Oleh: Melki Deni, S.Fil.
Mahasiswa studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol
MITRAPOL.com, Jakarta – Kita sedang hidup dalam zaman ketika batas antara ruang publik dan ruang privat semakin kabur, Media sosial memungkinkan seseorang membawa pengalaman pribadi, tubuh, emosi, bahkan persoalan keluarga ke ruang yang dapat disaksikan jutaan orang dalam hitungan detik.
Di tengah kemudahan itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah perkembangan teknologi komunikasi juga diikuti oleh perkembangan rasa hormat terhadap sesama?
Pertanyaan ini penting karena persoalan komunikasi digital bukan semata-mata soal teknologi, ia menyentuh cara manusia memandang dirinya sendiri dan orang lain.
Ketika privasi mudah dipertontonkan, ketika identitas dapat disembunyikan di balik akun anonim, dan ketika penghargaan terhadap seseorang sering diukur melalui jumlah like, komentar, serta pengikut, rasa hormat berhadapan dengan tantangan yang jauh lebih kompleks.
Belajar dari ruang sosial masyarakat kampung
Sekitar satu setengah dekade lalu, kehidupan sosial di Kampung Mbawar, Desa Bajak, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, memberikan pengalaman yang menurut saya menarik untuk direnungkan.
Pada masa itu, fasilitas kamar mandi dan toilet pribadi belum banyak tersedia, sebagian masyarakat masih menggunakan fasilitas bersama. Namun, keterbatasan ruang fisik tersebut tidak serta-merta menghilangkan privasi.
Penggunaan fasilitas umum diatur berdasarkan waktu, Perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan masing-masing untuk menggunakan tempat mandi dan mencuci, ketika seseorang sedang berada di ruang tersebut, masyarakat memahami bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar.
Tidak mengintip, tidak mengganggu, dan tidak mengambil keuntungan dari situasi privat orang lain bukan sekadar aturan tertulis, ia tumbuh sebagai kesadaran sosial.
Bagi saya, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa privasi tidak selalu bergantung pada keberadaan tembok, pintu atau teknologi, privasi juga lahir dari kesadaran bahwa orang lain memiliki batas yang harus dihormati.
Dalam perspektif fenomenologi, kesadaran semacam itu dapat dipahami sebagai kesadaran terhadap kehadiran orang lain sebagai subjek, sesama manusia bukan objek yang bebas dilihat, dinilai, dikonsumsi atau dieksploitasi sesuai keinginan kita.
Persoalannya, kesadaran tersebut menghadapi tantangan baru di era digital.
Ketika jarak sosial menghilang
Rasa hormat membutuhkan jarak, bukan jarak yang membuat manusia saling menjauh, melainkan jarak yang memungkinkan seseorang menyadari bahwa dirinya tidak berhak memasuki seluruh wilayah kehidupan orang lain.
Di media sosial, jarak tersebut semakin tipis, kehidupan pribadi seseorang dapat muncul di layar orang lain tanpa harus ada perjumpaan fisik, foto, video, percakapan, konflik keluarga, hingga pengalaman yang seharusnya bersifat intim dapat berubah menjadi konsumsi publik.
Pada titik tertentu, kita tidak lagi sekadar respectare—melihat atau memandang dengan penuh pertimbangan—tetapi bergeser menjadi spectare, melihat untuk mengonsumsi.
Perubahan tersebut berbahaya ketika manusia mulai menikmati kehidupan pribadi orang lain sebagai tontonan.
Budaya digital kemudian menciptakan paradok, di satu sisi, manusia menginginkan kebebasan berekspresi, di sisi lain, kebebasan itu dapat berubah menjadi dorongan untuk terus mempertontonkan diri demi mendapatkan perhatian.
Tubuh, kehidupan pribadi, kesedihan, konflik, bahkan penderitaan dapat menjadi materi untuk memperoleh validasi sosial.
Anonimitas dan krisis tanggung jawab
Masalah lain muncul dari anonimitas.
Dalam komunikasi tatap muka, seseorang berhadapan langsung dengan identitas dan ekspresi orang lain, ada wajah, suara, gestur, serta reaksi yang dapat dilihat secara langsung, semua itu secara psikologis dapat menjadi rem bagi seseorang sebelum mengucapkan sesuatu yang menyakiti orang lain.
Di ruang digital, rem tersebut tidak selalu tersedia.
Seseorang dapat menulis komentar kasar, menyebarkan tuduhan, mempermalukan orang lain, atau ikut menyerang seseorang tanpa harus berhadapan langsung dengan orang yang menjadi sasaran.
Di sinilah komunikasi digital dapat berubah menjadi amuk massa atau shitstorm: banyak orang bereaksi terhadap sebuah persoalan tanpa selalu memahami konteksnya secara utuh.
