MITRAPOL.com, Merauke — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengoptimalkan infrastruktur irigasi di Daerah Irigasi (DI) Waninggap Kai, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, untuk mendukung program Cetak Sawah Rakyat (CSR) yang dikembangkan Kementerian Pertanian.
Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan saluran irigasi sekunder untuk membantu memenuhi kebutuhan air bagi sekitar 1.000 hektare lahan sawah yang telah ditanami padi.
Panen di kawasan tersebut ditargetkan berlangsung pada awal November 2026.
Dukungan infrastruktur sumber daya air menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan pertanian di Merauke.
Wilayah ini memiliki potensi lahan yang luas, tetapi ketersediaan air perlu dikelola agar pertumbuhan tanaman tetap terjaga, terutama saat memasuki periode kering.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, peran utama Kementerian PU dalam pengembangan pertanian adalah menyediakan infrastruktur sumber daya air yang mendukung kebutuhan lahan pertanian.
“Kalau kita bicara sawah, porsi PU sebenarnya soal air. Kita siapkan irigasi primer, irigasi sekunder. Dari awal memang kita desain supaya airnya tersedia, kemudian pertanian yang mengembangkan lahannya,” kata Menteri Dody.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua Merauke, Nonce Saman, menjelaskan bahwa pembangunan jaringan irigasi di DI Waninggap Kai ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bagi lahan cetak sawah rakyat yang telah ditanami sekitar 1.000 hektare.
Saluran sekunder tersebut dirancang menghubungkan tampungan air atau *long storage* dengan area persawahan.
Dengan jaringan ini, air hujan yang tersimpan di tampungan dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan air tanaman.
Nonce mengatakan pekerjaan konstruksi mulai dilakukan pada akhir Agustus 2026.
Langkah tersebut diambil setelah tim menerima informasi mengenai berkurangnya potensi ketersediaan air di lokasi, sementara tanaman padi telah ditanam sejak awal Juli.
“Pekerjaan saluran sekunder ini mulai dilaksanakan pada akhir Agustus 2026, setelah kami menerima informasi bahwa potensi air di lokasi semakin berkurang, sementara tanaman sudah ditanam sejak awal Juli. Kami kemudian melakukan pengukuran lapangan bersama tim teknis dan segera menindaklanjutinya dengan pekerjaan konstruksi,” jelas Nonce.
Saluran irigasi sekunder itu direncanakan memiliki panjang sekitar 5 kilometer.
Hingga saat ini, progres pengerjaannya mencapai sekitar 40 persen, dengan prioritas pada bagian jaringan yang melayani lahan sawah seluas kurang lebih 1.000 hektare yang sudah ditanami.
Setelah kebutuhan lahan yang ada ditangani, pengembangan jaringan selanjutnya diarahkan untuk mendukung rencana perluasan cetak sawah rakyat hingga sekitar 2.000 hektare di kawasan Waninggap Kai.
Selain membangun saluran sekunder, Kementerian PU mengoptimalkan fungsi *long storage* yang telah tersedia sebagai salah satu sumber air bagi kawasan persawahan.
Pengelolaan tampungan dan pembangunan jaringan irigasi tersebut juga ditujukan untuk mengantisipasi dampak El Niño, terutama potensi berkurangnya ketersediaan air selama periode kering.
Ketersediaan air yang memadai menjadi faktor penting bagi tanaman padi yang telah memasuki masa pertumbuhan.
Karena itu, optimalisasi jaringan irigasi diharapkan dapat membantu menjaga pasokan air hingga masa panen yang ditargetkan pada awal November 2026.
Dukungan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas lahan yang telah dibuka agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, bukan hanya pada tahap awal penanaman.
BWS Papua Merauke juga mengidentifikasi potensi sumber air dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Maro dan DAS Kumbe untuk mendukung pengembangan irigasi di wilayah Merauke.
Berdasarkan perencanaan BWS Papua Merauke, potensi lahan yang dapat dikembangkan mencapai sekitar 750.000 hektare.
Potensi tersebut menjadi peluang bagi pengembangan pertanian di Papua Selatan, dengan tetap mempertimbangkan ketersediaan air, kondisi lahan, dan kebutuhan infrastruktur pendukung.
Pengembangan sumber air dan jaringan irigasi diharapkan dapat meningkatkan keandalan layanan air bagi pertanian, menaikkan indeks pertanaman, serta mendukung perluasan areal persawahan secara bertahap.
Meski demikian, angka potensi tersebut merupakan gambaran berdasarkan perencanaan dan tidak berarti seluruh lahan telah siap dikembangkan atau sudah memiliki jaringan irigasi yang memadai.
Kementerian PU terus menjalin sinergi dengan Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah dalam mendukung program Cetak Sawah Rakyat di Merauke.
Kolaborasi tersebut diperlukan agar pengembangan lahan pertanian berjalan seiring dengan penyediaan infrastruktur air.
Dengan demikian, lahan yang telah dibuka dan ditanami memiliki dukungan irigasi yang memadai untuk menjaga pertumbuhan tanaman dan produktivitas panen.
Optimalisasi DI Waninggap Kai menjadi salah satu langkah untuk mendukung pengembangan pertanian di Papua Selatan.
Selain membantu memenuhi kebutuhan air bagi sawah yang sudah ditanami, pembangunan jaringan irigasi juga disiapkan untuk mendukung rencana perluasan areal pertanian.
Ketersediaan infrastruktur sumber daya air yang andal diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan produksi pertanian daerah dan mendukung ketahanan pangan nasional. **












