MITRAPOL.com, Ketapang Kalbar — Tim Teknis Penilaian Lengkap Nilai Konservasi Tinggi (NKT) melaksanakan kunjungan lapangan sekaligus menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Selasa (16/12/2025).
Kegiatan yang berlangsung di ruang pertemuan Kantor Camat Muara Pawan, Jalan Ketapang–Siduk, tersebut dihadiri Camat Muara Pawan, para kepala desa se-Kecamatan Muara Pawan, serta unsur pemuka masyarakat dan pemuda setempat. FGD dimulai sekitar pukul 08.30 WIB sebagai bagian dari rangkaian penilaian lengkap NKT di wilayah Kabupaten Ketapang.
FGD dibuka secara resmi oleh Camat Muara Pawan Tengku Nurmarudi, S.KM., S.Kep., Ns., M.M. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Nilai Konservasi Tinggi merupakan konsep penting dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan.
“NKT tidak hanya menyangkut perlindungan keanekaragaman hayati, tetapi juga mencakup nilai sosial, budaya, serta fungsi lingkungan yang vital bagi keberlangsungan hidup masyarakat,” ujar Tengku Nurmarudi.
Ia menambahkan, melalui forum diskusi ini diharapkan terbangun pemahaman bersama mengenai keberadaan dan pengelolaan kawasan bernilai konservasi tinggi, serta tercipta sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan para pemangku kepentingan. Partisipasi aktif masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan pengelolaan NKT secara berkelanjutan.
Camat Muara Pawan juga menyatakan dukungannya terhadap kegiatan penilaian NKT dan berharap hasil FGD dapat menjadi landasan dalam penyusunan kebijakan, perencanaan pembangunan, serta pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab di wilayah Muara Pawan.
Materi FGD disampaikan oleh Tim Teknis Penilaian Lengkap NKT yang terdiri dari Fajri, Priyo, Gilang, Valen, dan Irfan. Para pemateri menjelaskan definisi dan klasifikasi NKT 1 hingga NKT 6, termasuk tujuan, proses, dan tahapan identifikasi NKT untuk menjaring area yang memiliki nilai dan elemen konservasi tinggi.
Secara umum, tim memaparkan bahwa indikasi area bernilai konservasi tinggi di Kecamatan Muara Pawan tersebar di seluruh desa, meliputi kawasan berhutan, lahan gambut, sungai beserta sempadannya, hingga area pertanian intensif seperti persawahan. Area-area tersebut diharapkan ke depan memiliki rencana pengelolaan dan pemantauan yang inklusif di tingkat tapak.
Selain diskusi, kegiatan juga diisi dengan pemetaan partisipatif guna memperoleh gambaran awal mengenai kondisi sosial dan lingkungan di wilayah setempat. Tim berharap para peserta FGD dapat memahami pentingnya menjaga kawasan NKT serta berperan aktif dalam pengelolaan sumber daya alam yang lestari.
Dalam sesi diskusi, Kepala Desa Sei Awan Kanan, Effendi, S.Sos., menyampaikan harapannya agar potensi hutan mangrove, khususnya tembilok, dapat dikembangkan secara berkelanjutan sehingga memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat sekitar dan Kabupaten Ketapang secara umum.
Sementara itu, Saparudin, tokoh masyarakat Tempurukan, menyoroti kondisi Sungai Tempurukan yang selama beberapa tahun terakhir tidak berfungsi optimal akibat tertutup tumbuhan bakung. Ia berharap adanya normalisasi sungai agar potensi hutan mangrove yang cukup luas di wilayah tersebut dapat dikembangkan menjadi kawasan wisata, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan peran UMKM lokal.












