Masa gabungan gelar Demo meminta Pemerintah Kabupaten Pandeglang tutup tempat hiburan malam

MITRAPOL.com, Pandeglang Banten – Akibat diduga maraknya tempat hiburan malam berkedok rumah makan di Kabupaten Pandeglang, masa aksi demo jilid satu meminta pemerintah Kabupaten Pandeglang menutupnya,” Karena mencederai nama kota julukan seribu ulama sejuta santri, Selasa (7/6/2022)

Adanya aksi tersebut ditanggapi serius Massa Aksi Gerakan Aktivis sosial (GAS) Pandeglang dari Gabungan Ormas LPK MP dan Peleton Pemuda juga Permapan yang menggelar Unjuk Rasa.

Dalam Aksinya di Kota Badak yang Familiar dijuluki Kabupaten Seribu Ulama Sejuta Santri, Korlap Aksi satu menegaskan, pihak terkait agar segera menutup dan membubarkan tempat hiburan malam yang meresahkan masyarakat dan mencederai nama Pandeglang yang punya julukan seribu ulama sejuta santri.

“Sebagai bentuk protes atas maraknya tempat Hiburan malam yang dikemas dengan Rumah Makan seperti RM Pondok Cengkar, yang berada di Jalan Raya Taragong – Pagelaran No 15, Margagiri Kecamatan Pagelaran, Yayang Putri, Jalan Raya Teluk Lada No.42, Panimbangjaya Kecamatan Panimbang, dan Karista (Karoke) yang berlokasi di Kecamatan Carita.

Doris mengatakan,” Bahwa gabungan dari beberapa organisasi yang menggelar Unjuk rasa tempat Hiburan Malam dibeberapa tempat wilayah Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten hari ini hanya sebagian kecil saja, untuk bentuk tindak lanjutnya ramainya pemberitaan beberapa media online terkait adanya hiburan malam yang marak di Pandeglang dengan kemasan Rumah Makan.

Lanjut ia, masih ada aksi lanjutan Jilid dua dan tiga, jika aksi hari ini Satpol PP tidak mengambil sikap tegas, maka aksi yang digelar di beberapa tempat diadakannya Kantor Bupati Pandeglang, DPRD komisi satu, Satpol PP Pandeglang dan Dpmptsp harus ditanggapi serius dan jika tida selanjutnya aksi di Kota Badak yang terkenal dengan kabupaten seribu ulama sejuta santri ini akan digelar kembali,” ungkap Doris dari Peleton Pemuda

Sementara Jemi, Korlap Aksi II dari Ormas LPK MP menambahkan, bahwa Unjuk rasa tempat hiburan malam yang dilaksanakan dibeberapa tempat tuntutannya sederhana meminta THM ditutup.

“Aksi unjuk rasa jilid pertama hanya meminta tempat hiburan malam untuk ditutup” terang Jemi.

Masih kata Jemi, jika tuntutan tidak diindahkan bukan tidak mungkin Aksi Unjuk rasa jilid ke dua dan ke tiga akan kembali digelar untuk melanjutkan perjuangannya menutup hiburan malam yang sudah menjadi konsumsi publik meluas.

“Jika aksi unjuk rasa jilid pertama tidak ditanggapi serius oleh Pemerintah melalui Satpol PP agar menutup tempat – tempat hiburan malam yang ada dipandeglang, maka jilid dua dan seterusnya akan digelar kembali,” tegas Jemi.

Senada juga disampaikan Aning, Korlap Aksi tiga,” Bahwa dirinya bersama Ormas dan Aktivis yang tergabung dalam Gerakan Aktivis Sosial (GAS), tempat hiburan malam yang marak di Pandeglang dapat mencederai budaya jika terus dibiarkan.

“Hiburan malam harus ditutup karena identik dengan minuman keras, jadi bertolak belakang dengan Pandeglang, Kota Badak Seribu Ulama Sejuta Santri,” cetusnya.

Masih Aning, adanya tempat hiburan tersebut petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pandeglang seolah tutup mata dan tidak bersikap tegas menutup tempat-tempat hiburan malam yang berdampak buruk dan sangat mencoreng nama baik Pandeglang.

“Adanya tempat hiburan malam ini diduga Satpol PP tutup mata, kepala Badan Pelayanan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (BPPMPT) dan dan DPR tidak ada kata lain harus segera ambil sikap lakukan tindakan penertiban,” tegasnya.

Masih hal yang sama, terhadap para pemilik tempat maupun pengelola agar segera menghentikan aktivitas tempat hiburan malam, sebab hiburan malam berdampak buruk terhadap perubahan perilaku sosial masyarakat,” pungkasnya.

Pewarta : Mkl/Hr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.