MITRAPOL.com, Tulang Bawang – Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, meninjau pemanfaatan bantuan mesin pengering gabah (bed dryer) Tahun Anggaran 2025 di Kampung Wono Agung, Kecamatan Rawa Jitu Selatan, Kabupaten Tulang Bawang, Rabu (24/6/2026).
Kunjungan kerja tersebut dilakukan untuk memastikan program hilirisasi pertanian berjalan optimal dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan petani, khususnya di sentra produksi padi di Provinsi Lampung.
Bantuan bed dryer berkapasitas 20 ton tersebut diproyeksikan mampu mendukung pengeringan gabah hingga 850 ton di wilayah Rawa Jitu Selatan. Kehadiran teknologi pengering gabah ini diharapkan menjadi solusi atas persoalan yang selama ini dihadapi petani, terutama saat panen raya ketika keterbatasan alat pengering menyebabkan harga gabah cenderung turun.
“Semua petani punya persoalan yang sama. Saat panen raya, semua mencari dryer. Karena jumlahnya terbatas, harga gabah akhirnya jatuh,” ujar Gubernur Mirza saat berdialog dengan para petani.
Menurutnya, selama ini petani di Tulang Bawang harus mengeluarkan biaya logistik tambahan karena gabah basah hasil panen dibawa ke Lampung Selatan untuk dikeringkan, kemudian diangkut kembali ke Tulang Bawang.
Dengan beroperasinya bed dryer di Rawa Jitu Selatan, petani kini dapat memanfaatkan jasa pengeringan dan penggilingan secara lebih efisien. Melalui mekanisme upah giling sekitar Rp300 per kilogram, gabah kering panen (GKP) dapat diolah menjadi gabah kering giling (GKG) yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Harga gabah yang sebelumnya berkisar Rp6.500 hingga Rp7.000 per kilogram dalam kondisi basah, kini berpotensi meningkat menjadi sekitar Rp8.500 per kilogram setelah melalui proses pengeringan.
Selain mendorong hilirisasi pertanian, Pemerintah Provinsi Lampung juga berupaya meningkatkan produktivitas lahan melalui program distribusi Pupuk Hayati Cair secara gratis kepada petani.
Berdasarkan hasil uji coba di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Mesuji, penggunaan pupuk hayati cair mampu meningkatkan produktivitas padi dari rata-rata 5 ton menjadi sekitar 7 ton per hektare.
“Program pupuk hayati cair ini akan dibagikan ke seluruh desa di Provinsi Lampung secara gratis untuk petani. Satu fasilitas pupuk hayati cair bisa dimanfaatkan untuk sekitar 800 hektare lahan,” kata Gubernur.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Mirza juga meminta Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang mendorong pelaku usaha tani lokal untuk mengembangkan produk beras dengan merek dagang khas Tulang Bawang guna memperkuat identitas komoditas daerah dan meningkatkan daya saing di pasar nasional.
Selain sektor pertanian, kunjungan kerja tersebut dimanfaatkan untuk menyerap aspirasi masyarakat terkait infrastruktur.
Menanggapi keluhan warga mengenai kerusakan jalan sepanjang 57 kilometer yang berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan disebut telah mengalami kerusakan selama puluhan tahun, Gubernur berjanji akan mengawal upaya perbaikannya melalui sinergi lintas sektor pada sisa tahun anggaran 2026.
“Harapan saya, petani Lampung semakin makmur, sejahtera, dan berdaulat,” ujar Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.












