Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Berawal dari Touring Keluarga, MRC Kini Jelajahi Berbagai Destinasi

Madalin
×

Berawal dari Touring Keluarga, MRC Kini Jelajahi Berbagai Destinasi

Sebarkan artikel ini
anja Rider Community (MRC) saat melakukan touring adventure menjelajahi berbagai destinasi wisata di Jawa Barat dan Banten.
Manja Rider Community (MRC) menjadikan touring sebagai sarana mempererat persaudaraan sekaligus mengenalkan potensi wisata alam dan budaya di berbagai daerah. (Foto: Istimewa)

MITRAPOL.com, Jakarta – Perjalanan menggunakan sepeda motor tidak selalu identik dengan kecepatan maupun jarak tempuh.

Bagi Manja Rider Community (MRC), setiap perjalanan justru menjadi sarana mempererat persaudaraan, menikmati keindahan alam, mengenal budaya lokal, hingga menemukan berbagai destinasi wisata yang belum banyak dijamah.

Komunitas rider yang berkembang di kawasan Jabodetabek ini lahir dari sebuah perjalanan sederhana yang dilakukan dalam lingkup keluarga.

Kini, MRC telah berkembang menjadi wadah bagi puluhan penghobi touring adventure yang memiliki semangat sama untuk menjelajah berbagai wilayah di Pulau Jawa.

Ketua MRC, Jihan Ibnu, menuturkan bahwa perjalanan komunitas tersebut bermula pada 2015 saat dirinya bersama sang istri, Ericha Putri, rutin melakukan touring menuju sejumlah daerah seperti Puncak, Cariu, hingga Sukabumi.

Kebiasaan tersebut kemudian berkembang ketika Wira Fernandez, yang merupakan sepupu dekat Jihan, ikut bergabung dalam perjalanan.

Dari yang awalnya hanya tiga orang, MRC terus bertumbuh hingga kini memiliki sekitar 40 anggota yang berasal dari berbagai wilayah Jabodetabek.

Menurut Jihan, filosofi komunitas bukan sekadar mencapai tujuan akhir, melainkan menikmati seluruh proses perjalanan.

Mulai dari jalur yang dilintasi, panorama alam, lokasi istirahat, kuliner daerah, hingga interaksi dengan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap touring.

Berbagai destinasi seperti pantai, pegunungan, kawasan adat, objek wisata, homestay, hotel, vila, restoran, hingga kafe menjadi bagian dari pengalaman yang terus didokumentasikan dalam setiap perjalanan.

Semangat kebersamaan menjadi identitas utama MRC.

Komunitas ini membawa slogan “Tetap Satu Keluarga” sebagai simbol bahwa seluruh anggota merupakan bagian dari satu keluarga besar, tanpa membedakan latar belakang maupun profesi.

Di sisi lain, identitas “MRC – No One Knows” dihadirkan untuk menggambarkan karakter petualangan yang menjadi ciri khas komunitas tersebut.

Konsep tersebut memberikan ruang bagi para anggota untuk menikmati sensasi menjelajah jalur-jalur baru yang belum banyak diketahui orang.

Selama bertahun-tahun, berbagai dokumentasi perjalanan berhasil dikumpulkan, mulai dari panorama pegunungan, kawasan pesisir, jalur off-road hingga kawasan adat yang memiliki nilai budaya tinggi.

Dalam kurun waktu 2015 hingga 2026, MRC telah menjelajahi berbagai daerah di Jawa Barat maupun Banten.

Di wilayah Bogor, perjalanan mereka mencakup kawasan Puncak, Cisarua, Ciloto, Cipanas, Leuwiliang, Cariu, Gunung Batu, Cianten, Kebun Teh Nirmala, Cikaniki hingga Citalahab.

Sementara di Provinsi Banten, komunitas ini telah mengunjungi Pantai Carita, Pantai Tanjung Lesung, Ujung Kulon, Pulau Panaitan, Pulau Peucang, Anak Gunung Krakatau, Pantai Bagedur, Citorek hingga Sawarna.