Masalahnya bukan hanya bahasa yang kasar, yang lebih mendasar adalah hilangnya kesadaran bahwa di balik sebuah akun terdapat manusia dengan martabat, pengalaman, keluarga, dan perasaan.
Ketika nama dan wajah tidak lagi terasa penting, tanggung jawab moral pun mudah mengendur.
Ketika kebebasan menjadi komoditas
Pemikiran Byung-Chul Han membantu kita membaca persoalan ini secara lebih kritis, dalam Psicopolítica: Neoliberalismo y nuevas técnicas de poder, Han menjelaskan perubahan bentuk kekuasaan dalam masyarakat neoliberal.
Kekuasaan modern tidak selalu bekerja melalui larangan dan paksaan. Ia dapat bekerja melalui kebebasan, keinginan, partisipasi, dan dorongan untuk terus mengoptimalkan diri.
Media sosial memperlihatkan paradoks tersebut.
Kita merasa bebas untuk mengunggah apa pun, kita merasa bebas membangun citra diri. Kita merasa bebas menunjukkan kehidupan kepada publik.
Namun, pada saat yang sama, aktivitas tersebut menghasilkan data yang dapat diproses, dikategorikan, dan dimanfaatkan oleh sistem digital.
Semakin sering kita tampil, semakin banyak jejak digital yang kita tinggalkan.
Pada akhirnya, kebebasan berekspresi dapat bertemu dengan kepentingan ekonomi, perhatian manusia menjadi komoditas, waktu manusia menjadi sumber daya. Data pribadi menjadi aset.
Dalam situasi demikian, seseorang dapat merasa semakin bebas di media sosial, tetapi justru semakin terikat pada kebutuhan untuk terus tampil, terus berinteraksi, dan terus mendapatkan pengakuan.
Kita kemudian memasuki lingkaran yang paradoksal: bekerja untuk membiayai gaya hidup, mengonsumsi untuk membangun identitas, kemudian kembali bekerja untuk mempertahankan identitas tersebut.
Pertanyaannya, apakah kebebasan masih benar-benar bebas ketika ia harus terus dipertontonkan agar diakui?
AI dan masa depan kemanusiaan
Kehadiran kecerdasan buatan membawa persoalan tersebut ke tingkat yang lebih kompleks.
AI mampu mengolah data dalam jumlah yang jauh melampaui kemampuan manusia, ia dapat mengenali pola, menghasilkan teks, membuat gambar, menyusun prediksi, dan membantu berbagai aktivitas manusia.
Namun, kemampuan komputasional tidak dengan sendirinya sama dengan pengalaman manusia.
AI tidak mengalami nostalgia sebagaimana manusia mengalaminya. Ia tidak merindukan rumah, kehilangan orang yang dicintai, merasakan kesepian, atau mengalami luka batin sebagaimana manusia.
AI dapat memproses narasi tentang pengalaman tersebut, tetapi pemrosesan data tidak identik dengan mengalami pengalaman itu sendiri.
Karena itu, persoalan terbesar bukan semata-mata apakah AI akan menggantikan manusia, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah manusia akan mulai memandang dirinya sendiri seperti mesin?
Jika segala sesuatu hanya dinilai berdasarkan data, angka, efisiensi, prediksi, dan korelasi, pengalaman manusia yang unik berisiko kehilangan tempat.
Kehidupan manusia bukan hanya kumpulan data, ada ingatan, hubungan, kesetiaan, kasih sayang, rasa bersalah, harapan, penderitaan, iman, dan pencarian makna yang tidak selalu dapat direduksi menjadi angka.
Infokrasi dan hilangnya kemampuan mendengarkan
Dalam Infocracia: Digitalización y la crisis de la democracia, Byung-Chul Han menggambarkan bagaimana banjir informasi dan mekanisme digital dapat memengaruhi ruang publik.
Masalahnya bukan karena manusia kekurangan informasi. Justru sebaliknya, manusia memiliki terlalu banyak informasi.
Kita menerima begitu banyak pesan setiap hari, tetapi belum tentu semakin mampu memahami satu sama lain.
Algoritma dapat mempertemukan kita dengan informasi yang sesuai dengan preferensi sendiri.
Akibatnya, seseorang semakin sering mendengar suara yang memperkuat keyakinannya sendiri dan semakin jarang berhadapan dengan pandangan yang berbeda.
Ruang publik kemudian berpotensi berubah menjadi kumpulan ruang-ruang kecil yang saling berteriak.
Dalam kondisi seperti itu, kemampuan mendengarkan menjadi semakin penting.
