MITRAPOL.com, Jakarta — Dalam peringatan Hari Pers 2026, industri media massa Indonesia menghadapi tantangan serius. Sepanjang 2025, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah perusahaan media arus utama menjadi sorotan dan menambah daftar persoalan yang membayangi keberlanjutan pers nasional.
Sejumlah kalangan menilai kondisi tersebut menjadi sinyal melemahnya daya tahan industri pers, baik dari sisi bisnis maupun perannya sebagai pilar demokrasi.
Mantan Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sekaligus pendiri Forum Wartawan Kebangsaan (FWK), Hendry Ch Bangun, menyebut pers saat ini berada dalam situasi yang tidak mudah.
“Pers berada di tahun vivere pericoloso, napasnya sudah di leher. Dibutuhkan terobosan agar pers kembali menjadi pilar utama demokrasi,” ujar Hendry dalam acara Refleksi Hari Pers 2026 di Gedung Evident Institute, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (13/2/2026).
Kondisi dan masa depan pers menjadi topik utama dalam forum diskusi tersebut. Sejumlah wartawan senior dan praktisi media hadir untuk membahas strategi memperkuat kembali peran pers di tengah tekanan ekonomi dan disrupsi teknologi.
Dalam kesempatan itu, diluncurkan buku Connecting Media Massa: Transformasi TV Berita di Era Mediamorfosis karya Taufan Hariyadi, praktisi media dan produser senior tvOne yang juga akademisi.
Dalam bukunya, Taufan memprediksi televisi berita arus utama akan berperan sebagai lembaga validasi atas berbagai peristiwa yang beredar di ruang digital. Konsekuensinya, televisi berita berpotensi menjadi second screen bagi publik.
Taufan menilai kondisi pers saat ini dapat dilihat dari tiga aspek utama, yakni fungsi jurnalistik, teknologi, dan model bisnis.
“Kondisi media massa, terutama TV berita, berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. Fungsi persnya tidak lagi setajam dulu. Dari sisi teknologi, TV berita tertinggal dari platform digital global. Karakter TV bersifat stickiness, sementara platform global bersifat spreadable. Dari sisi bisnis, ukuran pasarnya juga terus menyusut,” ujarnya.
Menurut Taufan, televisi berita konvensional perlu menjadikan platform digital global sebagai bagian dari ekosistem media, bukan sekadar etalase distribusi dengan memotong konten siaran lalu mengunggahnya ke media sosial.
Ia memperkenalkan konsep newskestra room, yakni ruang redaksi yang tidak hanya memproduksi konten, tetapi juga memastikan strategi distribusi dan penyebaran informasi berjalan efektif.
“Newsroom ke depan harus menjadi newskestra room. Ruang redaksi yang menciptakan harmoni antara konten, kemasan, dan distribusi hingga sampai ke audiens. Jika tidak tersebar, maka akan mati,” kata Taufan.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan multikonten untuk multiplatform agar media arus utama tetap relevan di tengah derasnya arus informasi dari warganet.
Ditempat yang sama, Koordinator FWK, Raja Pane, menyatakan bahwa kondisi industri pers saat ini memang memprihatinkan di berbagai platform, tidak hanya televisi. Karena itu, komunitas pers didorong untuk terus mencari solusi agar fungsi pers sebagai pilar keempat demokrasi tetap terjaga.
Menurutnya, pers harus konsisten menyuarakan aspirasi masyarakat, bersikap kritis terhadap penyelenggara negara, serta menjaga kemerdekaan pers demi kemajuan bangsa.
Dalam konteks tersebut, kerja sama dengan lembaga riset seperti Evident Institute dinilai penting untuk memperkuat kajian dan merumuskan strategi menghadapi tantangan industri media yang semakin kompleks, pungkasnya.












