Hingar Bingar Mangrove di Belitung. Benar atau tidak banyak masalah. ???

MITRAPOL.com, Beltim – Publik masih bertanya-tanya berkenaan dengan apa yang menjadi masalah dalam kegiatan PEN Rehabilitasi Mangrove 2021 di Kabupaten Belitung Timur kemarin, seperti yang diketahui banyaknya tudingan dan pemberitaan miring terkait pelaksanaannya di kelompok-kelompok tani. Belum adanya klarifikasi resmi dari kelompok itu sendiri membuat pihak media mitrapol berinisiatif untuk menggali lebih dalam ke masyarakat, benar atau tidak banyak masalah di lapangan?

Ditemui di sela-sela aktivitas, Ketua Kelompok Mirang Mudong, Batara Doly menjelaskan, bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan swakelola Badan Restorasi Gambut dan Mangrove dibawah kementrian KLHK dengan menunjuk kelompok masyarakat sebagai pelaksana kegiatan, proses awal kelompok melakukan pengajuan dengan melampirkan dokumen SK kelompok, Buku rekening, NPWP dan daftar anggota. Proses pembayaran uang kegiatan baik bibit, kayu, biaya angkut, upah pekerja dan lain-lain dibayarkan langsung oleh BRGM ke rekening kelompok dan rekening pribadi. Khusus untuk pembayaran Hari Orang Kerja (HOK) itu kami ajukan terlebih dahulu setelah pekerjaan dilakukan, dengan kami melampirkan bukti fisik foto pekerjaan dan lampiran-lampiran lainnya. Selasa 1 Maret 2022

Kapokja BRGM wilayah Sumatera disela sela kunjungan ke lokasi pembibitan beberapa waktu yang lalu. (Dokumen Kelompok Pembibitan Mengkubang Kite)

Jadi BRGM melalui pendamping desa dan Korlap, lakukan verifikasi terlebih dahulu, setelah lengkap, baru upah pekerjaan bisa dibayarkan. “ jadi sehemat saya, gak mgkin itu ada seperti yang diberitakan kemaren, gak ditanamlah, apalah, karena kelompok harus memberikan bukti fisik kegiatan terlebih dahulu, baru upah kerja bisa dibayarkan,” ujar Batara Doly.

Ditemui terpisah, Hardiyanto, salah satu anggota Kelompok Telok Pengerangan mengatakan dia secara pribadi sangat terbantu dengan adanya program PEN Mangrove ini, kegiatan positif kita diajak menanam terus ada upahnya lagi. Tentu ini sangat membantu terlebih saat pandemi seperti sekarang ini, kami punya solusi penghasilan lain selama berapa bulan pengerjaan kemaren.
Ia juga berharap apa yang ia tanam kemarin tumbuh dan juga kedepan akan mendatangkan manfaat untuk orang lain, baik itu nelayan ataupun masyarakat lainnya. “kite tau mun bakau tumbo itu, akan jadi tempat ikan-ikan, ketam bakau juak e.. tentu ini jadi manfaat lain dari kegiatan ini selain ade penghasilan untuk membantu kamek masyarakat dibawah, kamek juak di kelompok ade lakukan penyulaman swadaya kemarik untuk mengganti tanaman nok mati, kite tau tantangan e nanam dilaut, pasti ad yang tumbo ada yang tesapu ombak, bemacamlah,” ujar Hardiyanto.

Saat melakukan penelusuran lebih lanjut di hari berikutnya, tim media mitrapol saat singgah ke sebuah warung di kelapa kampit bertemu Suib, warga yang mengaku hampir setahun ini sejak maret 2021 lalu aktif mencari propagul ( buah bakau ) untuk dijual ke lokasi pembibitan. Ia menyampaikan bersama beberapa teman-teman lain, menjual propagul ke lokasi pembibitan yang ada di kelapa kampit dan damar. “ selama setahun belakangan ini, kami alhamdulillah tebantu, kite tau duluk buah bakau ini berserakan ajak di laut, jadi sampah, karena tidak ada harganya, ade program penanaman ini buah ini kamek puterek ( ambil ), jual ke tempat pembibitan, kalau pas agik banyak kmrik sehari bisa dapat 1000 – 2000 buah bakau e, ye lumayanlah, la lebe gaji sekilo timah,” kata suib

Foto : Lokasi Pembibitan Mangrove di Pesisir Pantai Desa Mengkubang. (Dokumen Kelompok Pembibitan Mengkubang Kite)

Berdasarkan info beliau juga, tim media kemudian mendatangi salah satu lokasi pembibitan yang ada di pesisir pantai Desa Mengkubang dan bertemu dengan Ivan, salah satu pengurus pembibitan.

Dari pantauan awak media, terlihat hamparan bekas pembibitan yang memanjang ratusan meter, ivan sendiri mengatakan mereka telah membibit jutaan mangrove untuk keperluan program PEN ini. “ jutaan pak, waktu kmrin masih waktu penanaman, rasa-rasanya siang malam kami kemasi bibit, antar ke kelompok-kelompok yang melakukan pemesanan, kurang lebih 30 orang kmren waktu masih bibit banyak yang aktif di bedeng ini, dari mulai pengisian polibek, nancapkan propagul, perawatan, penyiraman, pengantaran dll, itu sudah kami lakukan dari 2020, tapi yang paling banyak mulai kita lakukan dari maret 2021,” ujar ivan

Lebih lanjut ivan mengungkapkan bahwa mereka tidak mencari propagul sendiri namun membeli dari masyarakat, sambil memperlihatkan di buku lusuh tempat pencatatan manual mereka membeli propagul. “ kite beli dari kampit, gantung, bahkan ad yang nyari sampai ke pulau-pulau, alhamdulillah kalau PEN ini memang tujuannya mendatangkan manfaat, dari tempat pembibitan dan pencari propagul saja sudah ratusan orang yang terbantu, dak usah jadi polemik, kami punya lengkap dokumen penjualan ke kelompok, kwitansi, foto pengangkutan dan lain-lain, bahkan semenjak ada hingar bingar ini semampu kami masih tampung orang jualan propagul, kita berharap program ini masih berlanjut atau paling tidak kami ingin bibit kami ini jadi manfaat dan ditanam,” tutup Ivan.

Sampai berita ini diturunkan pihak media mitrapol masih terus melakukan penelusuran lebih lanjut ke banyak pihak untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut berkenaan dengan pelaksanaan program PEN Mangrove 2021 di Beltim.

 

Pewarta : Tb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.