Jakarta

Ziarah HPN 2026, AMKI Kenang Perjuangan Pers di Makam BM Diah dan Rosihan Anwar

Admin
×

Ziarah HPN 2026, AMKI Kenang Perjuangan Pers di Makam BM Diah dan Rosihan Anwar

Sebarkan artikel ini
AMKI Kenang Perjuangan Pers di Makam BM Diah dan Rosihan Anwar
Jajatan pengurus AMKI Pusat dan daerah di Taman Makam Pahlawan Utama Kalibata. Selasa (3/2).

MITRAPOL.com, Jakarta – Suasana Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) Kalibata terasa lebih hening dari biasanya, Selasa (3/2/2026) siang. Di antara deretan pusara para tokoh bangsa, jajaran Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) menundukkan kepala, menabur bunga, dan merawat ingatan kolektif tentang pers yang lahir dari perjuangan.

Ziarah tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026, yang akan dilaksanakan di Provinsi Banten, 6 – 9 Februari 2026, sekaligus mengenang dua tokoh besar jurnalistik Indonesia, BM Diah dan Rosihan Anwar, yang telah meletakkan fondasi penting bagi pers nasional.

Prosesi berlangsung khidmat dan diikuti para pengurus AMKI Pusat dan Daerah, hadir Ketua Umum AMKI Pusat Tundra Meliala, Ketua Dewan Pengawas Marsekal Madya TNI (Purn.) Dede Rusamsi, Sekretaris Jenderal Dadang Rachmat, Bendahara Umum Umi Sjarifah, Ketua AMKI DKI Jakarta Heryanto, Ketua AMKI Jawa Barat Catur Aziyanto, serta jajaran Ketua Bidang dan pengurus lainnya.

Bagi AMKI, ziarah ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi atas perjalanan pers Indonesia, sebuah profesi yang sejak awal kemerdekaan telah memikul tanggung jawab sejarah, sekaligus terus diuji oleh dinamika politik, ekonomi, dan perubahan teknologi.

Ketua Umum AMKI Tundra Meliala menyebut BM Diah dan Rosihan Anwar sebagai figur wartawan yang mampu menautkan idealisme jurnalistik dengan kesadaran kebangsaan.

“Jurnalisme Indonesia tidak dibangun hanya oleh berita dan tajuk rencana, tetapi oleh keberanian sikap dan kesediaan memikul risiko sejarah,” ujar Tundra.

BM Diah, yang lahir di Kutaraja, Aceh, pada 7 April 1917, dikenal sebagai jurnalis, diplomat, sekaligus pengusaha pers. Namanya tercatat dalam sejarah nasional karena perannya menyelamatkan naskah asli Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan pada masa transisi kepemimpinan nasional periode 1966–1968. Pada 1 Oktober 1945, BM Diah mendirikan harian Merdeka dan memimpinnya hingga akhir hayat, menjadikan surat kabar tersebut sebagai corong perjuangan kemerdekaan pers dan tanggung jawab informasi kepada publik.

“BM Diah adalah simbol pers yang lahir dari perjuangan dan tidak pernah tercerabut dari kepentingan bangsa,” kata Tundra.

Sementara itu, Rosihan Anwar, lahir di Sumatera Barat pada 10 Mei 1922 dan wafat di Jakarta pada 14 April 2011, dia dikenal sebagai wartawan, penulis, dan penyair yang produktif. Ia pernah memimpin harian Pedoman, surat kabar yang dikenal kritis dan independen di tengah tekanan politik pada masanya.

Rosihan tidak hanya meninggalkan ribuan artikel jurnalistik, tetapi juga berbagai karya sastra dan esai reflektif. Ia aktif memperkuat organisasi pers, termasuk Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), serta mendorong peningkatan profesionalisme wartawan melalui diskusi dan pendidikan pers.

Kini, BM Diah dan Rosihan Anwar dimakamkan dalam satu kompleks di TMPN Kalibata sebagai bentuk penghormatan negara atas jasa mereka. Lebih dari sekadar tempat peristirahatan terakhir, keberadaan makam keduanya menjadi simbol perjalanan pers Indonesia.