Terindikasi perbudak santri, Keberadaan Ponpes Ikhya Birrul Walidaini harus ditinjau ulang Kemenag Lampung Tengah

MITRAPOL.com, Lampung Tengah – Sebagai salah satu Pondok Pesantren yang menawarkan biaya gratis bagi para santri. Ponpes Ikhya Birrul Walidaini banyak menuai persoalan dan penuh polemik. Mengapa tidak, pada kenyataannya pada saat ini Ponpes Ikhya Birrul Walidaini, diduga telah mempekerjakan para santri-santrinya yang masih dibawah umur untuk berjualan. Dengan dalil penggalangan dana sejumlah santri dipekerjakan untuk menjual makanan Popcron, garam hingga kripik.

Perlakuan seperti ini sebetulnya telah melanggar undang-undang. Meskipun, pihak pondok sendiri berdalih atas kemauan sendiri demi mencukupi kebetuhan mereka. Namun, tetap saja tetap sudah melanggar undang-undang. Apakah sebelumnya, pihak orangtua santri mengetahui, jika anak – anak mereka berjualan seperti ini. Justru, para orangtua santri berpikir didalam asrama pondok mereka belajar seperti pada umumnya.

Sejak berdiri di tahun 2015 lalu, berlokasi di Kabupaten Lampung Tengah. Saat ini Ponpes Ikhya Birrul Walidaini ini telah mendidik hampir 300 santri pria dan putri dari berbagai wilayah. Sehingga, menggugah tim media untuk berkunjung melihat lebih dekat tentang keberadaan pondok tersebut.

Sebelumnya, melalui sambungan telpon tim media telah menghubungi dan ingin berkunjung pada pengasuh Ponpes Ikhya Birrul Walidaini, ustad Nur Firmansyah. Namun, ditengah perjalanan menuju Ponpes Ikhya Birrul Walidaini sang ustad membatalkan janji dan berdalih sedang ada kegiatan.

“Nyusewu mohon maaf hari ini saya ada pengajian diluar pondok.jangan hari jumat mas jika kpondok monggo yg pnting jangan hari jumat.mohon maaf lupa ini tadi hari jumat,” jawabnya, membalas pesan WhatApp, Jumat (3/6/2022).

Kemudian, tim media ditemui, salah satu keluarga pengasuh Ponpes Ikhya Birrul Walidaini, Prima yang mengatakan, jika setiap hari jumat sama kyai ada kegiatan.

“Saya ponakan pak Yayi, beliau kalau hari Jumat keluar dan malam pulang. Pondok ini tidak ada bantuan dari pemerintah. Enaknya pada malam hari datang, anak belajar,” kata Prima.

Melihat kondisi halaman pondok yang terparkir oleh belasan mobil serta sejumlah santri sedang bekerja membuat Popcron. Lalu, tim media mempertanyakan tentang kendaraan serta aktivitas para santri.

“Pelajar atau santri kerja kalau pagi, nanti kalau enggak kerja, mereka enggak bisa jajan. Mobil ini kita siapkan sarana buat dagang, ada yang jadi sopir. Ini bukan mobil pondok, punya guru-guru dan yang ngaji disini dan semuanya mobil ada 30 unit,” ungkap Prima.

Masih dikatakan Prima, bahwa saat ini Ponpes Ikhya Birrul Walidaini, hanya untuk pondok saja. Mengeni pendidikan formal, para santri dipersilahkan memilih disekolah sekitar pondok.

“Anak-anaknya hanya mondok saja, ada sekolah disini dan ada yang sekolah di PaeN. Pengajar disini hanya pendidikan pesantren. Ini kalau di Jawa Salafiah, itu murni untuk pesantren. Kalau formalnya kita kasih kesempatan siang. Jadi orangtua ingin menyekolahkan anak sambil mondok, kita persilahkan. Terserah kita kasih kebijakan seperti itu dan malam kegiatan ngaji. Pernah juga tim KPAI datang kesini,” terangnya kembali.

Pada dasarnya, anak di bawah umur dilarang untuk dipekerjakan. Hal ini diatur dalam Undang-Undang atau UU Nomor 13 Tahun 2003 pasal 68 tentang ketenagakerjaan. Berdasarkan ketentuan undang-undang, batas usia minimal tenaga kerja di indonesia adalah 18 tahun.

Sedangkan sanksi Pidana mempekerjakan Anak di Bawah Umur. Pengusaha atau perusahaan yang masih mempekerjakan anak yang belum berusia 18 tahun dapat dikenakan sanksi pidana. Tercantum dalam pasal 185 ayat 1 dan pasal 187 ayat 1 UU ketenagakerjaan yaitu pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama empat tahun atau denda minimal Rp 100 juta dan maksimal Rp 400 juta.

 

 

Pewarta : MM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.