MITRAPOL.com, Tangerang— Peluncuran novel Catatan Melankolis tentang Sosialita & Buruh Anak karya Bre Redana dikemas berbeda. Alih-alih sekadar menghadirkan pidato dan diskusi buku, peluncuran novel wartawan senior Harian Kompas periode 1982–2017 itu dirancang da-lam bentuk workshop interaktif jurnalistik dan sastra.
Kegiatan yang berlangsung Jumat petang, 2 Oktober 2026, di Kedai Tjikini, Bintaro Sektor 9, Tangerang Selatan, tersebut mengajak sekitar 20 peserta untuk mengamati, mewawancarai, berpikir, dan menulis secara spontan.
Sebagian peserta merupakan dosen ilmu komunikasi dari sejumlah perguruan tinggi di Jakarta, sementara lainnya adalah wartawan senior.
Novel Catatan Melankolis tentang Sosialita & Buruh Anak bercerita ten-tang lika-liku kehidupan wartawan yang dalam menjalankan tugas jurnalistik bertemu dengan berbagai kalangan, termasuk kelompok so-sialita.
Namun, dalam perjalanan profesinya, kehidupan pribadi seorang wartawan terkadang bersinggungan dengan pekerjaan. Persoalan itulah yang antara lain menjadi warna dalam novel Bre Redana.
Bagi Bre, peluncuran buku fiksi tidak harus selalu dilakukan dengan format konvensional.
“Peluncuran buku fiksi seperti ini kalau diisi dengan model pidato-pidato bisa ngelantur ke mana-mana. Peserta tidak mendapat apa-apa,” kata Bre.
Karena itu, peserta justru diajak mengalami langsung proses kreatif yang biasa dilakukan dalam penulisan jurnalistik maupun sastra.
Workshop dimulai dengan mengajak peserta mengamati lingkungan sekitar secara detail.
Kedai Tjikini dipilih sebagai ruang belajar yang sekaligus menyediakan banyak objek untuk diamati. Bangunannya menghadirkan suasana masa lalu dengan meja dan kursi bergaya lama, ubin, serta poster-poster film lawas yang menghiasi dinding.
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah penggunaan nama “Tjikini”, bukan “Cikini”. Ejaan lama tersebut dipertahankan sebagai identitas yang merujuk pada Kedai Tjikini lama di Jakarta.
Bagi peserta, hal-hal sederhana semacam itu menjadi bahan latihan untuk mempertajam kemampuan observasi. Mereka ditantang mengubah apa yang dilihat dan dirasakan menjadi deskripsi yang hidup dalam tulisan.
Workshop tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Ignatius Haryanto, doktor ilmu komunikasi, jurnalis dan dosen, serta Kurnia Setiawan, doktor ilmu komunikasi, pengajar desain sekaligus fasilitator berbagai pelatihan, termasuk workshop Silat-Surat.
Kurnia mengajak peserta mengenali sejumlah unsur penting dalam proses kreatif, antara lain rasa, simpati, simfoni, bermain, dan kemasan.
“Ini poin-poin yang tidak dimiliki artificial intelligence, AI,” kata Kurnia.
Peserta kemudian diminta menggunakan kepekaan inderawi untuk mengamati ruangan secara rinci dan deskriptif.
Kemampuan observasi tersebut penting dalam penulisan jurnalistik, khususnya feature, maupun dalam karya sastra.
Ignatius Haryanto menjelaskan bahwa penulisan feature setidaknya bertumpu pada tiga komponen utama, yakni wawancara, observasi, dan data sekunder.
Data sekunder dapat berupa dokumen, statistik, maupun sumber informasi lain, termasuk informasi dari internet dan teknologi kecerdasan buatan yang telah diverifikasi kebenarannya.
Para peserta kemudian diminta saling mewawancarai. Mereka menggali informasi mengenai kehidupan peserta lain, termasuk data dasar seperti usia, tinggi badan, dan informasi personal yang relevan.
Ignatius juga menampilkan sejumlah contoh karya feature melalui presentasi. Peserta kemudian diajak menganalisis bagaimana sebuah tulisan feature dibangun dan dari mana informasi dalam tulisan terse-but diperoleh.
Diskusi itu mengarahkan peserta pada satu kesimpulan: tulisan jurnalistik yang kuat lahir dari perpaduan wawancara, observasi, dan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bre Redana: Jurnalistik dan Sastra Berakar pada Kata-Kata
Bre Redana kemudian berbicara mengenai hubungan antara jurnalistik dan sastra.
Secara umum, jurnalistik berangkat dari fakta, sedangkan sastra dapat menggunakan fiksi. Namun, menurut Bre, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan membuat batas antara fakta dan rekayasa semakin sulit dikenali.
Ia mencontohkan gambar atau informasi mengenai sebuah peristiwa yang beredar di internet. Di tengah perkembangan teknologi AI, masyarakat terkadang menghadapi kesulitan membedakan mana dokumentasi nyata dan mana hasil rekayasa.
Menurut Bre, hal tersebut semakin mempertegas pentingnya kemampuan untuk memahami, memeriksa, dan menjiwai informasi sebelum mempercayainya.
Ia juga melihat jurnalistik dan sastra memiliki akar yang sama, yakni penggunaan kata-kata.
Bre bahkan menyebut penulis feature dan sastrawan Gabriel García Márquez sebagai salah satu sosok yang menunjukkan betapa jurnalistik dapat ditulis dengan gaya yang kuat dan indah.
“Penulis itu pula yang memberinya wangsit menulis catatan ini. Perhatian: pada banyak bagian dari catatan ini pembaca akan menemui jejak GGM,” tulis Bre dalam novelnya yang diterbitkan di Yogyakarta tersebut.
Model peluncuran buku melalui workshop interaktif bukan kali pertama dilakukan Bre Redana.
Sejumlah karya sebelumnya, antara lain Urban Sensation, Politik Tubuh, dan The Sword and The Pen, juga diperkenalkan melalui pendekatan kreatif yang melibatkan peserta secara langsung.
Melalui model tersebut, peluncuran buku tidak hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan karya, tetapi sekaligus menjadi tempat bertukar gagasan dan melatih kemampuan peserta dalam mengamati serta menuangkan pengalaman ke dalam tulisan.
Kegiatan di Kedai Tjikini pun tidak hanya berbicara tentang novel. Peserta diajak merasakan bagaimana sebuah ruang, manusia, percakapan, dan pengalaman sehari-hari dapat menjadi bahan baku tulisan.
Di tengah suasana kedai yang bernuansa lama, proses jurnalistik dan sastra dipertemukan dalam satu pengalaman kreatif.
Penyanyi Kris Dayanti turut memberikan apresiasi terhadap karya terbaru Bre Redana.
“Oom Bre Redana adalah sosok yang mampu menjembatani dunia jurnalistik dan sastra dengan sangat indah. Novel ini tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga potret kehidupan sosial yang ditulis dengan kecerdasan, kepekaan, dan pengalaman panjang seorang reporter,” ujar Kris Dayanti.












