MITRAPOL.com, Banjarmasin – Bedah buku “Ngaji Sugih” karya Soraya, SH.,MH.,CHt.,MNLP.,MPI, di Wisma Hijau Intira, Banjarmasin, Senin (7/9/2026), mengajak peserta memaknai kekayaan dari perspektif yang lebih luas.
Kegiatan yang mengusung tema “Ngaji Sugih, Hidup Berkah, Masa Depan Lebih Cerah” itu dihadiri 99 peserta secara langsung dan diikuti lebih dari 1.000 peserta secara daring melalui jaringan MAHANTIRA serta masyarakat umum.
Dalam forum tersebut, “sugih” tidak hanya dimaknai sebagai kelimpahan materi, tetapi juga dikaitkan dengan kejernihan pikiran, ketenangan batin, rasa syukur, hubungan baik dengan sesama, serta kebermanfaatan bagi lingkungan.
Soraya mengatakan, salah satu gagasan utama dalam bukunya adalah pentingnya seseorang melihat ke dalam dirinya ketika menghadapi persoalan kehidupan.
“Banyak orang kalau terjadi masalah dan stres selalu bertanya ke luar dirinya, dan sering kali tidak ada jalan keluarnya. Kita lupa bertanya ke ‘dalam’ diri,” ujar Soraya.
Menurutnya, kemampuan memahami dan membenahi diri menjadi bagian penting dalam proses menghadapi berbagai persoalan. Ia merangkum pesan tersebut dalam empat hal, yakni sadar, sabar, syukur, dan memperbanyak menabung kebaikan.
Konsep “menabung kebaikan” menjadi salah satu pembahasan utama dalam kegiatan tersebut.
Kebaikan dipandang sebagai investasi kehidupan yang dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan, mulai dari membantu orang lain, berbagi ilmu, menjaga perkataan hingga memudahkan urusan sesama.
Nuansa budaya lokal turut menjadi bagian dari kegiatan. Acara dibuka penampilan Musik Panting Nusantara (MUPANTARA) pimpinan Dr. Suyanto, CFP, yang membawakan lagu Baras Kuning dan Lir-Ilir.
Musik tradisional tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga digunakan sebagai bagian dari refleksi nilai kehidupan.
Lir-Ilir, misalnya, dimaknai sebagai ajakan untuk membangun kesadaran, memperbaiki diri, dan terus bertumbuh.
Sementara Baras Kuning menghadirkan nuansa budaya Banjar yang memperkuat kedekatan kegiatan dengan kearifan lokal.
Diskusi dipandu Gusti Fadhila Maulida, Direktur MAHANTIRA. Soraya hadir sebagai narasumber utama bersama Anita dan Dr. Suyanto, CFP.
Pembahasan kemudian berkembang pada hubungan antara penguatan diri dan kehidupan ekonomi masyarakat.
Gusti Fadhila Maulida mengajak peserta membangun lingkungan yang positif dan produktif sebagai bagian dari proses pengembangan diri sekaligus membuka peluang ekonomi.
Menurutnya, lingkungan dan komunitas dapat memengaruhi pola pikir, proses belajar, serta keberanian seseorang dalam mengambil peluang.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penampilan MUPANTARA yang membawakan lagu Sangu Batolak.
Lagu tersebut menjadi simbol tentang pentingnya bekal dalam menjalani perjalanan kehidupan, bukan hanya berupa materi, tetapi juga ilmu, karakter, kebaikan, dan nilai-nilai kehidupan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik Terapi Quantum Touch kepada sembilan peserta.
Melalui perpaduan literasi, budaya, refleksi spiritual, dan pemberdayaan ekonomi, bedah buku Ngaji Sugih membawa pesan bahwa keberlimpahan tidak semata-mata diukur dari apa yang berhasil dikumpulkan seseorang, tetapi juga dari kesadaran, rasa syukur, dan manfaat yang diberikan kepada sesama.












