Scroll untuk baca artikel
Nusantara

Pemprov Lampung Dorong Hilirisasi Gabah, Bed Dryer 20 Ton Bantu Petani Tingkatkan Nilai Jual Panen

Admin
×

Pemprov Lampung Dorong Hilirisasi Gabah, Bed Dryer 20 Ton Bantu Petani Tingkatkan Nilai Jual Panen

Sebarkan artikel ini
Pemprov Lampung Dorong Hilirisasi Gabah
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meninjau pemanfaatan bed dryer di Pekon Sumber Agung, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, Jumat (14/8/2026).

MITRAPOL.com, Pringsewu — Pemerintah Provinsi Lampung mendorong hilirisasi hasil pertanian dari tingkat desa melalui pemanfaatan mesin bed dryer. Fasilitas pengering gabah berkapasitas hingga 20 ton tersebut diharapkan membantu petani mempercepat proses pengeringan, menjaga kualitas panen, sekaligus meningkatkan nilai jual.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meninjau pemanfaatan bed dryer di Pekon Sumber Agung, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, Jumat (14/8/2026).

Mesin tersebut dikelola Kelompok Tani Sumber Tani 8 dan terintegrasi dengan pengelolaan pabrik terpadu di Pekon Sumber Agung.

Mirza mengatakan, keberadaan fasilitas pengering menjadi bagian penting untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap penjemuran manual yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca.

“Sekarang karena sudah untung kita mau tambah lagi untungnya. Kita buat pengering,” ujar Mirza saat berdialog dengan petani.

Ketua Kelompok Tani Sumber Tani 8, Andi Lala, mengatakan sebelum memiliki bed dryer, petani mengandalkan lantai jemur dan terpal. Proses tersebut membutuhkan waktu beberapa hari dan dapat berlangsung lebih lama ketika hujan.

Dengan kapasitas hingga 20 ton, penggunaan bed dryer diperkirakan dapat memangkas waktu pengeringan menjadi sekitar 10–12 jam.

Percepatan tersebut dinilai dapat membantu petani menjaga kualitas gabah sekaligus mengurangi risiko penurunan mutu akibat terlalu lama menunggu cuaca cerah.

Gabah yang telah dikeringkan juga memiliki daya simpan lebih panjang. Kondisi ini memberikan pilihan bagi petani untuk tidak langsung menjual hasil panen ketika harga sedang kurang menguntungkan.

Pemprov Lampung juga mendorong agar pemanfaatan bed dryer tidak berhenti pada proses pengeringan. Gabah yang telah memenuhi standar dapat dilanjutkan ke tahap pengolahan menjadi beras.

Produk samping seperti bekatul dan sekam juga berpotensi dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pakan dan pupuk.

“Selain itu bisa langsung dilakukan hilirisasi. Yang tadinya cuma jual gabah karena sudah kering bisa dijadikan beras, dapat katul, dapat sekam,” kata Mirza.

Menurutnya, pola tersebut sejalan dengan program Desaku Maju untuk mendorong pengembangan agroindustri dan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian di tingkat desa.

Pengelola pabrik terpadu, Wargito, menjelaskan bahwa proses pengeringan dan pengolahan dirancang menjadi satu rangkaian. Setelah dikeringkan oleh kelompok tani, gabah dapat diproses lebih lanjut menjadi beras sehingga nilai tambah ekonomi dapat tetap berada di desa.

Mirza juga menilai pengeringan gabah di sentra produksi dapat meningkatkan efisiensi distribusi. Gabah dengan kadar air tinggi membuat petani harus mengangkut beban yang lebih berat.

“Yang tadinya harus bawa mobil 10 ton atau 20 ton, karena tidak perlu bawa air, jadi cuma bawa 5 ton atau 7 ton,” ujarnya.

Selain menekan beban angkutan, efisiensi tersebut dinilai berpotensi mengurangi frekuensi kendaraan berat yang melintas di jalan desa.

Pemprov Lampung selanjutnya mendorong pengelola mengoptimalkan mesin tersebut, termasuk membuka layanan pengeringan bagi petani di sekitar Sumber Agung.

Pemerintah juga mendorong desa menyiapkan gudang atau lumbung pangan agar hasil pertanian dapat disimpan, diolah, dan dipasarkan secara lebih terencana.

Dengan demikian, bantuan bed dryer diharapkan tidak sekadar mempercepat pengeringan gabah, tetapi menjadi bagian dari rantai hilirisasi pertanian yang mencakup produksi, pengeringan, penyimpanan, pengolahan hingga pemasaran.

Langkah tersebut diharapkan meningkatkan nilai tambah hasil panen, memperluas pasar, serta membuat manfaat ekonomi sektor pertanian lebih banyak dirasakan petani dan masyarakat desa di Lampung.