Galang Dana Tanpa Bantuan Pemerintah, Ponpes Ikhya Birrul Walidaini Lamteng Pekerjakan Santri Jual Popcron

MITRAPOL.com, Metro Lampung – Sangat miris jika melihat keberadaan para santri – santri memakai sarung dan berkopiah menjajakan Popcron (brondong jagung) di sejumlah wilayah Kota Metro. Apalagi, jika melihat dari segi usia anak – anak tersebut masih sangatlah kecil dan di bawah umur. Seharusnya mereka bersekolah dan wajib menuntut ilmu, tanpa harus berjualan.

Sehingga menjadi perhatian khusus tim media untuk menggali informasi sejauh mana tentang aktivitas santri tersebut. Baik dari mana mereka berasal, atau kemana dana hasil penjualan popcorn brondong jagung tersebut.

Pada hari, Selasa tanggal 31 Mei 2022, keberadaan para santri yang menjajakan popcron disepanjang jalan sutan sahrir Tejoagung Metro Timur. Bahwasanya, ada kendaraan yang mengantar dan mengawal para santri untuk berjualan. Kemudian, para santri dikawal kendaraan tersebut di sepanjangan jalan yang dilalui untuk berjualan.

Saat ditemui, sang sopir pengantar santri menjelaskan, bahwa hanya mengantarkan para santri untuk berjualan dari produk hasil santri – santri di PonPes Ikhya Birrul Walidaini Lampung Tengah.

” Kami jualan Pop Cron atau brondong jagung pak. Ini hasil dari santriwati pondok, dan intinya cari jariah. Saya ini sopir dan juga warga sekitar pondok Ikhya Birrul Walidaini di Kampung Onoharjo Lampung Tengah. Hari ini saya membawa dua santri anak – anak ke Metro ini,” jawabnya saat ditanya oleh awak media.

Dirinya mengakui, jika kendaraan tersebut adalah miliknya yang disewa oleh pihak pondok. Bahkan, ada kendaraan lainnya yang ikut disewa untuk menjual Popcron brodong jagung tersebar di beberapa wilayah Lampung.

” ini mobil pribadi saya pak, setiap hari saya disewa tiga ratus ribu. Seratus buat minyak, seratus buat makan. Kendaraan mobil semuanya ada sekitar tiga puluh yang mengantar para santri setiap harinya. Lebih jelasnya, tanyakan saja kepada pak ustadnya, Pak ,” kata sang sopir.

Meskipun begitu, sang sopir juga menuturkan jika santri – santri mendapatkan upah atau persen dari hasil penjualan Popcron brondong jagung.

” Mereka dapat persen dari hasil jualan popcron. Kadang sehari mereka dapat lima puluh, kadang tiga puluh, enggak mesti. Tergantung hasil penjualan. Ini baru laku 20 pak, sekitar dua ratus ribu ,” tuturnya.

Kemudian, tim media menemui kedua santri ( Irham dan Rizki Saputra ) yang berjualan popcron brondong jagung. Meskipun masih duduk di bangku sekolah dasar, keduanya mengatakan berjualan popcron adalah kemauan dirinya dan hasil penjualan dibagi.

” Kami jualan popcron ( brondong.red ) enggak ada yang suruh. Kami masih sekolah kelas dua dan tiga dan ngajinya malam hari dipondok. Nanti, hasilnya dibagi dua sama pondok dan saya jualan sudah dua tahun ,” ujar Rizki sembari makan eskrim serta didampingi Irham.

Kemudian, tim media menghubungi pengasuh Ponpes Ikhya Birrul Walidaini, Terbanggi Besar Lampung Tengah, melalui no. telpon 0852 7951 xxxx. Dirinya, membenarkan kedua santrinya menjual popcron di wilayah Kota Metro.

” Ya, mereka jual brondong, kripik dan lain – lain. Mereka itu yang enggak sekolah, biar enggak tidur pagi dan mereka jual barangnya pondok. Semua makan ( maem.red ) dan kitabnya enggak bayar dan yang lainnya sekolah. Semuanya santri perempuan dan santri laki ada tiga ratus lebih ,” jawabnya.

Bahkan, pihak Ponpes mengatakan belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah setempat.

” Kami belum pernah menerima bantuan dari pemerintah. Kami juga belum mengajukan. Kalau perizinan lengkap pondok sekitar satu tahun dan berdirinya pondok tahun 2015. Kita belum pernah dapat bantuan itu ,” tutup Ustad Nur Firmasnyah.

Melihat kejadian ini, tentu sangat miris jika pihak pengasuh pondok mempekerjakan para santrinya yang masih duduk dibangku sekolah dasar untuk mencari dana dalam pembangunan pondok. Seharusnya, pihak pengasuh pondok sendiri dapat mencarikan solusi terbaik dalam penggalangan dana dan donatur. Tanpa harus melibatkan dan mempekerjakan anak – anak santri tersebut.

Pada dasarnya, anak di bawah umur dilarang untuk dipekerjakan. Hal ini diatur dalam Undang-Undang atau UU Nomor 13 Tahun 2003 pasal 68 tentang ketenagakerjaan. Berdasarkan ketentuan undang-undang, batas usia minimal tenaga kerja di indonesia adalah 18 tahun.

Adapun sanksi Pidana Mempekerjakan Anak di Bawah Umur. Pengusaha atau perusahaan yang masih mempekerjakan anak yang belum berusia 18 tahun dapat dikenakan sanksi pidana.
Sanksi pidana tercantum dalam pasal 185 ayat 1 dan pasal 187 ayat 1 UU ketenagakerjaan yaitu pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama empat tahun atau denda minimal Rp 100 juta dan maksimal Rp 400 juta.

Pewarta : MM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.