Scroll untuk baca artikel
Nusantara

TI IPLBI 14 di Bali Libatkan 161 Peserta dari 59 Institusi, Dorong Riset Lingkungan Binaan Berdampak

Admin
×

TI IPLBI 14 di Bali Libatkan 161 Peserta dari 59 Institusi, Dorong Riset Lingkungan Binaan Berdampak

Sebarkan artikel ini
TI IPLBI 14 di Bali Libatkan 161 Peserta dari 59 Institusi, Dorong Riset Lingkungan Binaan Berdampak
TI IPLBI 14 di Bali Libatkan 161 Peserta dari 59 Institusi, Dorong Riset Lingkungan Binaan Berdampak

MITRAPOL.com, Denpasar – Sebanyak 161 peserta dari 59 institusi mengikuti Temu Ilmiah ke-14 Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indone-sia (TI IPLBI 14) yang berlangsung di Denpasar, Bali, pada 2–5 Septem-ber 2026.

Forum nasional tersebut mempertemukan peneliti, akademisi, praktisi, pemerintah, organisasi profesi, dan mahasiswa untuk membahas berbagai tantangan lingkungan binaan Indonesia di tengah perkem-bangan kecerdasan artifisial, perubahan lingkungan, serta kebutuhan menjaga identitas dan pengetahuan lokal.

Mengangkat tema “Kecerdasan Budaya untuk Lingkungan Binaan Berke-lanjutan: Kecerdasan Buatan, Konteks Lokal dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan”, TI IPLBI 14 menempatkan budaya bukan hanya sebagai warisan yang perlu dipertahankan, tetapi juga sebagai sumber penge-tahuan yang perlu dilibatkan dalam pengembangan teknologi dan pembangunan berkelanjutan.

Program Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana menjadi tuan rumah kegiatan tersebut dengan dukungan Universitas Warmadewa, Universitas Ngurah Rai, Universitas Dwijendra, Institut Desain dan Bisnis Bali, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Bali, Himpunan De-sainer Interior Indonesia (HDII) Bali, serta Museum Bali.

Puncak kegiatan berlangsung pada 4 September 2026 di Gedung Pas-casarjana Universitas Udayana.

Gubernur Bali Wayan Koster yang membuka kegiatan menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kecerdasan artifisial, kecer-dasan manusia, dan kecerdasan budaya.

Pesan tersebut menjadi salah satu isu utama dalam TI IPLBI 14. Perkembangan kecerdasan artifisial dinilai membuka peluang baru da-lam proses perencanaan, perancangan, simulasi, pengelolaan, dan evaluasi lingkungan binaan.

Namun, teknologi tetap perlu ditempatkan dalam konteks manusia, tempat, nilai budaya, serta konsekuensi sosial dan lingkungan.

Karena itu, forum ini mendorong pendekatan yang menempatkan kecerdasan artifisial sebagai mitra manusia, bukan pengganti kemam-puan manusia dalam memberikan makna, menentukan nilai, dan mempertanggungjawabkan keputusan.

Rangkaian TI IPLBI 14 tidak hanya berlangsung di ruang konferensi. Me-lalui Masterclass Fenomenologi, peserta melakukan pengamatan lang-sung terhadap Lapangan Puputan Badung.

Pengamatan tersebut membaca ruang terbuka bukan semata sebagai objek fisik, melainkan sebagai tempat bertemunya sejarah, aktivitas masyarakat, ingatan kolektif, dan kebudayaan.

Dari proses tersebut berkembang gagasan awal mengenai “Ibu Ruang Terbuka”, yaitu ruang terbuka penting di setiap kota yang tumbuh dari sejarah, budaya, lingkungan, dan karakter masyarakat setempat, bukan berdasarkan model yang seragam.

Sementara itu, Masterclass Artificial Intelligence memperkenalkan ga-gasan Centaur, yakni kolaborasi manusia dan AI dalam pengolahan in-formasi, eksplorasi alternatif, serta proses kreatif.

Workshop Visual Note dan Susur Tukad Badung melengkapi pendeka-tan tersebut dengan mengajak peserta membaca hubungan antara sungai, bangunan, aktivitas masyarakat, dan karakter kawasan melalui observasi serta pencatatan visual.

Pameran karya penelitian dan pengabdian kepada masyarakat juga menghadirkan karya dari bidang arsitektur, interior, perencanaan wila-yah dan kota, teknik sipil, arsitektur lanskap, serta berbagai disiplin terkait.

Pameran tersebut diarahkan sebagai ruang pertukaran pengetahuan agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi dapat dikritisi, dikembangkan, dan membuka peluang kolaborasi baru.

Agenda strategis lainnya adalah Kolokium IPLBI 2026 yang mengangkat tema “Peran Peneliti Lingkungan Binaan dalam Menjawab Masalah Bangsa: Dari Riset Menuju Dampak.”

Forum tersebut mempertanyakan kembali posisi penelitian, bukan hanya mengenai apa yang dihasilkan, tetapi juga untuk siapa penelitian dilakukan dan sejauh mana hasilnya memberikan manfaat.

Pembahasan mencakup berbagai isu, antara lain kapasitas riset, kesen-jangan wilayah, kesehatan lingkungan, transformasi digital dan AI, krisis energi, transisi hijau, serta erosi identitas budaya.

IPLBI memandang jejaring peneliti perlu mengambil peran lebih besar sebagai penghubung antara pengetahuan, kebijakan, profesi, dan kebu-tuhan masyarakat.

Kolokium tersebut kemudian bermuara pada penyusunan Carta IPLBI, yang merumuskan posisi, prinsip, kepedulian, serta komitmen organ-isasi terhadap persoalan lingkungan binaan di Indonesia.

Semangat forum dirangkum dalam pesan:

“Pengetahuan yang tidak berdampak adalah pengetahuan yang belum selesai.”

Ditutup dengan Jelajah Arsitektur dan Budaya Bali

Rangkaian TI IPLBI 14 ditutup pada 5 September 2026 melalui kegiatan jelajah arsitektur dan budaya Bali, antara lain ke Pura Taman Ayun, Pu-ri Ageng Mengwi, dan Puri Agung Kerambitan.

Kegiatan tersebut menegaskan bahwa pembicaraan mengenai teknologi dan keberlanjutan perlu tetap berakar pada pembacaan terhadap tem-pat, masyarakat, dan kebudayaan.

Kehadiran 161 peserta dari 59 institusi menunjukkan bahwa persoalan lingkungan binaan tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin atau insti-tusi saja.

Perubahan iklim, transformasi digital, kualitas perkotaan, ketimpangan wilayah, dan keberlanjutan budaya membutuhkan kerja pengetahuan secara kolaboratif.

Dari Bali, IPLBI menegaskan arah tersebut, yakni dari lokalitas menuju pengetahuan, dari pengetahuan menuju kolaborasi, dan dari riset menuju dampak.

Estafet Temu Ilmiah berikutnya akan dilanjutkan melalui TI IPLBI 15 pa-da 2027. Universitas Ciputra Surabaya dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan tersebut.