Adapun di Sukabumi, destinasi yang pernah disinggahi antara lain Pelabuhan Ratu, Cikidang, Kasepuhan Sinaresmi, Cipta Mulya, Ciptagelar, Gelaralam, Ciletuh, Situ Gunung, Pondok Halimun, Selabintana, Goa Buniayu hingga Ujung Genteng.

Perjalanan komunitas juga telah menjangkau Cianjur, Bandung, Ciwidey, Rancabali, Pangandaran, Tasikmalaya, Ciamis, Subang, Ciater hingga kawasan Gunung Tangkuban Perahu.

Meski telah menjelajahi banyak wilayah, kawasan adat Baduy di Provinsi Banten masih menjadi salah satu destinasi yang masuk dalam daftar perjalanan berikutnya.

Seiring bertambahnya jumlah anggota, MRC membentuk struktur organisasi sederhana agar setiap perjalanan berjalan aman dan tertata.

Selain Jihan Ibnu sebagai Ketua, terdapat Nurul Kurnaen sebagai Juru Bicara, Wira Fernandez sebagai Koordinator Tim Peralatan dan Dokumentasi, Arifin Ghetto sebagai Koordinator Tim Sapu Jagad, serta Iwan Peyek sebagai Koordinator Tim Rute Perjalanan dan Evakuasi.

Bidang kesehatan dikoordinasikan oleh dr. Estetika Yuli Asterini, Sp.FK, sedangkan urusan mekanik dipercayakan kepada Zidan-Zikra.

Beberapa nama anggota lain yang turut menjadi bagian perjalanan komunitas di antaranya Oktaziska, Jumala, Setiawan, Fariz, almarhum Bambang Pramono, dan Bunyamin.

Menurut Jihan, setiap anggota memiliki peran penting dalam membangun kekompakan selama perjalanan.

Selain aktif melakukan touring, MRC juga menjalin hubungan pertemanan dengan berbagai komunitas rider lainnya.

Jihan menyebut hubungan tersebut terbangun melalui jejaring komunitas seperti Indonesia Ride Adventure (IRA), MBC Bogor, Void Chapter Bogor, dan Ontahood Chapter Bogor.

Hubungan tersebut bersifat sebagai jaringan pertemanan antarkomunitas dan bukan merupakan bentuk kerja sama kelembagaan secara resmi.

MRC juga mengembangkan identitas visual yang menggambarkan karakter adventure.

Logo komunitas berbentuk perisai dengan dominasi warna hitam dan oranye, disertai tulisan Motor Manja Rider Community.

Selain logo, komunitas ini juga memiliki berbagai desain jersey, banner, ilustrasi motor adventure, hingga identitas visual bertema pegunungan, kompas, dan jalur eksplorasi.

Berbagai desain tersebut menjadi simbol semangat petualangan yang terus dibangun oleh komunitas.

Hingga September 2026, menurut Jihan, MRC masih berada dalam tahap pengembangan komunitas dan belum berbadan hukum.

Meski demikian, komunitas tersebut terus berkembang sebagai wadah bagi para rider yang memiliki hobi touring, eksplorasi alam, dan menjalin persaudaraan.

Bagi MRC, sepeda motor bukan sekadar alat transportasi, tetapi menjadi media untuk mengenal banyak tempat, bertemu berbagai karakter masyarakat, serta belajar menghargai alam dan budaya yang ditemui selama perjalanan.

Jihan menegaskan bahwa nilai utama komunitas bukan terletak pada tujuan akhir, melainkan pada proses kebersamaan yang terbangun selama perjalanan.

“Bagi kami, motor hanyalah sarana. Yang paling penting adalah persaudaraan, pengalaman, saling membantu, dan kebersamaan yang terus terjaga dalam setiap perjalanan,” ujar Jihan.

Semangat itu kemudian dirangkum dalam slogan yang terus dibawa komunitas hingga saat ini:

“MRC – No One Knows. Huuu Haaa! Gaspol… Tetap Satu Keluarga!”