Nusantara

Meningkatnya Kehadiran Imigran Gelap Etnis Rohingya di Aceh, Tantangan Pengawasan Perbatasan Perairan Indonesia

Admin
×

Meningkatnya Kehadiran Imigran Gelap Etnis Rohingya di Aceh, Tantangan Pengawasan Perbatasan Perairan Indonesia

Sebarkan artikel ini
Meningkatnya Kehadiran Imigran Gelap Etnis Rohingya di Aceh, Tantangan Pengawasan Perbatasan Perairan Indonesia

Penulis : Rian

MITRAPOL.com, Aceh Selatan – Beberapa tahun terakhir ini, Aceh menjadi sorotan akibat meningkatnya jumlah imigran gelap dari etnis Rohingya. Kedatangan mereka sering dilakukan dengan cara berisiko tinggi, mengundang kekhawatiran di kalangan masyarakat lokal dan menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas pengawasan perbatasan perairan Indonesia.

Pada 18 Oktober 2024, perairan Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan, kembali menjadi lokasi pendaratan imigran Rohingya. Sekitar 150 orang tiba dengan kapal nelayan, namun perjalanan mereka tidak tanpa tragedi; beberapa di antaranya dilaporkan meninggal dunia di tengah perjalanan dan dibuang ke laut oleh sesama etnis Rohingya.

Imigran Rohingya yang melarikan diri dari konflik di Myanmar ini menginginkan kehidupan yang lebih baik, namun kondisi yang mereka hadapi sangat memprihatinkan. Masyarakat Aceh yang dikenal memiliki tradisi membantu pengungsi, kini merasa tertekan karena Mereka mulai meragukan motif kedatangan para imigran setelah terungkapnya praktik perdagangan manusia yang melibatkan beberapa pelaku yang telah ditangkap oleh pihak keamanan.

Pengawasan perbatasan perairan Indonesia, khususnya di Aceh, menghadapi tantangan besar. Meski aparat keamanan dan penjaga pantai telah berusaha,

Celah-celah dalam pengawasan masih dimanfaatkan oleh penyelundup manusia untuk membawa imigran. Masyarakat mendesak pemerintah pusat untuk mengambil langkah fokus dalam menangani masalah ini. Harapan tuntutan untuk memperkuat pengawasan di perbatasan laut dan menciptakan kerjasama internasional yang lebih solid, sehingga Indonesia tidak menjadi tempat transit, imigran gelap

Di tengah tantangan ini, isu kemanusiaan semakin mendesak. Masyarakat lokal merasa terjepit antara keinginan untuk membantu mereka yang menderita yang membutuhkan bantuan. Beberapa organisasi non-pemerintah telah berusaha memberikan bantuan, namun mereka menghadapi banyak kendala, termasuk kekurangan sumber daya dan anggaran.

Ke depan, penting bagi pemerintah untuk tidak hanya memfokuskan perhatian pada aspek kejadian akhir terdampar nya imigran diperairan aceh, sementara ada hal proses terdampar itu tidak akan terjadi jika perbatasan di jaga dengan ketat oleh pihak berwenang.

Situasi ini harus menjadi panggilan bagi semua pihak untuk bertindak. Masyarakat Aceh berharap pemerintah pusat dapat mengambil langkah tegas dan efektif demi keamanan, stabilitas, dan kemanusiaan di wilayah ini.

Jangan ujung nya Masyarakat di salahkan Atas kejadian Penolakan terhadap imigran, jangan kejadian ini terus berulang di negara yang besar seperti Indonesia.