Tokoh Budayawan Sunda Anton Charliyan Hidupkan Kembali Gelar Seni Budaya Sunda-Bali di Ciung Wanara

MITRAPOL.com, Ciamis – Kegiatan Gelar Budaya Sunda Bali yang diinisiasi masyarakat Banten, Jawa Barat, dan Bali, merupakan kegiatan untuk menghidupkan kembali kelembagaan tritangtu. Yakni media untuk mengobati kerinduan terhadap kesatuan, silaturahmi, serta menyamakan energi.

Tatar galuh Ciamis layak mendapat julukan kota seribu situs. Sampai saat ini teridentifikasi 1.117 situs budaya dari berbagai masa dan peradaban sejarah.

“Setiap jengkal tanah di Ciamis adalah situs. Setidaknya yang teridentifikasi sudah 1.117 situ. Kami masih terus melakukan penggalian untuk mengetahui tatar sunda galuh,” kata Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dsipora) Kabupaten Ciamis Erwan Darmawan, saat Gelar Budaya Sunda-Bali Nusantara, di kompleks Situs Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing.

Kegiatan ini dikemas dalam Nyucruk Galur Uga Karuhun, Ngintrenkeun Tritangtu. Pertemuan Sunda-Bali ini digagas oleh tokoh Sunda, Anton Charliyan (mantan Kapolda Jabar).

Mewakili Bupati Ciamis Herdiat Sunarya, lebih lanjut dia mengatakan, situs yang ditemukan tidak hanya sekadar dicatat, akan tetapi juga di tangani secara modern. Dalam arti, memanfaatkan teknologi informasi, seperti memberi tanda khusus atau barcode serta masuk GPS.

“Penanganan situs tidak boleh mengubah bentuk. Jadi hanya ada sentuhan modern teknologi informasi. Setiap situs diberi barcode, sehingga memudahkan masyarakat atau wisatawan yang hendak ke lokasi,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, saat ini di tengah masyarakat muncul aspirasi mengubah nama Kabupaten Ciamis menjadi Kabupaten Galuh. Meneruskan aspirasi tersebut, lanjutnya, pemerintah kabupaten Ciamis segera mengadakan forum diskusi yang melibatkan semua elemen.

“Apabila hasilnya setuju dilakukan perubahan nama, maka akan dilanjut pada pembahasan berikut sesuai dengan sistem administrasi, demikian sebaliknya,” ujarnya.

Acara yang sarat dengan makna budaya ini dihadiri utusan berbagai kerajaan maupun kasultanan, seperti dari Cirebon. Termasuk puluhan tokoh ulama atau pandita dan panindita Bali. Selain menyuguhkan tarian Sunda, juga tari bali. Selain itu juga pemberian gelar, ritus, serta kolaborasi budaya lainnya.

Anton Charliyan mengatakan, saatnya Sunda besar dan Sunda kecil menyatu. Bertepatan pula tempat yang diplihih adalah kota purba Karangkamulyan, yang menjadi pusat perdamaian.

“Tidak ada ego, di sisni semuanya menyatu. Satu menjadi kesatuan yang utuh. Bukan hanya gimik, akan tetapi penuh dengan hakikat koneksi sesama,” tuturnya.

Sementara itu Pandita Ida Agni Apri, menyambut baik kegiatan yang diadakan di tatar galuh Ciamis. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi juga untuk menyatukan energi. Sekaligus juga menunjukkan bahwa, Sunda dan Bali adalah sesama saudara.

“Kita semua ini saudara, semua sunda. Mudah-mudahan anak cucu kita tetap mengangungkan budaya nenek moyang, jangan mengangungkan budaya dari luar,” tuturnya.

Dia menambahkan rombongan dari Bali berjumlah sekira 130 orang. Selain mengikuti agara di tatar galuh Ciamis, juga bakal menerukskan perjalanan ke tempat lain. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *