Dua Jembatan yang baru dibangun di Simeulue diduga Bermasalah dan menjadi perhatian publik, Ada Apa…?

MITRAPOL.com, Simeulue Aceh – Dua Unit Pembangunan jembatan yang terletak di Desa Linggih kecamatan Simeulue Timur kabupaten Simeulue yang bersumber dari dana APBA OTSUS 2021 dengan nilai anggaran 13 Milyar lebih menuai perhatian publik.

Kegiatan pekerjaan ini diduga belum selesai 100% dikerjakan sementara waktu masa pekerjaan sudah berakhir di Desember2021 yang lalu.

Terlihat jembatan darurat yang terbuat dari batang kelapa dan bongkahan jembatan lama belum dipindahkan, tampak abutment masih berdiri tegak di bawah jembatan yang baru dibangun.

Akibat jembatan darurat dan bongkahan jembatan yang lama ini belum di pindahkan (dibongkar) masyarakat yang sehari hari bekerja sebagai nelayan tidak bisa bekerja dikarenakan perahu mereka tidak bisa melewati akses tersebut lantaran terhalang dengan material jembatan lama, sungai ini adalah satu satu akses para nelayan menuju ke laut.

Anggota DPRA Tarmizi, SP saat kunjungan kerja ke kabupaten Simeulue mengatakan, akibat jembatan lama ini belum dibongkar, para nelayan tidak bisa bekerja seperti biasa kita minta kepada rekanan agar segera mombongkar jembatan yang lama dan tidak boleh di bayar sebelum dibongkar semuanya.

“Tarmizi mengatakan, Dua unit jembatan ini anggaran yang belum dibayarkan oleh dinas kepada rekanan sebesar 6 milyar lagi, kita minta pihak dinas jangan bayar sebelum pekerjaan ini selesai dikerjakan termasuk persoalan terkait dengan masyarakat setempat harus selesai semua,” terang Tarmizi.

Anggota DPRA Fuadri saat ditemui media Mitrapol mengatakan, terkait hal ini kita minta kepada pihak Dinas dalam hal ini PUPR, PPTK memfasilitasi agar tidak terjadi konflik lama antara masyarakat dan rekanan, karena kita mendapat kabar dari kepala desa Linggih bahwa ada berupa barang yang ditahan oleh masyarakat.

Kepala desa Linggih Salmulyadi saat di temui media Mitrapol mengatakan, bahwa benar material jembatan lama seperti leger beton yang terletak di bawah jembatan yang baru dibangun belum dibongkar dan termasuk jembatan darurat yang terbuat dari batang kelapa juga belum di bongkar mengakibatkan akses jalan para nelayan dan petani yang menggunakan perahu tidak bisa dilalui dan apabila hujan deras akan mengakibatkan terjadinya banjir dikarenakan semua sampah akan menumpuk terhalang oleh bongkahan Leger beton dan jembatan darurat. Selasa (28/06/2022)

“Mulyadi juga mengatakan, bahwa ada barang yakni berupa mesin Ginset 20 kw merek Ace Generator Tokyo yang ditahan masyarakat sebagai jaminan lantaran pihak rekanan masih mempunyai sangkutan baik dengan masyarakat maupun pihak desa seperti sewa rumah, sewa kendaraan, termasuk ganti rugi pembongkaran pagar kantor desa, pagar pustu dan poskamling senilai 76 juta rupiah belum dibayarkan,” ujarnya

Lanjut Mulyadi, terkait hal ini semua ada dalam surat perjanjian MoU antara pihak desa dan pihak rekanan yang diketahui langsung oleh camat Simeulue Timur Ali Afwan SP bahwa benar pihak rekanan masih ada sangkutan dengan masyarakat dan desa dan sudah beberapa kali pihak rekanan dihubungi sepertinya belum ada respon sementara dalam surat perjanjian tanggal jatuh temponya sudah habis yakni tanggal (23/06/2022) yang lalu.

“Dalam hal ini kami mengharapkan kepada rekanan agar segera menyelesaikannya.” tutup Mulyadi.

 

Pewarta : Hendra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.