Scroll untuk baca artikel
Nusantara

CBG PalmCo dan reNIKOLA Diserap Pertagas Niaga, Investasi Capai US$45 Juta

Admin
×

CBG PalmCo dan reNIKOLA Diserap Pertagas Niaga, Investasi Capai US$45 Juta

Sebarkan artikel ini
CBG PalmCo dan reNIKOLA Diserap Per-tagas Niaga, Investasi Capai US$45 Juta

MITRAPOL.com, Jakarta — Pengembangan energi terbarukan berbasis limbah kelapa sawit memasuki tahap komersial setelah PT reNIKOLA Primer Energi (PT RPE) menandatangani perjanjian penjualan compressed biomethane gas (CBG) jangka panjang dengan PT Pertagas Niaga (PTGN).

CBG tersebut diproduksi dengan memanfaatkan limbah dari delapan pabrik kelapa sawit milik PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV PalmCo). PTGN, anak usaha PT Pertamina Gas (Pertagas), akan bertindak sebagai offtaker atau penyerap CBG yang dihasilkan.

Pengembangan delapan klaster fasilitas CBG tersebut diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$45 juta. Setelah seluruh fasilitas beroperasi, proyek ini diproyeksikan menghasilkan energi terbarukan lebih dari 830.000 MMBtu per tahun.

Perjanjian penjualan CBG tersebut memiliki masa kontrak selama 15 tahun. Gas terbarukan yang dihasilkan nantinya akan disalurkan kepada konsumen industri melalui jaringan distribusi gas bumi yang telah beroperasi.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan kerja sama tersebut menjadi bagian dari penerapan konsep ekonomi sirkular dengan mengubah limbah kelapa sawit menjadi sumber energi bernilai ekonomi.

“Kolaborasi ini mencerminkan komitmen kami untuk meningkatkan keberlanjutan operasional sekaligus menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang ada. Dengan mengubah emisi metana dari limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi energi terbarukan, kami menunjukkan bagaimana industri kelapa sawit dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi pembangunan rendah karbon di Indonesia,” ujar Jatmiko dalam keterangan tertulis.

Direktur Strategy & Sustainability PTPN IV PalmCo Ugun Untaryo mengatakan pengembangan delapan fasilitas CBG tersebut merupakan bagian dari roadmap dekarbonisasi perusahaan.

Menurutnya, kerja sama antara pemasok bahan baku, pengembang teknologi, dan offtaker menjadi bagian penting dalam membangun rantai pasok biometana yang berkelanjutan secara bisnis.

“Integrasi pengolahan limbah sawit ini sejalan dengan target nasional dalam mencapai Net Zero Emission. Kerja sama antara penyuplai bahan baku, pengembang teknologi dari reNIKOLA, serta offtaker dari Pertagas Niaga membuktikan bahwa transisi energi di sektor sawit dapat dieksekusi secara terukur dan berkelanjutan secara bisnis,” tuturnya.

Untuk mendukung distribusi, Pertagas berencana mengembangkan stasiun injeksi biometana di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei.

Fasilitas tersebut dirancang untuk menghubungkan pasokan CBG dari pabrik kelapa sawit dengan jaringan distribusi gas nasional. Dengan skema tersebut, CBG dapat diintegrasikan ke jaringan gas yang telah tersedia dan selanjutnya disalurkan kepada konsumen industri.

Chief Operating Officer reNIKOLA Dr. Amran Yusof mengatakan model kerja sama hulu-hilir tersebut dapat menjadi salah satu penggerak pengembangan pasar gas terbarukan di Indonesia.

“Perjanjian ini merupakan tonggak penting dalam upaya kami untuk menggali potensi nilai biometana di Indonesia. Dengan mempertemukan pemasok bahan baku, penyedia infrastruktur gas, dan permintaan pasar jangka panjang, kami membangun ekosistem biometana yang dapat dikembangkan secara luas,” kata Amran.

Direktur Utama PTGN Toto Yulianto menilai gas terbarukan dapat menjadi salah satu pilihan bagi sektor industri yang membutuhkan sumber energi rendah karbon.

“Gas terbarukan memiliki peran penting dalam mendukung transisi energi Indonesia, khususnya bagi konsumen industri yang membutuhkan solusi energi rendah karbon,” ujarnya.

Secara teknis, fasilitas CBG memanfaatkan Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair pabrik kelapa sawit sebagai sumber bahan baku.

Gas metana yang dihasilkan dari proses penguraian POME ditangkap dan diolah menjadi biometana terkompresi sehingga tidak dilepaskan langsung ke atmosfer.

Proyek delapan klaster tersebut diperkirakan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 320.000 ton setara CO₂ per tahun.

Berdasarkan perhitungan yang disampaikan dalam keterangan perusahaan, pengurangan emisi tersebut disebut setara dengan menghindari pembakaran sekitar 161 juta kilogram batu bara per tahun.

Selain dampak lingkungan, proyek tersebut diproyeksikan menciptakan lapangan kerja berbasis lingkungan atau green jobs selama tahap konstruksi dan operasional serta mendorong keterlibatan rantai pasok lokal di sekitar wilayah perkebunan.