MITRAPOL.com, Bandar Lampung – Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung untuk membuka ruang kolaborasi dengan mahasiswa dalam mendukung pembangunan daerah menuju Indonesia Emas 2045.
Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur saat menghadiri kegiatan Stadium General Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lampung (Unila) periode 2026 yang mengangkat tema “Mahasiswa sebagai Katalisator Perubahan serta Pusat Gerak Menuju Industri 5.0 dan Indonesia Emas 2045”. Senin (6/4/2026)
“Pemerintah Provinsi Lampung sangat terbuka untuk berkolaborasi. Mahasiswa memiliki peran penting dalam menentukan arah Indonesia Emas di masa depan,” ujar Rahmat Mirzani Djausal.
Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan pelantikan BEM Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Unila periode 2026. Serah terima jabatan dilakukan dari Presiden BEM 2025, Muhammad Amar Fauzan, kepada Presiden BEM 2026 terpilih, Aditiya Putra Bayu.
Dalam arahannya, Gubernur menekankan bahwa kemajuan suatu daerah tidak semata ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, melainkan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM).
Ia menyebutkan, Provinsi Lampung saat ini tengah memasuki fase bonus demografi, di mana sekitar 71 persen penduduk berada pada usia produktif.
“Semakin tinggi kualitas SDM, semakin cepat kemajuan suatu peradaban. Mahasiswa menjadi kunci penting dalam meningkatkan kualitas tersebut,” jelasnya.
Gubernur juga mengingatkan bahwa masa depan Indonesia pada 2045 sangat ditentukan oleh generasi muda saat ini. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut berperan aktif dalam pembangunan.
Selain itu, ia menegaskan pentingnya peran mahasiswa sebagai social control dalam mengawal kebijakan publik.
“Jika kebijakan pemerintah tidak berpihak kepada rakyat, mahasiswa harus berani bersuara. Karena keputusan hari ini akan menentukan masa depan 20 tahun ke depan,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Lampung, Lusmeilia Afriani, menilai tema kegiatan tersebut relevan dengan tantangan zaman. Ia mendorong mahasiswa untuk aktif berorganisasi secara produktif serta mengembangkan potensi diri dengan tetap menjunjung tinggi etika dan integritas.
“Jadikan kampus sebagai ruang pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi global,” ujarnya.
Presiden BEM Unila 2026, Aditiya Putra Bayu, menegaskan komitmennya untuk menjadikan organisasi mahasiswa sebagai mitra kritis pemerintah.
“Kami tidak memposisikan diri sebagai oposisi, tetapi sebagai mitra kritis. Kami siap bersinergi jika kebijakan berpihak kepada rakyat dan akan mengawal jika sebaliknya,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, yang hadir sebagai pembicara kunci, menekankan pentingnya pola pikir kritis dan sistematis bagi mahasiswa.
“Modal utama mahasiswa adalah kemampuan berpikir kritis dan memahami akar permasalahan. Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah lulus dari kampus,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun sinergi antara pemerintah, akademisi, dan mahasiswa dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.











