MITRAPOL.com, Jakarta – Pemerintah menegaskan komitmennya menjaga stabilitas harga minyak goreng menjelang Idulfitri di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat selama bulan Ramadhan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa minyak goreng tidak boleh dijual dengan harga tinggi apalagi hingga menimbulkan kelangkaan di masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Mentan melakukan inspeksi mendadak di Pasar Kebayoran, Jakarta. Dalam sidak tersebut, ditemukan produk minyak goreng rakyat MinyaKita dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.
Mentan menilai kondisi tersebut sebagai anomali harga di pasar domestik, mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai sekitar US$24,42 miliar atau meningkat 21,83 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sejalan dengan upaya pemerintah menstabilkan harga, PT Perkebunan Nusantara III (Persero) melalui subholding PTPN IV PalmCo memastikan pasokan minyak goreng tetap tersedia dengan harga terjangkau di tingkat distributor.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa, menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen mendukung program pemerintah dalam menjaga stabilitas harga minyak goreng menjelang Lebaran.
“Sebagai BUMN di sektor perkebunan sawit, kami memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk memastikan masyarakat dapat menjalani ibadah puasa hingga menyambut Idulfitri tanpa terbebani lonjakan harga minyak goreng,” ujar Jatmiko. Minggu (8/3).
Ia menjelaskan, anak perusahaan PalmCo yaitu PT Industri Nabati Lestari memproduksi minyak goreng program pemerintah MinyaKita dengan harga sekitar Rp13.439 per liter pada tingkat distributor atau skema Business to Business (B2B).
Harga tersebut, kata Jatmiko, diberikan kepada mitra distributor agar tetap tersedia margin yang cukup sehingga harga di tingkat konsumen dapat dijaga sesuai HET Rp15.700 per liter.
Selain menjaga stabilitas harga, PalmCo juga meningkatkan produksi minyak sawit dan minyak goreng untuk memastikan ketersediaan pasokan menjelang puncak konsumsi Lebaran.
Produksi Crude Palm Oil (CPO) perusahaan ditargetkan meningkat lebih dari 10,5 persen menjadi sekitar 225.940 ton pada April 2026. Sementara produksi minyak goreng ritel melalui PT Industri Nabati Lestari ditargetkan mencapai sekitar 4,2 juta liter pada Maret 2026 dan meningkat menjadi lebih dari 4,55 juta liter pada April 2026.
Menurut Jatmiko, saat ini seluruh kapasitas produksi pabrik difokuskan untuk produksi MinyaKita guna memastikan pasokan tetap stabil di pasaran.
“Kami bahkan menunda sementara produksi beberapa merek komersial internal perusahaan agar kapasitas produksi sepenuhnya mendukung ketersediaan MinyaKita bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui pengawasan pemerintah dan dukungan pasokan dari BUMN sektor perkebunan, diharapkan harga minyak goreng di pasaran tetap stabil sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau selama Ramadhan hingga Idulfitri.












