Dugaan pungli Oknum Satpol PP dan Perangkat Desa Tampung Kecamatan Lekok Pasuruan

MITRAPOL.com, Pasuruan – Oknum anggota Satpol PP diduga meminta jatah upeti alias pungli kepada beberapa warga yang memiliki usaha di pinggir jalan di wilayah Lekok Kabupaten Pasuruan.

Mendapati kabar tersebut kami selaku awak media Mitrapol mencoba menggali untuk mendapatkan informasi dari warga.

Beberapa warga mengatakan bahwa Oknum Anggota Satpol PP yang diketahui berinisial AD meminta uang (upeti) dengan dalih uang retribusi atau uang keamanan.

Salah satunya sebut saja BRD warga yang memiliki usaha Bambu mengatakan bahwa dirinya telah dimintai uang upeti sebesar Rp. 1jt oleh Oknum perangkat Desa Tampung Kecamatan Lekok berinisial ZNL atas perintah AD oknum Satpol PP tersebut.

BRD menjelaskan, waktu itu AD datang ke tempat usahanya dan ditemui oleh karyawannya, AD datang dan terus marah memaksa minta uang, karyawannya tersebut menyampaikan kepada BRD bahwa AD datang marah-marah untuk minta uang, mendengar itu BRD pun langsung bilang ke perabot ZNL bahwa dirinya dimintai uang oleh AD.

ZNL mendatangi AD menanyakan apakah betul AD minta uang kepada BRD, tak lama kemudian ZNL datang menemui BRD dan mengatakan memang benar bahwa AD meminta uang keamanan sebesar Rp. 1jt dan oleh ZNL dinego menjadi Rp. 700rb, namun pada saat itu BRD yang tidak memiliki uang sebesar yang diminta AD sehingga dirinya harus merelakan melepas perhiasan milik anaknya untuk di jual.

“Minta Rp. 1jt mas, tapi sama ZNL ditawar jadi Rp. 700rb, waktu itu saya tidak punya uang sebesar itu, akhirnya Cincin emas anak saya terpaksa saya jual dan uangnya saya kasih ke ZNL untuk di sampaikan ke AD pak,” ujar Istri BRD saat di Klarifikasi awak media Mitrapol. Selasa (12/4/2022).

Tak hanya BRD yang dimintai uang oleh AD, kami juga mendapat informasi bahwa di lokasi sederetan tempat BRD usaha itu juga tak luput dari uang keamanan yang di minta oleh AD.

Diantaranya penjual Es Tebu yang juga dimintai uang sebesar Rp.300rb, dan pedagang lainnya yang berinisal TT yang juga mengaku dimintai uang sebesar Rp.400rb tapi TT datang ke kantor Kecamatan Lekok dan memberikan uang Rp. 400rb kepada AD.

Selanjutnya awak media Mitrapol datang ke kantor Kecamatan Lekok mencoba menemui AD untuk klarifikasi, saat ditemui AD menampik dan tidak mengaku menerima uang tersebut atau pun juga dia tidak pernah menyuruh Perangkat Desa berinisial ZNL untuk datang ke rumahnya BRD.

Hal ini bertolak belakang dengan keterangan BRD selaku korban kepada awak media Mitrapol.

Setelah awak media mendatangi AD di kantor Kecamatan untuk menanyakan masalah uang yang di bawah ZNL tersebut.

Tapi jawaban yang diberikan AD malah dia mengaku tidak pernah menerima uang dan tidak pernah menyuruh ZNL selaku perangkat desa tersebut, hal inilah yang menjadi tanda tanya besar.

Perlu diketahui bahwa AD juga sanggup untuk mendatangkan ZNL guna di mintai keterangan ke kantor kecamatan, akan tetapi pada waktu itu ZNL tidak ada di tempat dan tidak dapat dihubungi.

Kemudian AD bergegas meninggalkan kantor dan berpamitan kepada kami untuk menjalankan sholat Dhuhur, padahal kami masih belum selesai mempertanyakan permasalahan pungli yang di lakukanya, alhasil mau tidak mau kita pun meninggalkan kantor kecamatan Lekok Pasuruan.

Dengan jawaban dan alasan dari AD ini kami menduga ada indikasi serta dugaan persekongkolan dalam pungutan liar terhadap para pedagang ini.

Awak media masih mencoba melakukan konfirmasi ke pihak terkait lainnya.

(bersambung…)

 

 

Pewarta : Lan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.