Gunting anggaran DD, Kades Adiwarno Batanghari dan PPL diduga cari untung dari Kompor Tikus

MITRAPOL.com, Lampung Timur – Macam-macam saja cara oknum Kades dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian mencari untung demi keuntungan pribadi, tidak melihat apakah nilai anggarannya kecil, tetapi jika ada untung, tentu kesempatan itu tidak di sia-siakan.

Hal ini yang terjadi di Desa Adiwarno Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur, dugaan adanya terjadi korupsi oleh oknum Kades bersama PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) disampaikan narasumber kepada media Mitrapol.com di dalam pengadaan alat Kompor Tikus untuk penanggulangan hama bagi beberapa kelompok tani di Desa Adiwarno Kecamatan Batanghari, yang menggunakan anggaran Dana Desa (DD).

Guna mengklarifikasi atas laporan serta temuan tersebut, tim media mencoba menemui Gunaryo selaku Kepala Desa Adiwarno Kecamatan Batanghari Kebupaten Lampung Timur.

Saat ditemui, Gunaryo tidak berada di kantor desa setempat, namun, Tim awak media hanya ditemui oleh Dwiyono, perangkat desa, yang mengatakan terkait bantuan alat Kompor Tikus telah diserahkan seluruhnya kepada kelompok tani.

“Pak Gun, tidak masuk kerja dia sedang rewang keluarganya hajatan. Masuk kerja kalau ada giat kadang ada kegiatan diluar. Kalau bantuan kompor tikus itu untuk 18 kelompok tani yang belinya pakai anggaran Dana Desa ( DD ), dan anggarannya harga kompor tikur per unit 500 ribu. Belinya 20 kompor, tapi lurahnya yang beli, bukan saya,” ujar Dwiyono, Selasa (24/5 ).

Mencoba menggali informasi lebih jauh, lalu tim media menemui Ketua Gapoktan Desa Adiwarno, Bagio. Ia mengatakan, jika seluruh bantuan alat Kompor Tikus yang diterimanya dibeli oleh sang Kades dari salah satu Petugas PPL Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Timur.

“Desa kita kebagian 18 Kompor Tikus dan sudah diterima (hanya stik) untuk 18 kelompok tani. Harga Kompor Tikus ini kalau beli di toko cuma 300 ribu dan banyak yang jual dipasaran. Inikan pak Kades pesennya sama PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) sini, namanya pak Ravel. Dia tinggal diperumahan kantor BPT Batanghari jalan raya arah Sekampung,” kata Bagio, mengarahkan tim media menemui PPL tersebut.

Atas petunjuk itu, tim media bertemu Ravel Juwilis selaku Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di wilayah Adiwarno Kecamatan Batanghari Lampung Timur. Ravel mengakui, jika Kompos Tikus dibeli dari dirinya dan menjelaskan nilai harga alat kompor sesuai fungsinya.

“Kompor itu harganya 450 ribu, itukan harga sudah termasuk pajak yang dibagikan oleh desa,” kata Ravel.

Meskipun PNS, sebagai Petugas Penyuluh Lapangan Dinas Pertanian Lampung Timur, ia mengakui bahwa produk kompor tikus yang di bagikan adalah produk miliknya.

“Saya bekerja disini, saya ini punya produk namanya kompor tikus yang saya buat dari tahun 2013. Sudah terbuat 300, bukan hanya di Batanghari saja sampai di Kecamatan Lampung Timur. Saya buat itu dibengkel, adik saya punya bengkel dan saya yang pertama mengenalkan produk itu di Batanghari, kompor tikus menggunakan bahan bakar gas elpiji,” akunya.

Atas penjelasan ketiga narasumber tersebut, dipastikan tidak ada kesamaan tentang nilai harga pembelian kompos tikus bagi kelompok tani, sehingga ada indikasi telah terjadi dugaan penyelewengan penggunaan anggaran Dana Desa (DD).

Kedepan, tim media akan menemui Gunaryo selaku Kades Adiwarno Batanghari Lampung Timur, guna meminta penjelasan secara rinci tentang pembelian alat kompor tikus, maupun anggaran lainnya di Desa Adiwarno Kecamatan Batanghari Lampung Timur.

Tunggu berita selanjutnya.

 

 

Pewarta : MM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.