MITRAPOL.com, Nabire, Papua Tengah – Sebagai bagian dari upaya membantu masyarakat untuk memperoleh kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau sekaligus mendukung program ketahanan pangan, Korem 173/PVB Nabire menggelar pasar murah, Selasa (22/9/2026)
Komandan Korem (Danrem) 173/PVB, Brigjen TNI Vivin Alivianto, S.I.P., mengatakan, program ketahanan pangan TNI diwujudkan melalui berbagai kegiatan, termasuk pengembangan batalion teritorial pembangunan yang memiliki unsur kompi pembangunan, perikanan, dan pertanian.
“Secara nyata, TNI memang memiliki program ketahanan pangan. Salah satunya melalui pembentukan batalion teritorial pembangunan yang di dalamnya terdapat kompi pembangunan, kompi perikanan, dan kompi pertanian,” ujar Vivin.
Dalam kegiatan pasar murah tersebut, TNI menggandeng pelaku usaha di bidang pertanian, kebutuhan pokok, serta UMKM. Menurut Vivin, kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
“Kami merangkul para pelaku usaha di bidang pertanian maupun usaha kebutuhan pokok untuk berpartisipasi. Intinya adalah meringankan masyarakat, sehingga masyarakat bisa memperoleh kebutuhan dengan harga yang lebih murah dan terjangkau,” katanya.
Selain pasar murah, Vivin menyoroti keterlibatan Orang Asli Papua (OAP) dalam kegiatan UMKM, Vivin menyebut, dari pelaku UMKM yang terlibat dalam kegiatan tersebut, baru satu pelaku usaha yang merupakan OAP.
Menurut Vivin, TNI terus berupaya mendorong keterlibatan masyarakat asli Papua untuk terlibat dalam berbagai program pemberdayaan, termasuk pelatihan di sektor pertanian.
“Kami berharap dapat mengikutsertakan orang-orang asli di sini, kami juga melatih putra-putra daerah melalui program di batalion teritorial pembangunan agar mereka bisa terlibat dan berkembang,” ujarnya.
Vivin mengatakan, perubahan pola pikir dan kebiasaan dalam bercocok tanam membutuhkan proses dan pelatihan itu diharapkan dapat menjadi contoh dan membantu memberikan pengetahuan kepada masyarakat lainnya.
“Anak-anak daerah yang sudah dilatih nantinya bisa menjadi duta untuk melatih rekan-rekan kita yang merupakan masyarakat asli di sini,” katanya.
Vivin juga menyebut ketersediaan air masih menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan sektor pertanian di wilayah tersebut.
“Kendalanya sekarang juga air. Kita bisa mencangkul, tetapi kalau tidak ada air, tentu sulit. Namun, lama-lama kita akan bisa mencapai itu,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat dapat bekerja sama dengan TNI dalam mengembangkan sektor pertanian, mulai dari proses awal hingga menghasilkan produk yang dapat memberikan nilai ekonomi.
“Kalau diajak, kita mau bersama-sama. Kita pandu dari mulai awal sampai jadi,” pungkasnya.
Sementara itu, terkait kesiapan satuan TNI di Papua Tengah, Vivin mengatakan sejumlah persiapan telah dilakukan. Saat ini, proses tersebut antara lain mencakup penyediaan lahan dan fasilitas pendukung.
Menurutnya, penataan personel dan fasilitas akan dilanjutkan setelah struktur komando dan organisasi dinyatakan siap.












