MITRAPOL.com, Dharmasraya – Rumah Baca Marenda menggelar Lomba Manjujai Anak bertajuk “Dendang Kasih, Warisan Budaya” di Auditorium Dara Jingga Universitas Dharmas Indonesia (UNDHARI), Kabupaten Dharmasraya, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dan melestarikan tradisi Manjujai, seni bertutur dan mendendangkan syair untuk anak yang berkembang dalam budaya Minangkabau.
Festival yang mendapat dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat melalui program fasilitasi kebudayaan 2026 itu diikuti 35 peserta yang tergabung dalam 14 grup Bundo Kanduang dari sejumlah nagari di Kabupaten Dharmasraya.
Pendiri sekaligus Ketua Rumah Baca Marenda, Dr. Amar Salahuddin, M.Pd., mengatakan Manjujai tidak hanya berkaitan dengan aktivitas menidurkan anak, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan kasih sayang, doa, nasihat, bahasa, nilai agama, dan pendidikan karakter.
“Manjujai bukan hanya tentang menidurkan anak, tetapi tentang bagaimana kasih sayang, doa, petuah, bahasa, dan nilai budaya ditanamkan sejak dini. Tradisi ini harus kembali mendapat ruang agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Amar.
Dalam perlombaan tersebut, peserta tampil menggunakan busana tradisional Minangkabau dan membawakan Manjujai melalui dendang, pantun, petuah, doa, hingga lantunan ayat suci Al-Qur’an.
Kepala Dinas Budparpora Kabupaten Dharmasraya, H. Reno Lazuardi, S.Pd., M.Si., mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan masyarakat agar tradisi lokal tetap dipraktikkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Manjujai merupakan kekayaan budaya yang harus kita jaga, hidupkan, dan wariskan. Kegiatan seperti ini menjadi bagian penting dalam memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya daerah,” ujarnya.
Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, Nagari Sopan Jaya meraih Juara I. Posisi Juara II diraih Nagari Sungai Dareh, sedangkan Juara III diraih Nagari Koto Baru.
Sementara itu, Harapan I diraih Nagari Abai Siat, Harapan II Nagari Ampang Kuranji, dan Juara Favorit diraih Nagari Sungai Kambut.
Amar mengatakan kegiatan tersebut tidak semata-mata berorientasi pada perlombaan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga keberlangsungan tradisi Manjujai.
“Festival ini bukan semata tentang siapa yang menjadi juara, tetapi tentang ikhtiar bersama menjaga agar dendang kasih Manjujai tidak hilang ditelan zaman,” katanya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, UNDHARI, Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat, Bundo Kanduang, LKAAM, para wali nagari, peserta, panitia, serta seluruh pihak yang mendukung kegiatan tersebut.
Melalui kegiatan itu, Rumah Baca Marenda berharap pelestarian literasi dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya, termasuk menjaga tradisi lisan Minangkabau agar tetap dikenal dan dipraktikkan oleh generasi muda.












