MITRAPOL.com, Lhokseumawe – Bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah menjadi momentum pembinaan rohani bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Lhokseumawe, Lhokseumawe. Sejak awal Ramadhan, berbagai kegiatan keagamaan digelar untuk memperkuat pembinaan spiritual dan mendorong perubahan perilaku warga binaan.
Program pembinaan tersebut meliputi tadarus Al-Qur’an, dzikir dan doa bersama, tausiyah rutin, istighotsah berjamaah, hingga pelaksanaan salat tasbih. Selain itu, terdapat program One Day One Juz yang dilaksanakan selepas salat Ashar serta pembinaan rohani usai salat Dzuhur berjamaah bekerja sama dengan Kementerian Agama Kota Lhokseumawe.
Kepala Lapas Kelas IIA Lhokseumawe, Wahyu Prasetyo, menyampaikan bahwa Ramadhan menjadi momentum penting dalam proses pembinaan.
“Ramadhan adalah bulan perbaikan diri. Pembinaan bukan sekadar menjalani masa pidana, tetapi proses perubahan menuju pribadi yang lebih baik. Kami mendukung aspirasi warga binaan yang ingin fokus beribadah dengan menghadirkan program keagamaan yang terarah dan berkelanjutan,” ujarnya. Sabtu (22/2/2026).
Untuk menjaga kekhusyukan ibadah, pihak lapas meniadakan sementara layanan kunjungan tatap muka keluarga selama Ramadhan. Kebijakan tersebut, menurut pihak lapas, merupakan hasil musyawarah bersama perwakilan warga binaan melalui kepala kamar.
Meski demikian, layanan penitipan makanan dan takjil tetap dibuka setiap hari pukul 15.00 hingga 17.00 WIB guna menjaga hubungan keluarga dan dukungan moral bagi warga binaan.
Sebelumnya, pihak lapas sempat menawarkan pembukaan kunjungan khusus pada momentum Meugang—tradisi masyarakat Aceh menyambut Ramadhan dan Hari Raya. Namun, melalui perwakilan warga binaan, diputuskan untuk tidak membuka kunjungan tatap muka agar ibadah di awal Ramadhan dapat lebih fokus.
Kebijakan tersebut merujuk pada ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan yang mengatur hak warga binaan, termasuk hak menerima maupun menolak kunjungan.
Wahyu menambahkan, pendekatan pembinaan yang diterapkan selama Ramadhan mengedepankan prinsip humanis dan berorientasi pada pemulihan (rehabilitatif).
“Kami berharap Ramadhan menjadi titik balik. Ketika kesadaran tumbuh dan tekad diperbarui, proses reintegrasi sosial ke depan akan lebih bermakna,” katanya.
Melalui rangkaian program tersebut, Lapas Kelas IIA Lhokseumawe berharap pembinaan spiritual selama Ramadhan dapat menjadi bekal bagi warga binaan dalam menata masa depan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat.












