MITRAPOL.com, Jakarta — Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) dan Evident Institute resmi menjalin kerja sama penelitian guna mencari solusi atas tantangan industri pers nasional di tengah disrupsi digital.
Kolaborasi ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan Refleksi Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dan bedah buku Connecting Media Massa yang sebelumnya digelar di Jakarta.
Koordinator FWK, Raja Parlindungan Pane, bersama Executive Director Evident Institute, Rinatania Anggraeni Fajriani, S.E., M.Sc., Ph.D. Cand., menyatakan bahwa kerja sama tersebut bertujuan mengkaji kehidupan pers di masa depan, termasuk strategi transformasi dan adaptasi media di era digital.
“Kerja sama ini penting untuk bersama-sama mencari solusi atas tantangan berat yang dihadapi pers nasional,” ujar Raja dalam keterangan di Jakarta, Jumat (13/2).
Transformasi Industri TV Berita
Penulis buku Connecting Media Massa, Taufan Hariyadi, menilai industri televisi berita nasional dan media global saat ini masih berupaya menemukan formula terbaik dalam menghadapi disrupsi digital.
Menurutnya, sejumlah manajemen media masih terjebak dalam sikap kontradiktif: menganggap platform global sebagai ancaman terhadap bisnis, namun di sisi lain memanfaatkannya tanpa strategi yang jelas.
“Media global pun hingga kini masih dalam tahap mencari formula terbaik,” ujar Taufan, yang juga dosen tetap Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) Jakarta.
Ia menambahkan, transformasi media tidak cukup hanya menghadirkan saluran distribusi baru, tetapi harus menyentuh perubahan budaya kerja redaksi.
Berdasarkan riset yang dilakukannya sejak 2019 tentang konvergensi media di lingkungan tempatnya bekerja, Taufan menemukan bahwa konvergensi sering kali berhenti sebagai “saluran baru”, bukan menjadi sistem kerja yang terintegrasi.
“Saat ini konvergensi masih setengah hati,” ujar pemegang sertifikat Jurnalis Utama Dewan Pers tersebut.
Melalui bukunya, Taufan mengusulkan transformasi ruang redaksi menjadi konsep newskestra, yakni newsroom yang tidak hanya memproduksi konten, tetapi juga mengelola distribusi dan orkestrasi multiplatform secara terintegrasi.
Perubahan Pola Konsumsi Berita
Dalam forum yang sama, mantan Wakil Ketua Dewan Pers periode 2019–2022, Hendry Ch Bangun, menyampaikan refleksi terkait dinamika konsumsi informasi masyarakat Indonesia.
Menurutnya, pola masyarakat dalam memperoleh berita terus berubah seiring perkembangan teknologi digital dan kemunculan platform baru.
Ia mengungkapkan bahwa pada 2021 Dewan Pers bersama Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) pernah melakukan penelitian yang menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap media konvensional masih relatif tinggi. Namun saat itu, platform seperti TikTok mulai dimanfaatkan sebagai sumber informasi.
“Dalam beberapa tahun terakhir, situasinya berubah cepat. Media sosial kini menjadi sumber utama masyarakat mendapatkan berita. TikTok yang sebelumnya berada di peringkat bawah, kini bisa jadi sudah di posisi teratas,” ujar mantan wartawan Harian Kompas tersebut.
Sejumlah studi global juga menunjukkan penggunaan media digital semakin mengambil alih peran media televisi konvensional dalam distribusi informasi.
Karena itu, Hendry menilai kerja sama FWK dan Evident Institute penting untuk memperbarui riset terdahulu dan menghasilkan rekomendasi berbasis data bagi masa depan pers nasional.












