MITRAPOL.com, Jakarta — Upaya memperkuat ekspor komoditas perkebunan terus dilakukan di tengah dinamika perdagangan global. Indonesia Export Channel (IEC) menyatakan dukungannya terhadap penguatan kerja sama dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS), khususnya untuk komoditas kopi dan kakao.
Senior Advisor IEC, Denny Charter, mengatakan bahwa kemudahan akses pasar ke AS akan memberikan dampak langsung bagi pelaku usaha di tingkat akar rumput, terutama petani rakyat.
“Kami menyambut baik setiap langkah diplomasi dan negosiasi dagang antara RI dan AS. Kemudahan akses pasar akan berdampak pada perekonomian petani kopi dan kakao,” ujar Denny di Jakarta. Minggu (15/2).
IEC merupakan asosiasi yang mewadahi eksportir skala menengah ke bawah, dengan anggota tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Sebagian besar anggotanya merupakan pelaku usaha rintisan dan petani rakyat yang telah menembus pasar internasional.
Sekretaris Jenderal IEC, Dwi Rayindra Marchiano, menyampaikan bahwa kopi dan kakao menjadi dua komoditas unggulan yang rutin diekspor anggotanya.
“Anggota kami mungkin berasal dari skala menengah ke bawah, namun kualitas produk petani Indonesia mampu bersaing di pasar global. Ekspor kopi dan kakao telah menjangkau Rusia, Belarus, sejumlah negara Eropa, serta Amerika Serikat,” kata Ray.
Menurutnya, pengurangan hambatan tarif dan kemudahan sertifikasi—termasuk untuk produk organik—akan membantu menekan biaya logistik dan administrasi bagi eksportir kecil dan menengah.
Potensi Pasar Amerika Serikat
Dukungan IEC sejalan dengan besarnya potensi pasar AS terhadap kopi dan kakao Indonesia. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS):
Kopi
Pada Semester I 2025, volume ekspor kopi Indonesia ke AS tercatat mencapai 30,8 juta kilogram dengan nilai sekitar US$190,9 juta. Angka tersebut menempatkan AS sebagai tujuan utama ekspor kopi Indonesia.
Kakao
Untuk komoditas kakao dan produk olahannya, pada 2023 nilai ekspor ke AS mencapai US$174,48 juta atau sekitar 14,56 persen dari total ekspor kakao nasional. AS menjadi salah satu importir utama kakao Indonesia.
Melihat tren tersebut, IEC menilai peluang peningkatan ekspor masih terbuka lebar, terutama untuk produk specialty coffee dan fine cacao yang memiliki nilai tambah tinggi di pasar premium.
“Pasar AS menghargai specialty coffee dan fine cacao. Jika regulasi ekspor semakin kondusif, kesejahteraan petani rakyat berpotensi meningkat,” ujar Denny.












