiri depan, dia memukul bahu dan rusuk saya. Bersamaan itu temannya mengambil kunci mobil secara paksa. Saya tidak dapat berbuat banyak,” ungkap Supli.

“Namun saya bersyukur, penyerangan ini cepat dilerai Pak Tentara sehingga tidak berlarut,” ujar dia.

Atas kejadian tersebut, korban telah melaporkan ke Mapolsek Sandai dan telah divisum. Korban berharap agar kasus ditindaklanjuti sebagaimana hukum yang berlaku.

Sementara Polres Ketapang melalui Kapolsek Sandai Fanni Athar Hidayat mengatakan dan membenarkan atas kejadian tersebut.

‘”Benar kita menerima laporan korban. Sekarang kasusnya sedang berproses dan korban sudah dilanjurkan untuk Visum, namun polisi belum menetapkan tersangka,” Tutur Fanni.

Pewarta : Roy

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.