Oleh: Hendry Ch. Bangun
Pendiri Forum Wartawan Kebangsaan (FWK)
MITRAPOL.com – Saya tidak tahu persis bagaimana perasaan Presiden Prabowo Subianto ketika bersama Tim Indonesia mengangkat trofi Piala FIFA ASEAN di hadapan puluhan ribu penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin (5/10/2026) malam. Namun, dari layar televisi, suasana haru dan kebanggaan itu terlihat jelas.
Kemenangan melalui adu penalti 4-2 setelah bermain imbang 2-2 tersebut mencatat sejarah baru. Indonesia akhirnya menjadi juara sepak bola kawasan Asia Tenggara setelah penantian panjang selama 35 tahun.
Jutaan rakyat Indonesia ikut merasakan kegembiraan itu. Di berbagai daerah, masyarakat menggelar nonton bareng. Ketika Emil Audero Mulyadi berhasil menepis bola pemain Thailand dalam kesempatan keempat adu penalti, kegembiraan pun pecah.
Orang-orang melompat, berteriak, bersalaman, dan berpelukan. Sebagian lainnya turun ke jalan dengan sepeda motor, merayakan kemenangan tim nasional.
Begitulah olahraga. Dalam waktu sekejap, ia mampu mempertemukan orang-orang yang mungkin berbeda latar belakang, pilihan, pekerjaan, bahkan pandangan. Mereka memiliki satu identitas yang sama: Indonesia.
Kita memang sudah terlalu lama menunggu prestasi sepak bola seperti ini. Berbagai pendekatan telah dilakukan, termasuk mendatangkan pelatih asing dan memperkuat tim nasional dengan pemain keturunan Indonesia yang berkarier di kompetisi Eropa.
Akan selalu ada kritik. Ada yang mempertanyakan sejauh mana prestasi tersebut merupakan hasil pembinaan pemain lokal. Ada pula yang mempersoalkan biaya yang harus dikeluarkan untuk menghadirkan pemain keturunan ke tim nasional.
Semua kritik itu penting dan pada waktunya harus dibahas secara serius.
Namun, untuk sesaat, izinkan masyarakat menikmati kegembiraan.
Sebab, kemenangan olahraga memberikan sesuatu yang tidak selalu dapat diukur dengan uang. Ada rasa bangga, rasa memiliki, dan harga diri sebagai bangsa.
Mereka yang menyaksikan langsung pertandingan di Stadion Utama Gelora Bung Karno membawa pulang pengalaman yang mungkin akan dikenang bertahun-tahun. Mereka yang menonton dari rumah atau menggelar nonton bareng juga memperoleh kebahagiaan yang sama.
Keesokan harinya, banyak orang tetap harus bekerja dengan mata yang mungkin masih mengantuk. Tetapi mereka datang dengan semangat berbeda.
Di situlah salah satu kekuatan olahraga.
Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa olahraga sejak lama tidak hanya dipandang sebagai kegiatan fisik.
Kompleks Gelora Bung Karno dan kawasan olahraga Senayan yang dibangun menjelang Asian Games IV 1962 merupakan salah satu bukti bagaimana Presiden Soekarno menempatkan olahraga sebagai bagian dari pembangunan kebanggaan nasional.
Indonesia ketika itu bukan hanya ingin menunjukkan kemampuan sebagai tuan rumah. Prestasi atlet juga menjadi bagian dari upaya memperlihatkan posisi Indonesia di tengah percaturan dunia.
Indonesia berhasil menempati posisi kedua setelah Jepang pada Asian Games 1962. Sejumlah atlet Indonesia mencatat prestasi membanggakan, antara lain Mohamad Sarengat yang meraih emas pada nomor 100 meter dan 110 meter gawang.
Prestasi juga datang dari cabang balap sepeda, loncat indah, dan bulu tangkis.
Pada masa itu, olahraga berjalan beriringan dengan semangat kebangsaan. Indonesia ingin menunjukkan bahwa sebagai negara yang baru merdeka, kita mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain.
Semangat tersebut kemudian juga terlihat melalui penyelenggaraan Games of the New Emerging Forces atau Ganefo pada 1963.
Terlepas dari berbagai kontroversi politik yang mengiringinya, sejarah tersebut menunjukkan bahwa olahraga pernah ditempatkan sebagai instrumen diplomasi dan kebanggaan nasional.
Dari “Memasyarakatkan Olahraga” hingga Prestasi Internasional
Pada era berikutnya, pembangunan olahraga dilakukan melalui pendekatan yang berbeda.
Program “Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat” menjadi salah satu slogan penting pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Pembinaan dilakukan secara berjenjang melalui berbagai kompetisi pelajar, mahasiswa, kejuaraan junior, pemusatan latihan daerah, hingga pembinaan atlet di Sekolah Khusus Olahraga Ragunan.
Anak-anak dan remaja berbakat memiliki ruang untuk berlatih sekaligus mendapatkan pendidikan formal.
Model pembinaan semacam itu ikut melahirkan atlet-atlet yang kemudian mengharumkan nama Indonesia.
