Lagi !! Diduga terjadi kekerasan terhadap Jurnalis saat liputan

MITRAPOL.com, Pandeglang Banten –  Serangan terhadap kebebasan pers dan melanggar KUHP serta Undang Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 diduga terjadi terhadap jurnalis saat liputan konfirmasi.

Hal ini menimpa R (35) salah satu jurnalis RadarIstana.com yang terjadi di kantor desa Sobang Kecamatan Sobang Kabupaten pandeglang-banten. pada Kamis (17/03/22).

Kepada awak media R (35) membenarkan kejadian yang dialaminya saat melakukan liputan di kantor desa Sobang, Kecamatan Sobang Kabupaten Pandeglang-Banten.

“Ya benar saya telah dikeroyok sekelompok orang di dalam kantor desa Sobang pada saat saya konfirmasi kepada Kepala Desa terkait dengan pemecatan enam prades tempo hari, tetapi saya malah dikeroyok dan dipukuli bahkan saya diusir dari dalam kantor desa,” terangnya.

Saya menjalankan tugas liputan atas penugasan dari redaksi Radaristana.com untuk meminta konfirmasi kepada kepala desa sobang perihal dugaan pemecatan enam perangkat desa alhasil saya dikroyok dan tidak mengindahkan bahwa saya adalah seorang jurnalistik yang dimana jelas dilindungi undang-undang pers tahun 1999, lanjutnya.

Saya sudah menjelaskan status dan tujuan kinerja sebagai wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik, mereka tetap melarang merekam dan mengambil dokumentasi menggunakan telepon genggam saya dan mereka melarang merekam.

Saya juga dipukul, ditendang, dibeberapa bagian tubuh yang diduga dilakukan oleh sekelompok oknum prades. terang R.

Terkait dugaan penganiayaan tersebut, Camat Sobang, Yayan Trikaryana kepada awak media melalui via telfon selulernya mengatakan bahwa tidak terjadi apa apa dan hanya anggota linmas yang kerasukan.

“Tidak ada kejadian apa-apa kang, ada juga itu anggota Linmas yang kerasukan, jadi dia lupa mungkin memukul atau menendang, saya berharap kepada pihak media agar objektif dalam pemberitaan,” jawabnya melalui WhatsApp.

Mengetahui hal yang dialami wartawannya, Pemimpin umum Radaristana.com advokat Sindak. P Silalahi, SH, kepada awak media mengatakan,”kekerasan ini merupakan tindak pidana yang melanggar setidaknya dua aturan yakni pasal 170 KUHP mengenai penggunaan kekerasan secara bersama-sama terhadap orang atau barang, dan pasal 18 ayat 1 UU Pers tentang tindakan yang menghambat atau menghalangi kegiatan jurnalistik. ancaman hukuman untuk pelanggaran ini adalah seberat-beratnya  lima tahun enam bulan penjara,” tegas Pemimpin Umum dan Pemimpin redaksi advokat Sindak. P Silalahi SH.

Atas peristiwa penganiayaan yang menimpa wartawannya, Sindak P Silalahi mengatakan, pihaknya meminta Kapolda Banten untuk menindaklanjuti kasus kekerasan terhadap jurnalis Radaristana.com dan memeriksa semua yang terlibat. tegas Silalahi.

“Setelah semua berkas penyidikan lengkap, kami menuntut pelakunya dibawa ke meja hijau untuk menerima hukuman yang setimpal, sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku,” lanjutnya.

Kami meminta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk memerintahkan jajarannya untuk memproses terduga pelaku dan memastikan kasus ini merupakan aksi kekerasan terakhir yang dilakukan Oknum terhadap jurnalis.

Kami juga akan meminta bantuan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), komisi nasional untuk hak asasi manusia (Komnas HAM) dan dewan Pers, untuk melindungi korban dari ancaman kekerasan lebih lanjut dan mengawal proses hukum atas kasus ini,” lanjutnya.

Tidak lupa juga ia menghimbau semua pihak untuk menghormati kerja-kerja jurnalistik yang dilindungi oleh UU Pers.

“Demi terjaminnya hak publik untuk tahu dan mendapatkan informasi yang akurat mengenai isu-isu yang penting bagi orang banyak. Lewat pernyataan pers  yang disusun berdasarkan fakta demi penegakan hukum dan perlindungan atas kebebasan pers,” Pungkasnya.

Sampai pemberitaan ini ditayangkan, Mitrapol.com mencoba mengkonfirmasi akan kebenaran kejadian yang dialami oleh jurnalis RadarIstana.com, kades Sobang melalui pesan whatsap namun belum mendapatkan jawaban dan hanya diread saja.

 

Tim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.