MITRAPOL.com, Aceh – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus memperkuat pemulihan layanan dasar pascabencana di Provinsi Aceh, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat terdampak. Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan sarana sumur dangkal dan sumur bor dalam di berbagai wilayah terdampak bencana.
Melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Aceh, Kementerian PU melaksanakan pembangunan 57 titik sumur bor, di luar 24 titik sumur bor yang sebelumnya ditangani oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I. Pekerjaan ini tersebar di sejumlah kabupaten/kota, antara lain Kabupaten Aceh Tamiang, Pidie Jaya, dan Bener Meriah.
Saat ini, progres pembangunan sumur bor berada pada berbagai tahapan, mulai dari persiapan, mobilisasi peralatan, pengeboran, hingga penyelesaian dan pemanfaatan oleh masyarakat.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa penyediaan air bersih merupakan prioritas utama dalam penanganan pascabencana karena berkaitan langsung dengan kesehatan, kenyamanan, dan keberlangsungan aktivitas sosial masyarakat.
“Pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut perbaikan infrastruktur yang rusak, tetapi juga memastikan masyarakat kembali mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasar, terutama air bersih. Fasilitas ibadah, layanan kesehatan, dan hunian sementara harus segera berfungsi normal agar warga dapat kembali beraktivitas secara aman dan layak,” ujar Menteri Dody.
Progres di Aceh Tamiang
Di Kabupaten Aceh Tamiang, sebanyak lima sumur bor dangkal telah selesai 100 persen dan dimanfaatkan masyarakat. Lokasi tersebut meliputi Polindes Meunasah Paya dan Puskesmas Manyak Payed di Kecamatan Manyak Payed, Puskesmas Karang Baru serta Masjid Babul Falah di Kecamatan Karang Baru, dan Masjid Baitul Amal di Kecamatan Sekerak.
Selain itu, pembangunan sumur bor dalam masih terus berlangsung. Pengeboran terdalam tercatat di Puskesmas Bendahara dengan kedalaman mencapai 85 meter, disusul Puskesmas Rantau sedalam 65 meter, serta Desa Alur Manis, Kecamatan Rantau dengan kedalaman 35 meter. Di Kecamatan Kota Kuala Simpang, pengeboran di Puskesmas Kuala Simpang telah mencapai 45 meter, sementara sumur bor dalam di Desa Kota Lintang telah rampung dan dimanfaatkan masyarakat.
Di Kecamatan Karang Baru, pengeboran sumur bor dalam di Puskesmas Karang Baru telah mencapai 47 meter. Sementara di Kantor Datok Alur Bemban, pekerjaan sumur bor dalam baru dimulai dengan kedalaman awal 6 meter setelah dilakukan survei geolistrik. Beberapa lokasi lainnya masih berada pada tahap persiapan dan mobilisasi alat.
Progres di Pidie Jaya
Di Kabupaten Pidie Jaya, sejumlah sumur dangkal telah selesai dan digunakan masyarakat, di antaranya di Huntara 1 Kompleks Dinas Perhubungan Kecamatan Meurah Dua, Meunasah Gampong Dayah Kruet Kecamatan Meurah Dua, Meunasah Gantung Kecamatan Meureudu, Meunasah Gampong Beurawang Kecamatan Meureudu, serta Meunasah Cut Kecamatan Meureudu.
Sementara itu, pembangunan sumur bor dalam masih terus berjalan, antara lain di Huntara 2 Kecamatan Meurah Dua dengan kedalaman 14 meter, Meunasah Gampong Seunong Kecamatan Meurah Dua sedalam 35 meter, serta Kompleks Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Pidie Jaya dengan kedalaman 27 meter.
Progres di Bener Meriah
Di Kabupaten Bener Meriah, pembangunan sumur bor dalam menghadapi tantangan kondisi geografis dan teknis. Pengeboran aktif dilakukan di Huntara Desa Tunyang, Kecamatan Timang Gajah, dengan kedalaman 32 meter, serta di Dusun Sejahtera, Kecamatan Pintu Rime Gayo, yang telah mencapai 22 meter.
Adapun beberapa lokasi lainnya masih berada pada tahap survei dan kajian geolistrik, antara lain Desa Teritit dan Blang Paku Kecamatan Wih Pesam, Desa Bintang Bener Kecamatan Bener Kelipah, Desa Pemangko dan Jelobok Kecamatan Permata, serta Desa Bukit Wih Ilang dan Paya Rungkel Kecamatan Bandar.












