Opini

Mengapa Kita Perlu Meminta Maaf? Refleksi Ramadhan tentang Hati, Relasi, dan Etika Profesi

Admin
×

Mengapa Kita Perlu Meminta Maaf? Refleksi Ramadhan tentang Hati, Relasi, dan Etika Profesi

Sebarkan artikel ini
Refleksi Ramadhan tentang Hati, Relasi, dan Etika Profesi
Hendry Ch Bangun

Catatan Ramadhan Hendry Ch Bangun

MITRAPOL.com, Jakarta – Fenomena saling meminta maaf menjelang bulan Ramadhan sudah menjadi tradisi sosial yang kuat di masyarakat. Beberapa hari sebelum Ramadhan, pesan permohonan maaf memenuhi percakapan grup digital maupun komunikasi pribadi. Tujuannya sederhana, membersihkan hati agar ibadah dapat dijalankan dengan lebih tenang dan khusyuk.

Tradisi ini berkembang seiring kemajuan teknologi komunikasi, terutama sejak telepon seluler tidak lagi menjadi barang eksklusif seperti pada era awal perangkat produksi Motorola. Kini, pesan permohonan maaf hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari teks, gambar, hingga simbol digital.

Secara psikologis, meminta dan memberi maaf terbukti dapat menurunkan stres, mengurangi kecemasan, serta meningkatkan kesehatan mental. Dalam hubungan sosial, permintaan maaf secara langsung bahkan mampu memperbaiki relasi interpersonal dan membangun kembali kepercayaan.

Namun dalam praktik kehidupan, terutama dalam perspektif manajemen risiko hubungan sosial, terdapat pandangan bahwa individu yang pernah berbuat buruk sebaiknya tidak kembali diberi kepercayaan penuh. Kendati demikian, dalam konteks spiritual Ramadhan, memberi maaf tetap dipandang sebagai perbuatan mulia.

Dalam ajaran agama, memaafkan diyakini dapat mengangkat derajat manusia dan menjadi salah satu ciri ketakwaan. Kesalahan kepada Tuhan diyakini dapat diampuni melalui pertobatan, sementara kesalahan antarmanusia hanya dapat dihapus melalui kerelaan pihak yang disakiti untuk memaafkan.

Karena itu, tradisi saling memaafkan menjelang Ramadhan memiliki makna penting, bukan hanya secara spiritual tetapi juga sosial.

Dalam konteks profesi media, persoalan memaafkan juga berkaitan erat dengan etika pemberitaan. Dalam sebuah diskusi profesi yang pernah digelar di Persatuan Wartawan Indonesia, tokoh ulama KH Aqil Siradj pernah menyoroti praktik pemberitaan hiburan yang membahas kehidupan pribadi figur publik.

Dalam pandangan keagamaan, membicarakan keburukan orang lain, meskipun fakta, tetap berpotensi masuk dalam kategori perbuatan tercela. Hal ini menjadi pengingat penting bagi insan pers agar tetap berpegang pada prinsip etika jurnalistik, akurasi, serta kepentingan publik.

Pelanggaran terhadap Kode Etik Jurnalistik dapat berdampak pada kepercayaan publik. Permintaan maaf media terhadap kesalahan pemberitaan bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari tanggung jawab moral dan profesional.

Produk jurnalistik merupakan hasil kerja kolektif, mulai dari perencanaan liputan, pengumpulan data, penulisan, penyuntingan, hingga keputusan publikasi. Karena itu, tanggung jawab moral atas sebuah pemberitaan melekat pada seluruh rantai proses tersebut.

Di sisi lain, kualitas media dan wartawan masih beragam. Ada yang telah menerapkan standar profesional internasional, namun ada pula yang belum didukung sistem rekrutmen, pelatihan, dan pembinaan etika yang memadai.

Media dapat menjadi sumber inspirasi, motivasi, dan edukasi masyarakat. Namun media juga dapat memicu konflik sosial, emosi publik, bahkan persoalan hukum jika tidak dijalankan secara profesional dan etis.

Karena itu, momentum Ramadhan dapat menjadi ruang refleksi bagi insan pers untuk mengevaluasi kembali apakah ada pihak yang pernah dirugikan akibat karya jurnalistik yang dibuat.

Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi. Apakah masih ada kesalahan, kelalaian, atau tindakan yang menyakiti orang lain yang belum diselesaikan dengan permintaan maaf?

Pada akhirnya, keputusan untuk meminta maaf atau memaafkan kembali kepada hati nurani masing-masing.

Sambil menunggu berbuka puasa, yang dianjurkan berzikir dan membaca doa, sebagai orang yang menyebut dirinya wartawan, bagus juga kita melihat ulang ke belakang. Masih adakah kesalahan, kelalaian, yang telah membuat orang sakit hati, entah itu narasumber, masyarakat, rekan kerja, rekan satu organisasi, yang belum kita mintakan maafnya? Mari tanyakan ke hati nurani.

Itupun kalau dianggap perlu. Semua terserah Anda. Wallahu a’lam bishawab.

Ciputat 22 Februari 2026.