PH Korban : Harusnya ada tersangka lain dalam kasus bersuami Dua

MITRAPOL.com, Medan – Tim Penasehat Hukum (PH) saksi korban menilai, harusnya ada tersangka lain dalam perkara dugaan pemalsuan surat yang menjerat terdakwa Santi Rahmadani Lumbantoruan alias Dhani Edward dan Iwan Setiadi.

Ramses mempertanyakan kinerja pemerintahan, mengapa kedua terdakwa yang bertatus Janda dan Duda dapat membuat identitas lain dan mendaftarkan statusnya sebagai perjaka dan perawan.

“Pihak pemerintahan harusnya kroscek dong, pernah gak ini (kedua terdakwa) menikah. KUA pun harus diseret ke pengadilan,” ujar Ramses Butar-Butar dan Hans Silalahi selaku PH korban usai sidang di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (27/6/2022).

Selain itu, Ramses dan Hans. juga mengaku kecewa terkait kesaksian Maya Damanik, ibu terdakwa Iwan Setiadi. Sebab saksi Maya ikut menandatangani dokumen pernikahan anaknya. Yang mana dalam dokumen tersebut status Iwan sebagai lajang dan Santi sebagai perawan. Padahal keduanya berstatus janda dan duda.

Karena tidak diambil sumpahnya di persidangan, PH saksi korban menilai, keterangan ibu Iwan patut diragukan kebenarannya.

“Kami sangat kecewa, tapi karena dia orangtua kandung, dia tidak sumpah oleh hakim, jadi keterangan dia itu sangat diragukan,” sebut kedua PH.

Lebih lanjut dikatakan, semestinya orangtuanya ikut tersangka, karena dia menandatangani perjaka dan perawan. Ramses mengaku pihaknya kemungkinan akan melaporkan orang lain dalam perkara ini.

“Kita akan melaporkan, namun kita akan melihat perkembangan persidangan,” pungkasnya.

Sementara itu di persidangan, Maya Damanik tak kuasa menahan tangis saat bersaksi di persidangan.

Maya yang merupakan ibu kandung terdakwa Iwan Setiadi mengaku, anaknya Iwan menikah dengan Santi di Bogor. Ia mengaku tidak tahu kalau ternyata Santi masih bersuami.

Pasalnya, kata Maya, Santi sempat beberapa kali mengajak ibunya ke rumah Maya untuk meyakinkannya, agar mensetujui hubungan anaknya dengan Santi.

” Emaknya Santi penah ke rumah sebelum nikah. Mengatakan, anaknya betul sudah janda, tapi gak ada surat cerai yang dibawa,” ujarnya saat dicecar hakim ketua Ulina Marbun.

Namun belakangan terbongkar, perempuan yang mengaku sebagai ibu Santi ternyata ibu bayaran alias palsu.

Maya mengaku merasa malu atas kasus yang menimpa anaknya itu, apalagi seluruh keluarganya sudah tahu.

Namun saat dicecar hakim anggota Dahlia Panjaitan terkait tandatangan Maya dalam berkas pernikahan kedua terdakwa terkait status lajang dan perawan, saksi mengaku tidak tau dan hanya disuruh teken saja.

“Tapi kamu ikut tandatangan, kalau kamu bilang gak baca ini gak masuk akal karena kata-katanya banyak. Judulnya saja begitu besar, tertulis surat pernyataan belum menikah dan kamu sebagai orangtua menandatanganinya,” cetus hakim.

Lantas Maya mengaku, tidak tau apa isi berkas yang ditandatanganinya. “Saya gak ada lihat bacaannya itu bu, hanya disuruh tanda tangan,” ucapnya.

Sementara itu, JPU Randi Tambunan dalam dakwaannya menuturkan, antara terdakwa Santi dengan saksi korban SMS (status duda dengan 2 orang anak) terikat hubungan perkawinan sejak 11 April 2006 dan memiliki 1 orang anak laki-laki, dan tinggal bersama dengannya di rumah yang terletak di Perumahan Pondok Surya Helvetia.

Lalu, korban mengetahui, Santi telah memiliki 2 orang anak sebelum menikah. Sejak tahun 2009 Santi telah menjalin hubungan dekat dengan laki-laki lain yaitu Iwan Setiadi.

Saat menjalin hubungan dengan Iwan, terdakwa mengurus Kartu Tanda Penduduk (KTP) di Dinas kependudukan dan catatan sipil Bojong Gede atas nama Dhani.

“Selanjutnya Iwan ke Kantor KUA Kecamatan Rambutan untuk mengurus Surat Rekomendasi Nikah,” ujar jaksa.

Kemudian KUA Kecamatan Rambutan menerbitkan surat rekomendasi nikah dengan status Iwan Setiadi Jejaka dan terdakwa statusnya Perawan

“Kemudian pada tanggal 7 Nopember 2015 terdakwa menikah dengan Iwan di KUA Bojong Gede Bogor dan terdakwa tidak merasa keberatan dengan status Perawan dalam Surat Rekomendasi Nikah tersebut, padahal terdakwa mengetahui bahwa perkawinannya yang sudah ada berdasarkan Akta perkawinan Nomor : 1403 T/MDN/2012 tanggal 15 Agustus 2012 menjadi halangan yang sah baginya kawin lagi.

Kemudian, terdakwa bersama Iwan mencatatkan Akta Nikah di KUA Bojong Gede Kab. Bogor sebagai bukti bahwa keduanya adalah pasangan suami istri.

Kemudian keduanya lantas mengajukan pembuatan Kartu Keluarga Baru. Lalu, pada Januari 2022 saksi korban mendapatkan informasi, terdakwa menikah dengan Iwan, tanpa sepengetahuannya.

“Selama terdakwa menikah dengan saksi korban selalu diberikan nafkah dikirim melalui rekening terdakwa dan juga secara tunai,” ujar jaksa.

Perbuatan terdakwa bersama Iwan, membuat korban merasa keberatan, dirugikan dan dipermalukan di depan keluarga.

Kedua terdakwa dijerat dengan dakwaan berlapis. Santi Ramadhani alias Dhani Edward dijerat dengan dakwaan kesatu primair, Pasal 279 ayat (1) ke-1 KUHPidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. Kedua primair, Pasal 266 ayat (1) KUHPidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Sedangkan Iwan Setiadi dijerat dengan dakwaan kesatu primair, Pasal 266 ayat (1) KUHPidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

 

Pewarta : ZH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.