MITRAPOL.com, Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau–Ciujung–Cidurian (BBWS C3) bersama Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Marga Mandalasakti melakukan penanganan cepat pascabanjir yang sempat menggenangi ruas Jalan Tol Tangerang–Merak KM 50.
Sebagai langkah darurat, BBWS C3 membangun tanggul sementara di sisi jalan tol menggunakan geobag dan Movable Concrete Barrier (MCB) sepanjang sekitar 300 meter. Langkah ini dilakukan untuk menahan limpasan air agar tidak kembali menggenangi badan jalan tol.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana hidrometeorologi.
“Kementerian PU berkomitmen untuk terus memberikan dukungan infrastruktur pengendalian banjir, baik melalui langkah darurat maupun penanganan jangka panjang, agar risiko bencana dapat diminimalkan,” ujar Menteri Dody.
Dengan pemasangan geobag dan MCB tersebut, ruas Tol Tangerang–Merak KM 50 yang merupakan jalur strategis mobilisasi barang dan penumpang dari Pulau Jawa menuju Sumatera maupun sebaliknya, kini telah kembali pulih dan dapat dilalui secara aman oleh seluruh golongan kendaraan.
Selain pemulihan fungsi jalan tol, BBWS C3 juga melakukan penanganan darurat di sejumlah wilayah Provinsi Banten yang terdampak banjir dan longsor akibat meningkatnya debit Sungai Cidurian. Dua unit mobile pump berkapasitas masing-masing 250 liter per detik dikerahkan untuk mengatasi genangan di Pondok Pesantren Sabulussalam, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang.
Langkah tersebut dilakukan guna memastikan aktivitas belajar mengajar di lingkungan pesantren dapat kembali berjalan normal.
Kepala BBWS Cidanau–Ciujung–Cidurian, Dedi Yudha Lesmana, menyampaikan bahwa seluruh peralatan dan material kebencanaan telah disiagakan untuk mendukung penanganan darurat di lapangan.
“Peralatan dan material kebencanaan milik BBWS C3 siap digunakan. Namun, kami tetap memperhatikan kondisi lapangan, terutama akses menuju lokasi, sebelum menentukan metode penanganan yang paling tepat,” kata Dedi.
Sebagai langkah antisipasi, mobile pump masih disiagakan di lokasi mengingat debit Sungai Cidurian masih relatif tinggi dan berpotensi menimbulkan genangan susulan. Sementara itu, untuk penanganan longsor sepanjang sekitar 200 meter di Desa Carenang, Kecamatan Cisoka, yang mengakibatkan delapan rumah warga runtuh, BBWS C3 melakukan perkuatan pada bibir sungai guna mencegah meluasnya kerusakan permukiman.
Pada penanganan darurat Sungai Cidurian, BBWS C3 menerapkan metode pemasangan bronjong di sepanjang tepi sungai. Bronjong berupa anyaman kawat berlapis galvanis yang diisi batu berfungsi menahan arus sungai, mengurangi tekanan tanah, serta mencegah terjadinya longsor lanjutan tanpa menghambat aliran air.
Untuk solusi jangka panjang, BBWS C3 telah menyiapkan desain pembangunan tanggul permanen Sungai Cidurian melalui perkuatan tanggul dengan pemasangan parapet serta pembangunan pintu air. Langkah tersebut diharapkan mampu menjadi solusi pengendalian banjir yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
BBWS Cidanau–Ciujung–Cidurian juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Tangerang serta instansi terkait guna memastikan seluruh langkah penanganan darurat berjalan efektif, sehingga aktivitas masyarakat dan konektivitas wilayah dapat pulih secara berkelanjutan.












