Opini

Sang Penakluk Dunia Lewat Kata: Jejak Perjalanan Seorang Wartawan Mengharumkan Bangsa

Admin
×

Sang Penakluk Dunia Lewat Kata: Jejak Perjalanan Seorang Wartawan Mengharumkan Bangsa

Sebarkan artikel ini
Sang Penakluk Dunia Lewat Kata
Heru Riyadi, SH.,MH, Penasehat DPP AMKI & Dosen Universitas Pamulang.

oleh : Heru Riyadi
Penasehat DPP AMKI & Dosen Universitas Pamulang.

Jakarta – Siapa yang tak kenal dengan Bung Adam Malik, pria berpostur tubuh kecil kurus namun cerdik, lincah dan gesit bagaikan seekor kancil, Dengan hanya bermodalkan Ijazah Madrasah, Pria asal Sumut ini menjadi satu-satunya orang Indonesia yang pernah memimpin sidang PBB

Di dunia diplomasi yang penuh dengan gelar mentereng dari universitas kelas dunia, nama Adam Malik Batubara muncul sebagai sebuah anomali yang luar biasa. Pria asal Pematangsiantar, Sumatera Utara ini membuktikan bahwa kecerdasan tidak selalu lahir dari bangku kuliah, melainkan dari tempaan pengalaman dan nyali yang tak terbatas.

Siapa sangka, sosok yang hanya sempat mengenyam pendidikan di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek ini kelak jadi orang Indonesia pertama—dan satu-satunya hingga detik ini—yang pernah menduduki posisi paling bergengsi sebagai Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dijuluki si Kancil dari Siantar, Belajar di “Universitas Kehidupan”, Adam Malik, lahir pada tanggal 22 Juli 1917, Adam Malik adalah anak seorang pedagang kaya, namun, alih-alih berpangku tangan pada kekayaan orang tua, ia memilih merantau ke Jakarta di usia 20 Tahun. Pendidikan formalnya terhenti di tingkat madrasah karena ia lebih memilih membantu orang tua berdagang.

Namun di perantauan, ia belajar secara autodidak dari seorang pedagang, ia bertransformasi menjadi wartawan militan. Dengan dengan modal nekat dan mesin tik tua, ia bersama rekan-rekannya, ia mendirikan Kantor Berita Antara. Di tangan “Si Kancil”—julukan akrabnya karena kecerdikannya—berita-berita perjuangan Indonesia berhasil menembus barikade informasi penjajah.

Mencetak Sejarah di Podium PBB

Karier diplomatik Adam Malik mencapai puncaknya pada tahun 1971. Dalam sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York, pria bersahaja dari Sumatra Utara ini terpilih menjadi Ketua/Presiden Majelis Umum PBB.

Di gedung kaca yang jadi pusat politik dunia tersebut, Adam Malik memimpin jalannya persidangan penting, termasuk memutuskan keanggotaan Republik Rakyat Tiongkok (RRC) di PBB. Dunia Internasional terperangah melihat seorang autodidak mampu memimpin forum diplomatik paling rumit di bumi dengan sangat tenang dan piawai.

“Semua Bisa Diatur”: Diplomasi Tanpa Sekat, Adam Malik dikenal memiliki “1001 jawaban” untuk setiap masalah. Kalimat legendarisnya, “Semua bisa diatur”, jadi ciri khas gaya diplomasinya. Bagi Bung Adam, tidak ada kebuntuan yang tidak bisa dipecahkan melalui komunikasi yang cerdas.

Berkat kepiawaiannya pula, Indonesia berhasil kembali menjadi anggota PBB pada 1966 dan menjadi salah satu pendiri ASEAN melalui Deklarasi Bangkok pada tahun 1967. Ia adalah bukti nyata bahwa bahasa diplomasi tidak melulu soal istilah teknis yang rumit, melainkan soal integritas dan kemampuan meyakinkan orang lain.

Dari Istana Wakil Presiden hingga Akhir Hayat

Setelah sukses mengharumkan nama bangsa di kancah global dan menjabat sabagai Menteri Luar Negeri selama 11 Tahun, Adam Malik mencapai puncak pengabdian domestiknya saat dilantik menjadi Wakil Presiden RI ketiga pada tahun 1978.

Meskipun sudah berada di puncak kekuasaan, ia tetaplah sosok yang rendah hati dan ceplas-ceplos. Ia wafat pd 5 September 1984 dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada Tahun 1998 sabagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya yang tak ternilai.

Inspirasi untuk Generasi Muda

Kisah Adam Malik adalah pengingat keras bagi kita semua: bahwa keterbatasan latar belakang pendidikan bukanlah penghalang untuk mengguncang dunia.

Gajah mati meninggalkan gading,

Manusia mati meninggalkan nama.