Rawan Korupsi, SMA Muhammadiyah 1 Metro Terima Kucuran DAK Swakelola 500 Juta

MITRAPOL.com, Metro Lampung – Penerimaan kucuran anggaran dana swakelola sepertinya ini menjadi modus baru dan rawan terjadinya korupsi bagi sebagian oknum Kepala Sekolah. Tergiurnya sebagian oknum Kepala Sekolah dari besarnya nilai anggaran yang diterima.

Apalagi anggaran swakelola tersebut dikelola sepenuhnya oleh pihak sekolah. Walaupun pihak sekolah berdalih pengelolaannya oleh P2S (Panitia Pembangunan Sekolah), namun, tetap saja sebagian oknum Kepsek dapat leluasa menjalankannya sendiri.

Pada tahun 2022 ini, SMA Muhammadiyah 1 Metro, menerima bantuan swakelola menerima bantuan anggaran Rp. 544.820.000 dalam kegiatan pengelolaan pendidikan Sekolah Menengah Atas. Dalam pekerjaan DAK ( Dana Alokasi Khusus ) fisik Reguler Revitalisasi 5 Ruang.

Dugaan rawan terjadinya korupsi/mark up anggaran bisa saja terjadi di SMA Muhammadiyah 1 Metro. Terbukti, jika sang Kepsek tidak transparan menjelaskan terkait bantuan bagi pembangunan gedung sekolah. Terkesan sang Kepsek menutupi – nutupinya saat konfirmasi tim awak media.

Saat ditemui, Kepala SMA Muhammadiyah 1 Metro, mengatakan nilai bantuan dan tim P2S dalam pembangunan tersebut.

“Ya ada bantuan, tapi sedikit. Kalau ketua P2S pak Samsul Waka prasarana. Sekertarisnya itu, dari orang tua wali ,” jawab Ruslani kepada Mitrapol.com, Jumat ( 26/8 ) pagi.

Ruslani juga menambahkan, jika seluruh pekerja dalam pembangunan gedung sekolah yang menggunakan anggaran swakelola berasal dari warga sekitar.

“Tukangnya orang sini aja, itu harian dari 22. Kemarin inspektorat dari sini. Kebetulan kita kena uji, Inspektorat Provinsi lah…Sekarang inikan SMA/SMK dari Provinsi,” tambahnya.

Sementara itu, Sutris selaku Kepala rombong dari para pekerja pada pembangunan gedung kelas di SMA Muhammadiyah 1 Metro, juga ikut berkomentar tentang jumlah pekerja dan nilai upahnya.

“Ini mau kerja, dan kami orang dua-dua. Rehab ada enam lokal dan peninggian gedung kelas. Semuanya ada sepuluh orang dan kami dibayar upah harian semua. Tukang ada lima dan kernet ada lima. Tukang di bayar seratus dua puluh dan kernet dibayar sembilan puluh dan seratus . ni enggak ada yang diborong, kita juga pernah kerja dulu di sini,” tutup Sutris.

Melihat dari pembangunan di SMA Muhammadiyah 1 Metro, dan juga terkesan sang Kepsek menutup-nutupi dalam pengelolaan anggaran swakelola DAK. Sehingga dapat diwaspadai rawan terjadinya korupsi.

Kedepan, tim media juga akan meminta komentar dari salah satu LSM dan ikut juga memantau dalam bantuan anggaran swakelola pembangunan gedung kelas di SMA Muhammadiyah 1 Metro.

 

 

Pewarta : MM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.