KALAMitrapol

Detik-Detik Terakhir: Menyongsong Panggilan Ilahi, Bekal Apa yang Kita Bawa?

Madalin
×

Detik-Detik Terakhir: Menyongsong Panggilan Ilahi, Bekal Apa yang Kita Bawa?

Sebarkan artikel ini
Detik-Detik Terakhir: Menyongsong Panggilan Ilahi, Bekal Apa yang Kita Bawa?

KALAMitrapol – Kematian adalah realitas yang pasti dihadapi oleh setiap makhluk hidup. Islam memandang kematian sebagai peristiwa penting yang menandai perpindahan dari alam dunia menuju alam akhirat.

Al-Quran dan Hadis memberikan banyak panduan bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan baik.

Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa kematian adalah ketetapan Allah SWT yang tidak dapat dihindari.

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ۝١٨٥

kullu nafsin dzâ’iqatul maût, wa innamâ tuwaffauna ujûrakum yaumal-qiyâmah, fa man zuḫziḫa ‘anin-nâri wa udkhilal-jannata fa qad fâz, wa mal-ḫayâtud-dun-yâ illâ matâ‘ul-ghurûr

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imran Ayat 185).

Ayat ini dalam Tafsir Wajiz dijelaskan sebagai berikut:

Dijelaskan sikap orang-orang munafik yang menduga bahwa mereka dapat menghindar dari kematian. Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa kematian dialami oleh setiap makhluk dan bisa terjadi kapan saja. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati tanpa terkecuali.

Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasan kamu dari amal perbuatan baik dan buruk yang kamu lakukan selama di dunia. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan.

Kebahagiaan hakiki bukanlah berupa kedudukan dan pangkat yang tinggi, harta yang melimpah, rumah dan istana yang mewah. Semua itu akan musnah. Karena itu, jangan jadikan seluruh perhatian kamu pada kehidupan kini dan sekarang, karena kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya setiap orang yang hanya mementingkan kebahagiaan sementara.

Disangkanya itulah kebahagiaan, maka tenggelamlah ia dan asyik dengan kenikmatan dunia. Padahal kalau manusia kurang pandai mempergunakannya, maka kesenangan itu akan menjadi bencana yang menyebabkan kerugian di dunia dan di akhirat kelak mendapat azab yang pedih.

Mengingat Kematian sebagai Muhasabah

Meskipun kematian adalah hal yang pasti, namun waktunya menjadi rahasia Allah SWT. Karena itu, kita dianjurkan untuk selalu mengingat kematian sebagai bentuk muhasabah, yaitu intropeksi diri atas amal perbuatan.

Hadis Riwayat Imam Baihaqi: “Jika ada orang yang meninggal dunia, malaikat berkata ‘apa yang telah lalu (amal)’, sedangkan manusia membicarakan ‘apa yang ia tinggalkan (warisan)'”

Hadis ini mengingatkan kita bahwa yang akan dihisab di akhirat nanti bukanlah harta benda yang ditinggalkan, melainkan amal perbuatan selama hidup di dunia.

Persiapan untuk Akhirat

Al-Quran dan Hadis tidak hanya menjelaskan tentang kematian, tetapi juga memberikan panduan untuk mempersiapkan diri menuju akhirat.

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ ۝٢

alladzî khalaqal-mauta wal-ḫayâta liyabluwakum ayyukum aḫsanu ‘amalâ, wa huwal-‘azîzul-ghafûr. 

“(yaitu) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk Ayat 2)

Ayat ini menjelaskan bahwa kehidupan di dunia adalah ujian dari Allah SWT. Kematian menjadi penanda berakhirnya masa ujian dan dimulainya kehidupan di akhirat.

Dalam Tafsir Wajiz ayat ini dijelaskan sebagai berikut:

Salah satu bukti kekuasaan-Nya adalah Dia Yang menciptakan mati dan menentukan ajalnya, dan hidup dengan menentukan kadar-kadarnya, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya dengan seikhlas mungkin. Dan Dia Mahaperkasa tidak ada satu pun yang dapat mengalahkan-Nya, Maha Pengampun dengan menghapus dosa bagi orang-orang yang bertobat.

Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim: “Jika manusia itu meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah (sedekah yang pahalanya terus mengalir), ilmu yang bermanfaat, atau anak yang saleh yang mendoakannya.”

Hadis ini memberikan motivasi untuk memperbanyak amal kebaikan yang pahalanya akan terus mengalir meski kita sudah meninggal dunia. Beberapa diantaranya adalah sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan mendidik anak menjadi sholeh.

Menghindari Suudzon pada Allah

Ketika menghadapi musibah atau penyakit yang mengancam jiwa, dianjurkan untuk tidak berprasangka buruk kepada Allah SWT.

Hadis Riwayat Muslim: “Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian karena marabahaya yang menimpa, kalaupun harus mengharap (mati), hendaklah berdoa: Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu baik bagiku dan matikanlah aku jika kematian lebih baik bagiku.”

Hadis ini mengajarkan kita untuk berserah diri kepada Allah SWT dan berdoa memohon kebaikan, entah dipanjangkan umur atau diwafatkan.

Menjalani Hidup dengan Makna

Selain memperbanyak amal, Islam juga mengajarkan pentingnya menjalani hidup dengan penuh makna. Ini berarti mengisi hari-hari kita dengan aktivitas yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ۝١٥٦

alladzîna idzâ ashâbat-hum mushîbah, qâlû innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).” (QS. Al-Baqarah Ayat 156)

Tafsir Wajiz menjelaskan ayat ini:

Kehidupan manusia memang penuh cobaan. Dan Kami pasti akan menguji kamu untuk mengetahui kualitas keimanan seseorang dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Bersabarlah dalam menghadapi semua itu.

Dan sampaikanlah kabar gembira, wahai Nabi Muhammad, kepada orang-orang yang sabar dan tangguh dalam menghadapi cobaan hidup, yakni orang-orang yang apabila ditimpa musibah, apa pun bentuknya, besar maupun kecil, mereka berkata, Inna; lilla;hi wa inna; ilaihi ra;ji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).

Mereka berkata demikian untuk menunjukkan kepasrahan total kepada Allah, bahwa apa saja yang ada di dunia ini adalah milik Allah; pun menunjukkan keimanan mereka akan adanya hari akhir. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk sehingga mengetahui kebenaran.

Dengan memahami ajaran Al-Quran dan Hadis tentang kematian, diharapkan kita sebagai muslim dapat mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

Marilah kita jadikan kematian sebagai pengingat untuk selalu memperbaiki diri, memperbanyak amal shalih, dan menjalani hidup dengan penuh makna.

Semoga Allah SWT memudahkan kita semua dalam menjalani kehidupan di dunia dan memberikan akhir yang husnul khotimah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *