MITRAPOL.com, Jakarta — Transformasi digital di sektor perkebunan kian dipercepat. Pasca-merger, PTPN IV PalmCo memperkuat sistem pengelolaan kebun sawit berbasis data melalui pelatihan dan sertifikasi operator drone.
Hingga awal 2026, sebanyak 62 karyawan telah dinyatakan lulus sertifikasi sebagai operator drone perkebunan dari ratusan peserta yang mengikuti pelatihan. Program ini menjadi bagian dari pengembangan ekosistem digital terintegrasi yang menopang operasional perusahaan.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyatakan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia (SDM).
“Transformasi digital tidak cukup hanya menghadirkan teknologi canggih. Kunci utamanya adalah peningkatan kompetensi SDM. Tanpa operator yang terlatih dan tersertifikasi, sistem tidak akan memberikan nilai tambah optimal bagi perusahaan,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Digitalisasi di PalmCo ditopang oleh sistem terpusat bernama PalmCo Business Cockpit, yakni dashboard yang mengintegrasikan data operasional dari berbagai unit usaha. Sistem tersebut terhubung dengan platform pemetaan spasial Agroview yang memungkinkan pemantauan ratusan ribu hektare lahan secara hampir waktu nyata (near real-time).
Melalui drone yang dioperasikan pilot bersertifikat, data visual dan spasial dari lapangan dikirimkan langsung ke pusat kendali untuk dianalisis. Informasi ini digunakan dalam pengambilan keputusan agronomis, mulai dari penentuan kebutuhan pupuk, deteksi dini serangan hama, hingga identifikasi potensi penurunan produktivitas.
Di tingkat kebun, pola kerja juga mengalami perubahan. Pemantauan yang sebelumnya mengandalkan patroli manual kini dilengkapi citra udara beresolusi tinggi. Anomali di setiap afdeling dapat diidentifikasi lebih cepat sehingga respons penanganan menjadi lebih terukur.
Menurut Jatmiko, perusahaan juga tengah mengembangkan integrasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan Internet of Things (IoT) untuk memperkuat sistem analitik.
“Ini fondasi strategis untuk mewujudkan perusahaan agrikultur kelas dunia dengan tata kelola yang presisi dan modern,” katanya.
Langkah digitalisasi PalmCo turut mendapat dukungan dari Danantara. Managing Director Business 2 Danantara, Setyanto Hantoro, menyampaikan dukungan terhadap strategi bisnis sawit terintegrasi yang dijalankan perusahaan, khususnya dalam penguatan ketahanan pangan dan hilirisasi nasional.
Sementara itu, Managing Director Risk Management Danantara, Riko Banardi, yang meninjau implementasi sistem Agroview pada Januari lalu, menilai integrasi mekanisasi, digitalisasi, dan pengembangan SDM berjalan selaras.
“Kami memberikan apresiasi atas keberhasilan perusahaan menyelaraskan aspek mekanisasi, digitalisasi, dengan pengembangan SDM,” ujarnya.
Di tengah tuntutan global terhadap praktik perkebunan berkelanjutan, pendekatan berbasis teknologi dinilai semakin relevan. Transparansi data dan akuntabilitas operasional menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing industri sawit nasional.
Meski demikian, konsistensi implementasi serta peningkatan kapasitas SDM tetap menjadi tantangan utama dalam transformasi digital sektor agrikultur.
Bagi PalmCo, investasi pada pelatihan drone dan sistem digital dipandang sebagai langkah jangka panjang.
“Digitalisasi adalah kunci keberlanjutan perusahaan. Dengan sinergi teknologi dan SDM unggul, produktivitas dapat ditingkatkan secara berkelanjutan,” kata Jatmiko.
Transformasi ini menandai fase baru pengelolaan perkebunan sawit nasional, di mana pengambilan keputusan semakin berbasis data terintegrasi dan terukur.