Mendengarkan bukan sekadar menunggu giliran untuk berbicara. Mendengarkan berarti memberi ruang kepada orang lain untuk hadir sebagai dirinya sendiri.
Han, dalam pembahasannya mengenai krisis rasa hormat, mengingatkan tentang hilangnya keterbukaan terhadap yang lain dan munculnya apa yang ia sebut sebagai bentuk pendengaran yang narsistik. Manusia akhirnya hanya mendengar dirinya sendiri.
Jika itu terjadi, komunikasi kehilangan fungsi dasarnya.
Dari privasi menuju martabat
Karena itu, persoalan privasi tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai persoalan teknis keamanan data.
Privasi berhubungan dengan martabat manusia.
Ada bagian dari kehidupan seseorang yang memang tidak harus diketahui publik, ada percakapan yang seharusnya tetap menjadi percakapan keluarga, ada pengalaman yang tidak perlu menjadi konten. Ada tubuh yang tidak harus menjadi komoditas visual, ada kesedihan yang tidak harus menjadi tontonan.
Menjaga privasi bukan berarti manusia harus menutup diri dari dunia, sebaliknya, privasi memungkinkan seseorang memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri tanpa terus-menerus dinilai oleh publik.
Di sinilah rasa malu juga memiliki fungsi sosial yang positif.
Rasa malu dalam pengertian ini bukan alat untuk menghakimi atau mempermalukan orang lain, rasa malu adalah kesadaran bahwa tidak semua hal layak dipertontonkan dan tidak semua wilayah kehidupan boleh dimasuki orang lain.
Kita membutuhkan kembali kesadaran tentang batas.
Batas antara yang boleh dibagikan dan yang sebaiknya disimpan. Batas antara kebebasan dan tanggung jawab.
Batas antara ekspresi diri dan eksploitasi diri. Batas antara melihat dan mengintip. Batas antara mengapresiasi dan mengobjektifikasi.
Mengembalikan manusia ke pusat teknologi
Kita tidak mungkin kembali ke masa sebelum internet. Kita juga tidak perlu memusuhi teknologi.
Persoalannya adalah bagaimana memastikan teknologi tetap menjadi alat bagi manusia, bukan manusia yang sepenuhnya tunduk pada logika teknologi.
Kita perlu membangun kembali kebiasaan berinteraksi secara langsung. Berbicara tanpa selalu melihat layar. Mendengarkan tanpa tergesa-gesa memberikan respons.
Berkumpul tanpa harus merekam setiap peristiwa. Menghabiskan waktu bersama keluarga tanpa merasa perlu mengunggahnya ke media sosial.
Hal-hal sederhana semacam itu mungkin terlihat kecil, tetapi justru di sanalah hubungan manusia dibangun.
Kita juga perlu mendidik generasi muda mengenai etika digital, literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan aplikasi, menghindari penipuan daring, atau menjaga kata sandi.
Literasi digital harus mencakup kemampuan menghormati privasi, memahami konsekuensi jejak digital, memeriksa informasi, menghargai perbedaan, dan menyadari bahwa setiap akun media sosial dimiliki oleh manusia.
Pada akhirnya, teknologi tidak dapat menyelesaikan persoalan yang berasal dari krisis kesadaran manusia.
Algoritma dapat membantu kita menemukan informasi, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab moral.
Kecerdasan buatan dapat membantu kita menghasilkan tulisan dan gambar, tetapi tidak dapat mengambil alih tanggung jawab kita dalam memperlakukan sesama.
Karena itu, pemulihan rasa hormat harus dimulai dari manusia sendiri.
Kita perlu belajar kembali untuk berhenti sejenak sebelum mengunggah sesuatu. Berpikir sebelum berkomentar.
Mendengarkan sebelum menghakimi. Menghormati sebelum mengekspos. Dan yang paling penting, memahami bahwa tidak semua yang dapat kita lihat berarti berhak kita konsumsi.
Mungkin inilah bentuk perlawanan paling sederhana terhadap budaya digital yang serba terbuka: mempertahankan hak manusia untuk memiliki sesuatu yang tetap menjadi miliknya sendiri.
Ruang privat bukan musuh ruang public, justru karena manusia memiliki ruang privat, ia dapat hadir di ruang publik dengan identitas, martabat, dan tanggung jawab.
Maka, di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, mungkin yang paling kita butuhkan bukan lebih banyak suara, melainkan kemampuan untuk mendengarkan.
Mendengarkan orang lain, mendengarkan keluarga, mendengarkan hati nurani dan, sesekali, mendengarkan diri sendiri dalam keheningan.
Di sanalah rasa hormat mungkin dapat ditemukan kembali.