Kita pernah menjadi kekuatan utama bulu tangkis dunia dengan berbagai keberhasilan di Piala Thomas dan Piala Uber. Indonesia juga akhirnya meraih medali emas Olimpiade untuk pertama kalinya di Barcelona 1992 setelah sebelumnya mendapatkan medali perak di Seoul 1988.
Semua itu menunjukkan satu hal: prestasi olahraga tidak lahir secara instan.
Ia membutuhkan sistem.
Ia membutuhkan pembinaan yang konsisten.
Dan yang tidak kalah penting, membutuhkan kesabaran.
Karena itu, keberhasilan Tim Indonesia meraih Piala FIFA ASEAN maupun pencapaian Indonesia di Asian Games 2026 tidak boleh berhenti sebagai pesta kemenangan.
Prestasi harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi.
Jika hasil kontingen Indonesia di Asian Games 2026 menunjukkan adanya cabang olahraga yang berpotensi berkembang, maka pembinaannya harus dilanjutkan secara serius.
Kementerian Pemuda dan Olahraga perlu menyusun rekomendasi pembinaan berkelanjutan bersama induk organisasi cabang olahraga. Harus ada peta jalan yang jelas, target yang terukur, dukungan anggaran yang realistis, serta program pelatihan nasional yang tidak bergantung pada siklus tahunan.
Atlet tidak bisa dicetak dalam hitungan bulan. Mereka membutuhkan latihan intensif, kompetisi internasional, pemulihan, dukungan ilmu pengetahuan olahraga, nutrisi, pelatih berkualitas, serta lingkungan pembinaan yang sehat.
Karena itu, pembinaan olahraga harus memiliki perspektif jangka panjang.
Berani Menentukan Prioritas
Dalam kondisi keuangan negara yang terbatas, pemerintah dan pemangku kepentingan olahraga juga harus berani menentukan prioritas.
KONI sebagai salah satu unsur penting dalam pembinaan olahraga nasional perlu mendorong pemetaan cabang olahraga secara objektif berdasarkan potensi prestasi, sistem pembinaan, ketersediaan atlet, peluang kompetisi, dan kebutuhan anggaran.
Tidak semua cabang olahraga harus diperlakukan dengan pola pembiayaan yang sama.
Ada cabang yang membutuhkan dukungan penuh. Ada yang dapat diberikan subsidi. Ada pula yang dapat dikembangkan melalui pembiayaan mandiri dan dukungan pihak swasta.
Pilihan tersebut tentu harus dilakukan secara transparan dan berdasarkan parameter yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan berdasarkan kedekatan personal atau kepentingan sesaat.
Pers Harus Tetap Mengawal
Di sinilah pers memiliki peran penting.
Pers tidak hanya hadir ketika atlet menang dan membawa pulang medali. Pers juga harus hadir ketika pembinaan mengalami masalah.
Pers perlu mengawal penggunaan anggaran, mengkritisi kebijakan, mengungkap persoalan pembinaan, dan memberikan ruang bagi atlet maupun pelatih untuk menyampaikan persoalan mereka.
Kontrol media bukan persoalan suka atau tidak suka. Bukan pula karena siapa yang menjadi pengurus atau seberapa besar pengaruh seseorang.
Ukuran utamanya adalah kepentingan publik dan kebenaran informasi.
Memang, pengaruh media massa saat ini menghadapi tantangan besar akibat derasnya informasi melalui media sosial. Namun, hal itu justru membuat kerja jurnalistik yang berlandaskan verifikasi, akurasi, dan independensi semakin penting.
Olahraga tidak boleh berjalan seperti lagu yang liriknya berubah-ubah mengikuti selera. Hari ini condong ke kanan, besok ke kiri. Hari ini seorang pembina dipuji, besok dicela, hanya karena hasil pertandingan.
Pembinaan olahraga membutuhkan konsistensi.
Kemenangan Tim Indonesia di Piala FIFA ASEAN dan pencapaian Indonesia di Asian Games 2026 memberi pesan sederhana: kita mampu menjadi bangsa juara.
Namun, menjadi juara bukan hanya soal mengangkat trofi.
Juara adalah ketika atlet berlatih sungguh-sungguh. Pelatih bekerja secara profesional. Organisasi olahraga menjalankan tata kelola yang baik. Pemerintah memberikan dukungan sesuai kebutuhan. Dunia usaha ikut berkontribusi. Dan masyarakat memberikan dukungan kepada para atlet.
Jika seluruh unsur itu bekerja bersama, olahraga dapat menjadi kekuatan yang menyatukan.
Kita boleh berbeda pilihan politik. Berbeda profesi. Berbeda daerah. Berbeda latar belakang sosial.
Tetapi ketika Merah Putih berkibar dan lagu Indonesia Raya berkumandang di arena olahraga, kita berdiri sebagai satu bangsa.
Itulah kekuatan olahraga.
Ia tidak hanya menghasilkan medali.
Ia juga menghasilkan kebanggaan, persatuan, dan harapan.
Karena itu, mari kita jadikan keberhasilan olahraga bukan sekadar perayaan sesaat, melainkan momentum untuk membangun sistem pembinaan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Kesuksesan olahraga adalah bagian dari kesuksesan bangsa dan negara.
Mari bahu-membahu untuk kejayaan Indonesia.
Merdeka!
Ciputat, 6 Oktober 2026












