MITRAPOL.com, Pidie Jaya Aceh – Yunidar (50), seorang janda dengan tiga orang anak asal Dusun Bineh Paya, Desa Beuringen, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, mengaku rumahnya rusak parah akibat banjir dan longsor yang melanda wilayah Aceh. Hingga kini, rumah tersebut disebut belum tersentuh pendataan maupun bantuan rehabilitasi pascabencana.
Keluhan tersebut disampaikan Yunidar saat menghubungi awak media, Senin (26/1/2026). Dengan suara bergetar, ia menceritakan kondisi rumah satu-satunya yang mengalami kerusakan berat akibat bencana alam, namun belum masuk dalam daftar penerima bantuan.
“Rumah itu satu-satunya harta dan harapan kami,” ujar Yunidar lirih.
Sebelum bencana terjadi, Yunidar terpaksa meninggalkan kampung halamannya di Pidie Jaya dan menetap di Kota Bogor, Jawa Barat, untuk mengikuti salah satu anaknya yang bekerja sebagai buruh harian lepas. Saat ini, mereka tinggal di rumah kontrakan sederhana di wilayah Cimanggu Lamping, Kelurahan Kedung Waringin, Kecamatan Tanah Sareal.
Kondisi ekonomi yang serba terbatas membuat Yunidar dan keluarganya kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Untuk makan saja kami susah, apalagi harus pulang ke Aceh,” ungkapnya.
Melalui pemberitaan ini, Yunidar berharap pemerintah daerah hingga pemerintah provinsi dapat memberikan perhatian terhadap kondisi rumahnya yang rusak akibat bencana. Ia menyebutkan harapannya kepada Keuchik Desa Beuringen, Camat Meurah Dua, Bupati Pidie Jaya, DPRK Pidie Jaya, Pemerintah Aceh, hingga Gubernur Aceh H. Muzakir Manaf.
Yunidar memohon agar rumahnya dapat dimasukkan ke dalam program bantuan pembangunan atau rehabilitasi rumah layak huni bagi warga terdampak bencana.
“Saya janda dengan tiga anak. Saya tidak punya apa-apa lagi selain rumah itu. Saya berharap suatu hari bisa kembali dan berkumpul bersama anak-anak di sana,” tuturnya.
Ia juga berharap dapat memperoleh bantuan rumah dari program pemerintah pusat. Menurutnya, sebagai warga Aceh dan warga negara Indonesia, dirinya memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perlindungan dan bantuan negara.
“Jangan pandang kami yang miskin ini sebelah mata. Kami hanya berharap bisa punya rumah yang layak untuk berteduh,” ujarnya.
Kisah Yunidar mencerminkan kondisi sebagian warga terdampak bencana yang masih menanti perhatian dan tindak lanjut dari pihak terkait. Ia berharap, melalui penyampaian ini, pemerintah dapat segera melakukan pendataan ulang dan memberikan solusi nyata agar korban bencana tidak terus berada dalam ketidakpastian.












