Scroll untuk baca artikel
Nasional

Kurangi Risiko Dampak Lahar Semeru, Menteri PU Dody Ubah Metode Pembangunan Sabo Dam

Admin
×

Kurangi Risiko Dampak Lahar Semeru, Menteri PU Dody Ubah Metode Pembangunan Sabo Dam

Sebarkan artikel ini
Kurangi Risiko Dampak Lahar Semeru, Menteri PU Dody Ubah Metode Pembangunan Sabo Dam
Menteri PU Dody Hanggodo saat memberikan keterangannya kepada awak media

MITRAPOL.com, Malang – Guna mengurangi risiko kerusakan konstruksi akibat erupsi maupun banjir lahar dingin, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) akan mengubah metode pembangunan sabo dam di kawasan Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur,

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, perubahan metode dilakukan dengan menyiapkan komponen konstruksi terlebih dahulu di lokasi yang relatif aman dan tidak jauh dari titik pembangunan. Setelah siap, komponen tersebut akan dipasang secara bertahap di lokasi sabo dam.

Menurutnya, pendekatan ini diperlukan agar pekerjaan konstruksi tidak seluruhnya dilakukan langsung di alur sungai yang berisiko dilalui material vulkanik dan aliran lahar.

“Pola pengerjaannya harus kita ubah. Pekerjaan bisa dilakukan terlebih dahulu di luar titik sabo dam, di lokasi yang lebih aman dan tidak terlalu jauh. Setelah siap, baru secara bertahap dipasang ke titik pembangunan,” ujar Dody. Sabtu (7/11).

Ia menjelaskan, metode tersebut diharapkan dapat meminimalkan risiko kerusakan terhadap material dan bagian konstruksi yang telah disiapkan apabila terjadi erupsi atau banjir lahar dingin saat pekerjaan berlangsung.

Pembangunan sabo dam merupakan bagian dari upaya mitigasi bencana untuk mengendalikan aliran material vulkanik, mengurangi risiko banjir lahar, serta melindungi permukiman dan infrastruktur di sepanjang aliran sungai.

Selain menyiapkan metode konstruksi baru, Kementerian PU juga mempercepat penanganan darurat pada sejumlah lokasi terdampak aktivitas Gunung Semeru.

Berdasarkan realisasi pekerjaan hingga 6 November 2026, penanganan dilakukan di tiga lokasi, yakni Sumbersari, Tempursari, dan Jugosari di Desa Sumberwuluh.

Di Sumbersari, pekerjaan difokuskan pada perbaikan tanggul yang rusak sepanjang sekitar 45 meter dengan tinggi sekitar 8 meter. Perbaikan tanggul telah mencapai ketinggian sekitar 6 meter.

Petugas juga melakukan peninggian tanggul akses masuk alat berat sekitar 0,5 meter, sepanjang 15 meter dan lebar 3 meter. Pekerjaan didukung satu unit excavator.

Di Tempursari, Kementerian PU melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas melakukan pembangunan tanggul darurat dan pengalihan alur sungai sepanjang 600 meter.

Penanganan juga mencakup perbaikan jalan warga yang terputus sepanjang 150 meter serta penutupan alur sungai dari arah hulu untuk mengendalikan aliran air. Dua unit excavator dikerahkan di lokasi ini.

Sementara itu, di Jugosari, pekerjaan meliputi pembangunan jalan dan tanggul darurat sepanjang 400 meter, termasuk peninggian tanggul sekitar 1 meter. Pembangunan jalan darurat telah mencapai 50 meter dari rencana sepanjang 180 meter.

Secara keseluruhan, penanganan darurat di ketiga lokasi tersebut didukung empat unit excavator.

Kementerian PU menyatakan percepatan penanganan darurat dan evaluasi metode pembangunan sabo dam menjadi bagian dari upaya memperkuat mitigasi bencana serta mengurangi risiko dampak banjir lahar dingin di kawasan Gunung Semeru.